Menggugat Emansipasi Perempuan

0
169
Pemalang, Harian Pemalang – Pengenalan terhadap sosok RA kartini yang diperingati setiap tanggal 21 April sudah dikenalkan kepada kaum perempuan sejak usia dini lewat PAUD. Sepertinya wajib dunia pendidikan mengenalkan Kartini sebagai pahlawan emansipasi perempuan.
Sosok yang memperjuangkan hak perempuan di masa itu melalui surat-surat yang beliau tulis. Raden Ajeng Kartini begitulah masyarakat kita mengenalnya. Sebuah perjuangan untuk hak-hak perempuan yang belum terpenuhi pada zaman itu. Terutama kebutuhan perempuan akan pendidikan yang pada zaman tersebut masih merupakan hal yang elite.
Berbeda jauh dengan sekarang, kebutuhan akan pendidikan dapat kita nikmati tanpa sebuah pembeda antara kaum hawa ataupun kaum adam. Sekarang ini, masihkah semangat Kartini tergurat dalam setiap langkah perjuangan perempuan ? kita berharap hal tersebut masih dan akan selalu tertanam dalam hati setiap insan di Indonesia. Tapi, melihat realitas yang terjadi pada diri perempuan hari ini, banyak diantara kita menutup mata bahkan acuh tak acuh terhadapnya.
Banyak kasus multidimensial yang menimpa diri perempuan itu sendiri. Kasus pelecehan seksual, poligami yang berujung pada kekerasan, bahkan TKW yang diperlakukan tidak manusiawi masih banyak dialami oleh perempuan pada saat ini. Tentulah cita dan perjuangan Kartini beserta tokoh pahlawan perempuan yang lain masih relevan untuk terus kita perjuangkan karena masih banyak hal tidak manusiawi di alami oleh kaum hawa.
Tak jarang pula banyak perempuan yang berdalih melanjutkan emansipasi dari Kartini tetapi untuk meghargai sesama kaumnya pun mereka tak mau. Bagaimana mungkin seorang perempuan mau menjebak perempuan lain dalam kasus pelecehan seksual, bagaimana mungkin seorang perempuan rela membunuh sahabat perempuannya hanya karena kecemburuan terhadap pacarnya ? pasti Kartini akan sedih, perjuangan akan hak-hak kaum perempuan yang dulu terjajah oleh dominasi laki-laki sekarang malah di gugat oleh sesama kaum perempuan itu sendiri.
Ibu yang rela menjual anaknya, mengambil bayi dari wanita lain untuk dijadikan alat penghasil rupiah, membiarkan bahkan mendorong anaknya dalam kasus pelecehan seksual. Apakah perempuan yang telah lupa dan meninggalkan naluri keibuan. Perempuan yang cerdas seperti inikah yang diharapkan Kartini ? pastilah tidak, Kartini bahkan akan menangis melihatnya. Rasanya Kartini bakal menyesali emansipasi yang telah beliau perjuangkan. Kartini berjuang untuk perempuan agar dapat berkembang dan menjadi pengayom bagi kaum laki-laki, namun banyak perempuan yang over terhadap emansipasi dan melupakan jati diri sebagai seorang welas asih, pengasih dan penyayang.
Jika dalam hal ini emansipasi menjadikan perempuan menjadi liar mungkin Kartini bakal menyesalkan emansipasinya. (Red.HP/kiriman Amirudin, ketua IKPM JATENG)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

one × one =