Hilangnya Ruh Mahasiwa Di Era Reformasi

0
168
Ilustrasi Gerakan mahasiswa

dawam abadiPemalang, Harian Pemalang – Mahasiswa dalam sejarah bangsa ini sebagai penentu kemajuan, pendobrak kebuntuan zaman. Kala ketakutan terhadap penguasa dimasa Orda Baru dan kala Over  kekusaan dimasa Orde lama membuktikan betapa besarnya peran mahasiswa sehingga menghadirkan perubahan. Jauh dimasa penjajahan mahasiswa seperti Soekarno, Hatta, soepomo, Yamin dan lainya menjadi pioner perjuangan kemerdekaan yang akhirnya melahirkan kemerdekaan. Ruh idealisme adalah inti dasar menjadikannya sebagai pemabawa perubahan dari zaman ke zaman.

Era Globalisasi yang bergerak sangat cepat merambah diberbagai sektor kehidupan dewasa ini memberikan dampak luarbiasa. Liberalisasi ekonomi, politik, dan sosial menjadi sumber kebingungan dalam segala lini. Bukan hanya itu seperti ungkapan Gus Mus, Reformasi dan kebebasan yang ada membuat manusia di bangsa ini seberti burung yang lepas dari sangkar yang kebingungan mau kemana. Kehidupan dalam sangkar membuatnya buta arah. Kalau dalam sangkar makanan dan minuman disajikan begitu saja tanpa harus berusaha keras mendapatkannya.

Kebingungan ini menjalar jauh dalam segala lini kebangsaan tak terkecuali mahasiswa. Alih-alih menjadi aktor perubahan seperti dalam sejarah justru terperosok dalam rantai keculasan. Berkomplot dengan politisi dan korporasi hitam, mereka seakan menjadi martir untuk memukul musuh dalam berbagai momentum. Mahasiswa cenderung menjadi alat kepentingan tertentu.

Sementara beberapa banyak mahasiswa yang lain mencoba masuk dalam dunia usaha dengan berbagai macam alasan. Kebanyakan beralasan untuk persiapan nanti saat selesai studi di universitas. Mimpi menjadi pengusaha bukan tanpa landasan, kemudahan teknologi serta fakta nyata bagaimana pengusaha mampu mengatur jalannya roda pemerintahan. Mempengaruhi kebijakan dengan uang, entah lewat politik dan perebutan kekuasaan yang dihalalkan. Ini adalah fakta yang tidak mungkin untuk diingkari. Jalan pelarian mahasiswa ini menajdi contoh kebingungan yang dialami.

Dimana Letak Idelisame

Idealisme kini sudah dianggap sebagai perkara usang, urusan perut menjadi faktor utamanya. Keyakinan bahwa siapa yang bertahan dengan idealisme dia tidak akan dapat makan. Begitulah logika perut berjalan, jangan tanya soal idealisme jika perut belum terpenuhi. Menyingkirkan idealisme dipandang sebagai solusi mendapatkan hidup yang mapan. Padahal ini adalah kesembronoan, dengan menyingkirkan idealisme mahasiwa berarti juga mencerabut keistimewaannya dari Ke Maha-an yang dimiliki. Bukankah hanya Tuhan dan para dewa yang menyandang kata Maha selain Mahasiswa. Mengubur Idelisme sama dengan menjadi pengantar kekacauan dan kemrosotan bangsa. Membuat mereka terseret dalam lumpur kekusaan ditangan para elit. Menumpuk dosa karena membiarkan keangkaramurkaan terjadi dimana mana.

Apatisme, begitulah kiranya melihat mahasiswa sekarang memandang persoalan bangsa. Kecenderungan mereka berkumpul, berkelompok dan bergaul merupakan fenomena memerkan apa yang dimiliki, bukan apa yang harus diselesaikan atau bahkan diproduksi. Beberapa dari mereka iseng-iseng terjun dalam dunia usaha lebih banyak karena untuk bertahan hidup untuk terus survive. Tidak lain karena keterpaksaan akan biaya hidup mereka sendiri. Sehingga kecenderungan dalam usahapun mengesampingkan apa yang namanya ruh idealisme.

Harapan pada idealisme ibarat sebuah dongeng bagi kalangan mahasiswa sekarang. Dongeng sejarah yang diperankan dengan nama pahlawan. Kebiasaan instan dalam dunia teknologi membuat mahasiswa semakin susah membedakan nyata dan maya. Tidak sedikit yang terjebak didunia maya dengan segala  mimpi yang ditawarkan

Mahasiswa pemegang tongkat estafet dizaman ini rupanya sedang sakit keras. Individualisme, konsumerisme, apatisme dan uforiaisme adalah komplikasi penyakit yang diderita. Sayang sekali harapan bangsa terakhir biasanya menjadi pendobrak kebuntuan dan mengahdirkan solusi kebangsaan tengah sakit. Akankah bangsa ini bertahan dengan generasi mahasiswa sekarang. Bukankah kehancuran akan lebih parah terjadi dimana-mana.(Red.HP/Kiriman Dawamun Ni’am Alfatawi)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

eight − 7 =