Kawasan Hutan Mangrove Mojo Jadi Kawasan Ekosistem Esensial Pertama Di Jawa Tengah

0
493

Pemalang, Harian Pemalang – Kawasan hutan mangrove yang berada di desa Mojo, awalnya merupakan hasil sedimentasi dari sungai comal, gundukan pasir dan lumpur hasil sedimentasi akhirnya membentuk suatu hamparan daratan. Apabila hamparan tersebut tidak diikat oleh tanaman bakau maka dimungkinkan akan terkena abrasi maupun hanyut oleh terjangan air banjir dari sungai Comal.

Kawasan hutan mangrove yang Kamis (19/5/2016) dikunjungi oleh wakil gubernur Jawa Tengah, Heru Sudjatmoko dalam rangkaian peringatan hari kebangkitan nasional yang ke 108 tahun 2016 merupakan salah satu kawasan hutan mangrove yang terbaik di sepanjang pantai utara jawa.

Menurut Bupati Pemalang melalui Martono wakil bupati Pemalang, menyatakan bahwa kawasan konservasi mangrove seluas 14-5 Ha, kawasan ini telah berkembang menjadi kawasan tujuan wisata, tempat sumber benih kepiting, tempat perlindungan beragam flora dan fauna serta perlindungan daerah di belakangnya.

Potensi yang terdapat dikawasan tersebut antara lain ada 19 (sembilan belas) jenis mangrove diantaranya dari genus Rhizophora, Avicennia (Api-api), Sonneratia (pedada), Bruguiera (tancang), Xylocarpus (nyirih), serta adanya Casuarina equisetifolia (cemara laut). Fauna yang ada di daerah tersebut 32 dari jenis burung, 11 diantaranya burung migran. Melihat potensi tersebut maka pemerintah kabupaten Pemalang mengusulkan menjadi “kawasan ekosistem esensial” yang pertama kali di Jawa Tengah.

Ketua kelompok sadar wisata desa Mojo, Tolani, berpendapat bahwa perlu adanya pembenahan dalam kawasan hutan mangrove. Setelah pemerintah kabupaten memberi bantuan berupa joging track sepanjang kurang lebih 1 km, dan perahu, masih banyak yang harus disiapkan antara lain angkutan kapal yang representatif, gardu pandang yang baru, tempat MCK dan penataan pedagang di kawasan tersebut agar tetap menggunakan perahu dan tidak kalah pentingnya adalah menjaga kebersihan lingkungan.

Menanggapi hal tersebut maka Tolani, menyatakan bahwa akan tetap mengedepankan kawasan hutan mangrove sebagai kawasan konservasi dan tetap mengedepankan pentingnya ekologi hutan mangrove tersebut. Sedangkan sebagai daerah tujuan wisata hanyalah pemanfaatan secara ekonomi semata. (Red.HP/sarwo edy)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

fifteen + two =