CerPen : Pengemis Kaya

0
238
Gambar Ilustrasi

Tempat yang tidak kusukai adalah tempat ramai, termasuk terminal. Sore itu Terminal Induk Pemalang terlihat lengang tidak seperti biasanya. Suasana semakin lengang ketika hujan mengguyur, sehingga banyak armada bus jarang mendapat penumpang di sini. Menunggu hujan reda aku mencari loket langgananku untuk membeli tiket keberangkatanku besok sore. Lantai yang kotor di lobi utama terminal membuat orang-orang bertelanjang kaki karena takut terpeleset. Guyuran hujan benar-benar membuat basah semua lantai di depan kios-kios yang berlokasi di luar, maklum terminal kecil.

Pemandangan lain yang aku tak sukai adalah banyaknya pengemis yang berada di sekitar terminal, dari anak-anak hingga manula. Bukannya aku tak suka,  ketika yang muda kiranya masih dapat bekerjaan hanya menengadahkan tangannya saja merupakan kerapuhan sisi rohaninya.  Kuberjalan menuju kios yang aku tuju,  di depan kios hanya ada seorang gadis yang sedang menunggu bus, memang agak sepi hari ini pintaku.  Kupesan dua tiket untuk aku dan istriku, selang aku keluar dari kios aku duduk sejenak menunggu hujan reda di depan kios itu. Ada seorang ibu-ibu yang rambutnya kriting tidak memakai sandal dengan kepalanya agak dimiringkan kekiri, aku hanya sekelabat memperhatikannya. “ Mas, minta mas? Saya buat makan belum dapat.” Iya menyodorkan tangan dengan wajah memelas. Uang receh Rp.500  kukeluarkan dari kantungku. “ Mas kurang, mas saya itu punya anak dua apalagi sepi hari ini karena hujan.” Aku dalam hati agak geram, rasa ikhlas itu benar-bernar diuji Tuhan.  “ Nih Rp. 10.000. cukup kan?” Aku menghembuskan nafas saja memang diuji oleh seorang pengemis yang agak seperti pembeli pakaian di dalam pasar. Akhirnya pengemis itu pergi  juga.

Menunggu satu jam  lebih akhirnya hujanpun  reda, gadis yang duduk di depan kios itupun telah beranjak naik bus 15 menit yang lalu kini terlihat lengang tempat duduknya. Berjalan lagi aku melewati lobi, namun sejenak rasa ingin buang air membelokan arahku ke lobi. Sebelum itu, kulihat kembali ibu-b berambut kriting ia berbeda dari yang tadi. Terlihat kontras dibanding yang tadi, yang lebih mengherankan ia sedang memainkan gawai bisa dibilang itu harganya lumayan. Aku melupakan hasrat buang air kecil, aku berdiri dibalik tembok sehingga dapat mendengarkan secara jelas pembicaraannya yang seorang diri.  “ Ah pendapatan siang ini agak turun dibanding tadi padi, tapi lumayan lah bisa buat tambahan beli perhiasan.” Aku terheran-heran dengan pikirannya seorang pengemis itu yang di luar logika untuk mengurus kebutuhan yang primer.

Seakan  ingin mengetahui pengemis itu  aku mengikutinya, ingin sekali rasanya menceramahinya.  Kini lobi terminal seakan berubah kembali ramai, ibu-ibu pengemis itu cepat sekali  menghilang di kerumunan orang-orang yang memenuhi lobi terminal. Maklum hari ini termasuk masih arus balik lebaran. Lagi-lagi aku dikagetkan oleh dia, benar-benar berbeda. Ia yang kucel, cacat, badeg, seorang pengemis berubah 360 derajat jadi ibu-ibu arisan yang gayanya bisa dibilang menengah ke atas. Aku makin terkaget-kaget melihat ia membuka sebuah pintu mobil mewah, sepertinya ia mau ke sesuatu tempat. Tumben aku menyukai hal yang tidak penting bagiku, namun entah mungkin awal ketidaksukaanku terhadap pengemis menjadi ingin bertatap muka dengannya. Aku memutuskan ingin mengikutinya kuambil motorku di sebelah barat terminal dan tancap gas menuju arah mobil tersebut.

Selang beberapa lama ia masuk ke restoran yang dapat mengeluarkan goceknya bisa lumayan juga, akupun ikut masuk ke dalam restoran itu.  Kupesan saja makanan yang cukup sederhana dan segelas air putih. Kulihat dia sedang melihat daftar menu makanan dan kemudian memanggil pelayan. Dia dengan muka tersenyum merapatkan telapak tangannya. Aku menuju pelayan untuk mengantarkan makananku di meja ibu-ibu itu. Kuberanikan diri menghadapnya, “ Assalamualaikum buk, tadi ngapaian di terminal ? kerjakah?” tanyaku agak menginterogasi. Ibu-ibu itu sontak agak tegang melihatku berada di situ. “Masnya ngapain di sini, saya lagi makanlah,” tegangnya hilang begitu aku bertanya, mungkin ia sedang menetralisir rasa nya. “ Eh malah Tanya, anda pengemis kan? Kok makan di tempat berkelas gini buk?”  ia dan aku menerima makanan dari pelayan sehingga sementara pembicaraan kami terputrus. Tanpa berkata-kata ia melahap habis makanannya. “ Mas belum ngerasain  yang pada duduk di atas mungkin lebih hina dari saya,” ia sedikit menaikan alisnya seperti ibu-ibu yang sedang menasihati anak bujangnya. Aku sementara terdiam.” Saya nggak nyolong mas, saya dulu penjabat. Saya dituduh terkena kasus suap, saya hanya dijadikan boneka sama mereka yang kayak tikus!”  aku terlunjak mendengarkan keterangannya. “ Lha ibuk kan udah kaya, ngapain  ngemis melulu.. tinggal buka usaha aja, udah punya mobil pula,” ia berdiri ke meja kasir bertransaksi dan langsung keluar dari restoran. Hembusan nafasku begitu terasa didengar , mungkin karena kengototanku tadi. Ketika ke meja kasir makananku telah dibayar olehnya.  “ Apa maksudnya, dia merendahkan aku “ Kukejar dia keluar namun tiba-tiba ada anak kecil memberikan surat kecil padaku ketika aku akan menyalakan motorku.

“ Ya saya adalah pengemis, mungkin anda orang yang tertipu oleh hidup saya. Anda jangan sok menceramahi saya. Banyak di tempat kerja saya dulu ngomongnya manis soleh katanya, tapi benar-benar hatinya tikus kakus, paling hebat mereka menipu merugikan orang lain kasihan itu uangnya mereka yang ada di jalanan. Yang katanya anak-anak jalanan dipelihara oleh Negara. Jadi mas nggak usah ngatur saya..” Dibalik kertas itu ada slembar uang 50.000 an, aku  jengkel dengan perlakuannya, kuserahkan saja uang itu pada pengemis anak-anak yang berada dijalan depan restoran.

(Red.HP/ Kiriman Nurmansyah Triagus Maulana, Mahasiswa UNS, FKIP jurusan Bahasa Indonesia, Asal Karangbulu, Desa Sima, Moga, Pemalang)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

twenty + 6 =