Melu Edan, Kapiran, Ora Melu Edan Ora Keduman

0
190
M Yudhie Haryono

Oleh M Yudhie Haryono
Direktur Eksekutif Nusantara Centre

Kepada kalian yang masih muda, izinkan aku berbagi sebelum keputusasaan dan ajal menjemput. Ketahuilah bahwa dulu aku dan kawan-kawan bergerak dan melawan di tahun 1998 adalah karena kesadaran dan panggilan.

Kesadaran akan warisan negara postkolonial yang memberikan tradisi oligarkis, kartelis, predatoris dan kleptokratis. Panggilan akan revolusi untuk merubahnya menjadi koperasi, gotong-royong, konstitusionalis dan Pancasilais. Makanya, perang melawan empat tradisi itu harus brutal dan dramatis. Setiap jengkal harus dikuasai, bukan dikosongkan. Setiap jaman harus direbut, bukan diserahkan. Setiap waktu harus dikarbalakan, bukan dibiarkan. Setiap kader harus dicetak, bukan ditemukan. Setiap tindakan adalah kesetiaan akan keadilan dan kesejahteraan dengan memegang prinsip barisan yang sadar bahwa pertempuran dan peperangan adalah jalan menuju Tuhan: berliku dan keras; pasukan dan pengkhianatan; kalah dan menang, tetapi tetap harus dihayati sebagai never ending history.

Kita harus siap bertempur untuk seribu tahun. Kita harus ingat bahwa idealisme selalu hadir bersamaan dengan resistensi terhadap dirinya. Maka tumbuhkanlah terus. Bacalah selalu. Yakinlah bahwa apa yang kita kerjakan akan berbuah: walau harus didapatkan di hari dan tempat lain. Apalagi, tantangan dan penderitaan kita tak sebesar yang telah didapatkan para Nabi dan pahlawan. Maka malulah kalau kita mengeluh dan merengek. Pantang pulang dan tetaplah fokus melawan demi kemuliaan.

Dalam sejarah dan akhlak mulia, biarkan kuwartakan kisah dahsyat ini. Suatu kali, Muhamad berjalan-jalan di antara kemah prajurit saat perang Badar. Lalu, salah seorang sahabat nyeletuk, “Muhammad siapa orang tercerdas di antara kami?” Muhammad tersenyum dan menjawab, “yaitu yang menggunakan sisa umurnya untuk ingat mati dengan menggunakannya sebagai jihad sepanjang hayat.” Karenanya perang badar disebut juga perang “kecerdasan” yang diterjemaahkan ingat mati dengan jihad (melawan neoliberalisme). Apakah kemuliaan kita adalah karena kecerdasan kita? Ataukah kerena kebodohannya dikarenakan kita menerima saja apa yang terjadi di sekitar kita saat kesenjangan makin melebar, kegelapan makin pekat, ketakpastian ekonomi-politik makin telanjang dan kejahiliyahan makin merajalela?

Banjir kalabendu ini memang luar biasa sampai semua deposito moral dan kemuliaan kita tak bersisa. Defisit laku publik mulia terjadi kapan saja dan di mana saja: oleh siapa saja. Melu edan, kapirian. Ora melu edan, ora keduman. Tak ada lagi pelangi di mata kita. Tak ada lagi
Pancasila di hati mereka. Karenanya, tak ada pilihan lain kecuali: angkat pena dan senjata jika ingin mulia.
Kawan-kawanku, taukah kalian apa yang menggentarkan neoliberalisme? Bukan uang dan kelicikan. Bukan kecerdasan dan jaringan. Bukan kharisma dan kesaktian. Melainkan angkat pena dan senjata. Yang menusuk persis di jantung mereka. Sebab yang lainnya hanya “menampar wajah buruknya.” Karena hanya menampar wajah buruknya maka para dukun, kiai, profesor, artis, seniman, polisi dan pedagang selama ini tak pernah memenangkan pertempuran dan peperangan melawannya. Kalian tahu senjata mujarabnya? Ideologi dan konstitusi: Pancasila dan UUD 1945.
Kesadaran perang, kesadaran revolusi, kesadaran ideologi, kesadaran konstitusi, kesadaran mental, kesadaran sejarah dan kesadaran masa depan kemanusiaanlah pra-syarat kemenangan. Ya. Sadar. Sadarlah segera. Siuman dari keadaan buruk yang menimpa kita semua: rakyat miskin se-Nusantara. Aku akan menjadikan kalian pasukan kemerdekaan buat Nusantara!

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

1 × 5 =