Renungan Hari Bumi : Bersikap Santun Pada Alam

0
264

Pemalang, Harian Pemalang – Bumi merupakan  ibu bagi manusia, menumbuhkan biji-bijian dan pepohonan. Bumi tempat dimana manusia berpijak merupakan asal dan kembali, menurut ajaran Islam manusia diciptakan dari tanah akan kembali pada tanah. Selama ini kita meyakini bahwa manusia bukan bagian dari alam, tetapi sebagai penakhluk dan penguasa terhadap alam. Keyakinan tersebut membawa pada perilaku lalim dan aniaya bakhkan mengekploitasi alam.

Manusia tidak akan bisa memungkiri kenyataan bahwa alam telah menyediakan apapun untuk hidupnya. Alam tidak pernah meminta imbalan apapun pada manusia. Padalah, tiap waktu kita menguras serta menikmati apa yang dihasilakan dan dikandung oleh alam. Bukan hanya sebatas itu saja, akhirnya manusia menjadi tamak, rakus dan serakah dalam memnfaatkan alam. Kemampuan manusia untuk berfikir tidak digunakan dengan benar.

Pembangunan diserukan dan dilaksanakan dimana-mana. Setiap daerah berlomba-lomba membangaun agar dipandang maju. Namun, pendirian industri dan gedung dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia cenderung merusak, karena pertimbangkan keuntungan secara ekonomi yang didahulukan. Sementara pertimbangan dampak lingkungan dikesampingkan, bahkan kadang dimanipulasi sedemikian rupa.

Sektor pertanian, Revolusi Hijau sebagai awal kebangkitan pangan tidak hanya memperkenalkan pada teknologi dalam pemanfaatan alam. Swasembada yang dicanangkan di zaman Orde Baru menambah deretan panjang pelajaran untuk berlaku kelaliman manusia. Melimpah ruahnya hasil bumi yang di dapatkan tenyata dibarengi dengan penggunaan pupuk kimia. Pola pikir instan penggunaan pupuk kimia telah merusak tatanan ekosistem dan struktur tanah. Akhirnya kita bisa melihat apa yang terjadi bencana alam dimana-mana. Banjir, tanah longsor dan kemarau panjang merupakan bukti nyata akibat perilaku rakus  manusia.

Menurut Danieel Chiras, sifat rakus tersebut timbul dan berkembang dari sifat asal manusia sebagai makhluk biologis. Setiap makhluk biologis menurut Chiras memiliki apa yang disebut biological imperialism, yaitu sifat egois untuk mementingkan dirinya sendiri dan keturunannya. Meskipun begitu, tidak seharusnya sifat tersebut lantas menjadi alasan kuat untuk berlaku seenaknya. Justru sebagai manusia yang dikarunia akal pikiran kita juga harus menegendalikan sifat tersebut.

Moral alam

Pengendalian sifat makhluk biologis harus dikendalikan. Ada dua hal yang bisa dilakukan untuk mengendalikannya, kemudain berdamai dan bersandingan secara baik dengan alam.  Pertama, Moral menjadi batu pijakan kuat untuk mengendalikan sifat menguasai yang dimiliki manusia. Karena moral merupakan sifat rohaniah manusia, artinya sebagai nilai penyeimbang untuk sifat biologis. Maka dari itu moral menjadi sangat penting. Bumi, laut dan gunung sebagai satu kesatuan dengan manusia sudah seharusnya diperlakukan dengan baik. Nilai moralitas akan menjadi penunjuk mana yang baik dan buruk, mana salah dan benar. Ukuran moralitas ini bersumber dari kita sendiri, dari mengolah rasa dalam hati. Penyelaman dan penghayatan pada kuas tuhan yang menciptakan alam dan manusia.

Kedua, kembali pada ajaran leluhur bagiamana memperlakukan alam. Bagaimana mereka berterimakasih pada bumi setelah panen raya dengan menyelenggarakan Sedekah Bumi. Itu wujud penghargaan dan kerifan lokal. Hal tersebut bukan hanya ditujukan pada alam tapi juga pada Tuhan sang pencipta. Leluhur kita menggunakan lahan dan menebang pohon seperlunya hanya untuk mencukupi kehidupan keseharian mereka. Esensinya perlakuan leluhur terhadap alam harus kita pelajari dan kita contoh. Tujuannya sebagai rule model manusia sekarang untuk berterimakasih pada alam. Dengan begitu kita akan mampu berperilaku santun dan menghargai alam. Akhirnya semoga nanti tidak ada lagi murka alam pada manusia.(Red.HP/Kiriman Dawamum Ni’am Alfatawi, Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

one × 1 =