Tuhan Tidak Tuli

0
143

Jakarta, Harian Pemalang -Setahu saya, hanya ada satu ritual dalam Islam yang memerlukan teriakan, yaitu azan. Azan memang perlu dilakukan dengan suara keras, kalau perlu di tempat yang tinggi, dengan harapan bisa didengar oleh orang sebanyak mungkin. Azan adalah panggilan salat. Jadi sebaiknya memang didengar banyak orang.

Di luar itu, sesuai anjuran Nabi, sebaiknya dilakukan dengan suara lirih. Berzikir, bedoa, membaca Quran, cukup dengan suara lirih saja. “Engkau tidak sedang menyeru kepada Zat yang tuli….” Allah itu tidak tuli. Dia mendengarkan zikir dan doamu meski kau sampaikan dengan suara lirih.

Lalu kenapa mesjid-mesjid kita berlomba-lomba memasang pengeras suara bertenaga besar? Ini tidak ada hubungannya dengan Islam. Ini adalah pola pikir urban gagal. Apa itu urban gagal? Yaitu kaum urban yang hanya fisik tubuhnya saja pindah ke kota. Pola pikirnya masih kampungan.

Di kampung yang sepi kebisingan yang dihasilkan dengan pengeras suara adalah tanda eksistensi. Zaman dulu hanya orang kaya yang mampu menyewa pengeras suara saat melakukan hajatan. Maka suara berisik dari pengeras suara itu dianggap simbol kekayaan. Ketika pengeras suara menjadi semakin terjangkau pola pikir itu tidak berubah. Berisik sama dengan keren. Pola pikir itu bertahan saat orang-orang kampung pindah ke kota. Kemudian menurun kepada anak cucu mereka. Hajatan di kampung-kampung kota selalu berisik dengan pengeras suara. Karena berisik sama dengan keren.

Ada yang bilang, ini untuk syiar. Eh, apa itu syiar? Syiar itu siaran. Kata siar dalam bahasa kita berasal dari kata ini. Apa yang disiarkan? Dalam konteks dakwah Islam, syiar adalah menyiarkan kebaikan. Dengan kebisingan? Memaknai syiar dengan siaran memakai pengeras suara adalah pemaknaan paling dangkal. Syiar yang lebih hakiki adalah perilaku. Perilaku kita yang didasari oleh syariat Islam, mencerminkan keindahan Islam, itulah syiar yang hakiki. Bersih, tertib, tepat waktu, hormat pada orang lain, tidak menzalimi, dan masih banyak lagi contohnya. Syiar dengan pengeras suara itu adalah syiar yang kandungannya baik (ayat suci, zikir, doa), tapi salah cara, sehingga pada saat yang sama menyiarkan keburukan, yaitu gangguan oleh kebisingan. Gangguan oleh kebisingan itu menutupi kebaikan kandungan syiar.

Ada banyak bentuk kebisingan lain yang dibuat orang, yang tidak ada sama sekali tuntunannya dalam ajaran Islam. Sekedar kebiasaan yang kemudian dimanipulasi seolah itu adalah ajaran Islam. Kebisingan aktivitas membangunkan orang sahur, itu tidak dituntunkan. Lagipula, aktivitas itu sudah salah zaman. Sekarang setiap orang punya HP dengan alarm yang bisa diset, kenapa masih perlu keributan untuk membangunkan orang sahur?

Di kampung saya Pontianak, membangunkan orang sahur dilakukan dengan meriam karbit yang suaranya memekakkan telinga, sekaligus sanggup menggetarkan kaca-kaca jendela. Di mana kita bisa temukan dalam Islam ada ajaran seperti itu?

Islam bukan agama bising. Yang kita saksikan adalah orang-orang norak, yang mengira kebisingan itu keren, dan mencoba melindungi kesukaan mereka itu dengan cara memberinya label “Islam”.

Penulis : Hasan Abdurakhman (kang Hasan)
Link yang dapat di ikuti abdurakhman.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

four × four =