Penderitaan Indonesia Harus Dibebaskan

0
140
M Yudhie Haryono

Oleh Prof M Yudhie Haryono, Ph.D
Direktur Eksekutif Nusantara Centre

 

 
Seringkali nyawa kita tak ada harganya. Juga nyawa orang-orang yang kita cinta. Mereka diambil begitu saja. Saat kita sangat bergantung kepadanya. Lalu, biasanya ribuan rintang menghadang. Jutaan problem terbentang. Sakit dan penyakit antri, memasukkan kita ke rumah sakit. Fitnah dan caci bertumbuh. Harta hilang. Cita-cita melayang. Begitulah, dengan sangat kurang ajar Tuhan, hantu dan hutan memporak-poranda jalannya.

Karenanya, memilih jalan merdeka adalah pilihan kesunyian. Sepi penolong, sepi pelindung. Tan Malaka berucap, “barang siapa yang menghendaki kemerdekaan buat negaranya, maka ia harus sedia dan ikhlas untuk menderita pedih dalam rangka kemerdekaan dirinya sendiri dahulu.” Sebab merdeka pasti melawan dua hal: musuh eksternal dan pengkhianat internal.

Penderitaan bagi para pejuang dan revolusioner bagaikan udara yang dihirup tiap detik dalam tubuh dan jiwanya. Tapi ujungnya nanti senyum lebar. Kebanggaan keturunan. Teladan generasi. Maka, ketahuilah kawan bahwa makin menderita makin mulia posisinya. Tapi, yang menderita karena gagasan dan ide-ide besarnya. Bukan yang menderita karena jadi jongos akibat kebodohan dan kenaifannya.
Agar tidak lagi menderita dalam bernegara dan berbangsa di zaman dunia baru, maka tugas selanjutnya setelah kerja raksasa rekonstitusi adalah nasionalisasi. Sebab, apa gunanya revolusi tanpa nasionalisasi (aset strategis). Nasionalisasi adalah proses pengambilalihan
kepemilikan suatu perusahaan milik swasta atau asing yang eksploitatif oleh negara demi terciptanya keadilan ekonomi-politik. Apabila suatu perusahaan dinasionalisasi, negaralah yang bertindak sebagai pembuat keputusan. Selain itu para pegawainya menjadi pegawai negeri.

Lawan dari nasionalisasi adalah privatisasi. Tujuan nasionalisasi dalam konteks Indonesia adalah agar seluruh kekayaan Indonesia dapat diolah, dimiliki dan dinikmati oleh rakyat Indonesia sendiri. Lebih dari itu, Soekarno berharap agar tidak ada lagi exploitation de l’homme par l’homme dan exploitation de nation par nation.

Kerja raksasa berikutnya redistribusi aset nasional (tanah, gedung dan harta rampasan kolonial). Redistribusi aset nasional dalam arti luas meliputi pelaksanaan: 1)Pembaharuan hukum agraria; 2)Penghapusan hak-hak asing dan konsesi-konsesi kolonial atas tanah dan SDA; 3)Mengakhiri penghisapan feodal secara berangsur-angsur; 4)Perombakan kepemilikan dan penguasaan tanah serta hubungan hukum yang bersangkutan dengan penguasaan tanah; 5)Perencanaan persediaan dan peruntukan bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya secara berencana, sesuai dengan daya kesanggupan dan kemampuan rakyat semesta.

Kerja berikutnya penghapusan seluruh utang negara. Utang adalah penjajahan baru. Maka menghapuskannya adalah kewarasan. Penghapusan utang terjadi karena alasan hukum dan ekonomi. Alasan ekonomi terkait dengan keberlanjutan ekonomi negara debitor. Sedangkan alasan hukum terkait dengan legitimasi suatu rezim yang menyalahgunakan dana pinjaman. Kami memastikan bahwa utang negara selama ini sebagai odious debt (utang najis) atau criminal debt (utang kriminal) yang dikerjakan secara sistematis oleh para kolonialis dan disalahgunakan oleh kriminalis lokal demi kekuasaannya belaka. Karenanya wajib dihapuskan dari bumi merdeka.

Selebihnya tinggal melakukan usaha-usaha industrialisasi yang pro-rakyat miskin, memproteksinya dengan memberi subsidi sampai sehat, dan melaksanakan jaminan sosial di segala bidang: pendidikan, kesehatan, pensiunan, perumahan dan pengangguran. Inilah jalan pembunuhan penderitaan yang sesungguhnya. Anda semua setuju? Mari kita kerjakan sesegera mungkin sebelum kiyamat menjemput kebodohan Indonesia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

three × one =