Puasa Dalam Kacamata Kesehatan

0
85

Pemalang, Harian Pemalang – Puasa merupakan salah satu kewajiban bagi setiap orang mukmin, puasa adalah menahan, berpantang atau mengendalikan diri dari makan, minum dan hal-hal lain yang dapat membatalkan, mulai dari terbit fajar (waktu subuh) hingga terbenam matahari (waktu magrib). Dengan tujuan untuk membentuk  manusia bertaqwa kepada Allah SWT.

Selain menghasilkan insan yang bertaqwa kepada Allah SWT, banyak kajian kajian ilmiah mengenai puasa. Dalam kajian ilmiah yang berhuhungan dengan kesehatan, bahwa puasa memiliki keunggulan antara lain :
1.    Puasa berfungsi Mengistirahatkan mesin pencernaan.
Makanan yang dikonsumsi manusia dapat diklasifikasi menjadi 3 (tiga) tingkatan.
Pertama, tingkatan hajat (makanan yang sesuai dengan kebutuhan), yaitu beberapa suap makanan sekedar untuk bisa menegakkan tulang punggung.
Kedua, tingkatan kifayah (ukuran kecukupan), yaitu makanan yang mengisi sepertiga perut, sedangkan sepertiga untuk minuman dan sepertiga lainnya untuk pernafasan.
Ketiga, tingkatan fudlah (makanan yang kelewat batas dan berlebih-lebihan), yaitu makanan yang mengisi perut lebih dari sepertiganya.

Naluri manusia cenderung memuaskan nafsunya untuk memakan makanan secara berlebih-lebihan. Makanan dan minuman yang dikonsumsi manusia tempat penyimpanannya di lambung, lambung ada dalam rongga perut. Paru-paru sebagai pusat pernafasan ada dalam rongga dada. Rongga perut dan rongga dada letaknya berdekatan dan berbatas langsung dimana kedua rongga tersebut dipisahkan oleh suatu sekat tipis disebut Diafragma. Diafragma ini bersifat elastis dan bisa terdorong ke atas sehingga rongga dada menyempit, akibatnya ruang gerak paru-paru juga menjadi sempit dan akan mengganggu kelancaran pernafasan.

Lambung (ventrikulus) yang dalam bahasa Arab disebut Al-Ma’idah dan dalam bahasa Inggris disebut Stomach merupakan salah satu organ pencernaan yang mempunyai fungsi sangat vital dalam proses pencernaan manusia. Di dalam lambung manusia makanan diproses secara fisik dan kimia oleh sel-sel yang ada dalam lambung yang mempuyai kemampuan dan daya proteksi yang terbatas. Apabila beban kerja lambung secara kualitas maupun kuantitas melampaui daya kerja lambung, maka lambung akan mengalami gangguan (sakit).

Para ulama muslim dan para pakar kesehatan menyatakan bahwa sumber dari segala penyakit yang sulit diobati ialah memasukkan makanan di atas makanan. Artinya, makanan yang satu belum tercerna dengan baik di lambung sudah kemasukan makanan berikutnya dan seterusnya. Sehingga mesin pencernaan terus bekerja tanpa ada waktu untuk rehat, reses, rileks dan beristirahat.

Orang terlalu sering lupa dan mengabaikan bahwa perut adalah organ yang secara berkala harus mendapat istirahat yang cukup. Dalam keadaan tidak puasa pada umumnya setiap orang mempunyai jadwal makan tiga kali sehari, antara lain; makan pagi pukul 07:00, makan siang pukul 14:00, makan malam pukul 20:00. Dengan kondisi sepert ini, usus tidak mempunyai kesempatan untuk istirahat, karena sistim pencernaan kita memerlukan waktu kurang lebih delapan jam untuk memproses makanan untuk dapat dipergunakan tubuh.

2.    Puasa Dapat Meningkatkan Daya Tahan Tubuh
Puasa, Shaum atau Shiyam dinyatakan Rasulullah SAW sebagai Junnah (perisai). Arti yang bisa diambil dari pernyataan di atas ialah puasa dapat berfungsi sebagai perisai (penghalang) manusia dari api neraka. Puasa dapat menjadi perisai (penahan) manusia dari tumbuh dan berkembangnya penyakit hati (psikosomatik) yang oleh imam Al-Ghazali disebut Amradlul Qulub . Seperti riya, kikir, suka emosi dan tidak jujur. Puasa berarti pula dapat berfungsi menjadi perisai (benteng) dari penyakit-penyakit fisik yang menyerang tubuh manusia. Sabda beliau:
“Puasa itu perisai”. (H.R Bukhari – Muslim)

Bentuk perisai yang tumbuh dari aktifitas puasa menurut para pakar kesehatan ialah bertambahnya sel darah putih dan diblokirnya suplai makanan untuk bakteri, virus dan sel kanker yang bersarang pada tubuh.

Hal ini menjadikan orang-orang yang berpuasa memiliki daya tahan dan kekebalan tubuh meningkat. Karena itu, mereka kelihatan lebih sehat dan tidak mudah terserang penyakit seiring dengan ibadah puasa yang dijalaninya dengan baik.

Menurut hasil penelitian di Universitas Osaka di Jepang tahun 1930 setelah memasuki hari ke-7 berpuasa, jumlah sel darah putih dalam darah orang yang berpuasa meningkat. Penambahan jumlah sel darah putih ini secara otomatis meningkatkan kekebalan tubuh.

Eksperimen para peneliti di Amerika terhadap tikus-tikus putih yang tubuhnya diinjeksikan dengan sel-sel kanker membuktikan bahwa kelompok tikus yang diberi terapi puasa tidak terkena kanker, sebaliknya kelompok tikus yang tidak diberi terapi puasa terkena kanker.

Dalam tubuh manusia terdapat parasit-parasit yang menumpang hidup termasuk menumpang makan dan minum. Dengan berpuasa berarti menghentikan suplai makanan dan minuman terhadap kuman-kuman penyakit, bakteri-bakteri, virus dan sel-sel kanker sehingga tidak bisa bertahan hidup. Kuman-kuman penyakit tersebut akan mati dan keluar melaui cairan tubuh bersama sel-sel yang sudah mati dan toksin.

Dari hasil penelitian tersebut tampak jelas adanya pengaruh puasa terhadap kesehatan jasmani. Selain dari aspek pengobatan yang sangat signifikan ialah aspek pencegahan dan aspek perlindungan. Sahabat Ali Bin Abu Thalib menceritakan sabda Rasulullah SAW yang menjamin kesehatan fisik orang-orang yang berpuasa:
“Sesungguhnya Allah memeritahkan kepada Nabi Bani Israel (dengan firman-Nya), umumkanlah kepada kaummu bahwa seorang hamba tidak berpuasa sehari demi mendapatkan keridhaan-Ku semata kecuali Aku akan memberinya kesehatan fisik dan memberinya pahala yang amat besar”. (H.R Baihaqi)

3.    Puasa Sebagai Terapi Kesehatan
Ketaqwaan seseorang, sebagai bentuk hasil, salah satunya bisa diukur dari kondisi kesehatannya. Puasa yang baik adalah puasa yang mampu mengubah pola makan seseorang secara lebih sehat.

Kenapa taqwa bisa membawa kita pada kondisi lebih sehat? Sebab, orang yang bertaqwa adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dalam hal makan, minum dan gaya hidup. Ia sudah terbiasa dengan pengendalian diri selama bulan puasa. Karena itu menjadi mudah baginya untuk mengendalikan diri pada hari-hari di luar bulan puasa. Jadi, ada dua hal yang menyebabkan dia menjadi sehat, antara lain;
Yang pertama, dia telah melakukan puasa dengan  benar selama bulan puasa, sehingga terjadi proses penyehatan dalam dirinya. Mulai dari proses detoksifikasi (penghancuran dan pengeluaran) racun-racun yang menumpuk dalam tubuh, peremajaan sel-sel (rejuvenasi) sampai penyeimbangan kembali sistim kesehatan (stabilisasi).
Yang kedua, setelah berpuasa itu, ia masih tetap menjaga pola makan dan gaya hidupnya di luar bulan puasa. Sehingga, badan tetap dalam kondisi terbaik dan keseimbangan yang baik. Akan menjadi lebih baik, jika di luar bulan puasa ia juga masih sering berpuasa. Itu akan menjga kestabilan kondisi badannya. Salah satu hikmah puasa bagi kesehatan fisik ialh fungsi puasa sebagai terapi penyembuhan penyakit.

4.    Puasa Menuju Kesehatan Yang Sempurna
Unutk membentuk kwalitas seseorang dari iman menjadi taqwa dibutuhkan 3 tahap, masing-masing sekitar 10 hari. Rasulullah SAW mengatakan bahwa puasa Ramadhan selama sebulan itu memang dibagi menjadi 3 tahap, yaitu sepuluh hari pertama berisi rahmat, sepuluh hari kedua berisi maghfirah, sepuluh hari terakhir berisi nikmat.

Dalam konteks “penyembuhan” yang kita bahas di depan, ketiga tahap proses yang dialami secara fisik oleh sel-sel tubuh, yaitu proses detoksifikasi alias penggelontaran racun-racun yang berasal dari sampah metabolisme yang menumpuk dalam tubuh, terjadi pada sepuluh hari pertama bulan Ramadhan. Sepuluh hari kedua terjadi peremajaan sel-sel yang sudah aus alias rejuvenasi , sepuluh hari terakhir terjadi proses stabilisasi, dimana tubuh memasuki suatu kondisi yang mantap karena telah mencapai suatu keseimbangan dan keharmonisan yang membuat tubuh bebas dari pengaruh negatif proses metabolisme.

Secara lahiriah, tiga tahapan dalam puasa Ramadhan itu menggambarkan terjadinya proses penyeimbangan kondisi kesehatan tubuh seseorang. Selain berdampak secara lahiriah, tahapan puasa bulan Ramadhan itu juga tampak dalam aktifitas yang bersifat bathiniah. Pada skala bathiniah, tahapan puasa Ramadhan  memberikan motivasi yang besar kepada orang-orang yang sedang menjalani puasa.

Tahapan itu ada kaitannya dengan sabda Nabi SAW: “Barang siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dengan iman dan penuh perhitungan, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu maupun yang akan datang”. Sabda Nabi SAW ini mengarahkan kita agar tidak sembarangan dalam berpuasa. Ada dua hal yang dipersyaratkan yaitu Imanan dan Ikhtisaban yaitu “memahami” dan selau “mengevaluasi” pelaksanaannya.
(Red.HP/joko longkeyang)

Di tulis oleh Abdul Kholik.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

nine − two =