Induk Teori Konspirasi

0
113

Bekasi, Harian Pemalang – Masih segar dalam ingatan saya pertemuan Amien Rais dengan warga Muhammadiyah Pontianak pada pertengahan dekade 90-an. Waktu itu ICMI sedang jaya, anggota mereka menduduki jabatan strategis di Kabinet Pembangunan, di bawah pimpinan Presiden Soeharto. Dalam sambutannya Amien menyebut bahwa era kelompok “wa lan tardha…”(begitu Amien menyebutnya), yang kemudian juga ia sebut dengan kelompok RMS, sudah berakhir.

Apa itu RMS? Itu adalah singkatan dari Radius, Mooy, Sumarlin. Mereka bertiga adalah simbol dari apa yang disebut oleh Amien sebagai kelompok wa lan tardha tadi. Yaitu orang-orang Kristen yang menduduki posisi strategis di kabinet. Tentu ada nama-nama lain. Tapi sengaja 3 nama itu dipakai, dibuat mirip dengan singkatan pemberontak Republik Maluku Selatan, untuk membangun sebuah citra tertentu.

Singkatnya, pada masa awal Orde Baru sampai awal dekade 90-an, kabinet Soeharto dikendalikan oleh orang-orang Kristen dan sekuler, menyingkirkan umat Islam dari kekuasaan. ICMI kemudian berhasil menyingkirkan mereka. Begitulah teori atau keyakinan banyak orang Islam ketika itu.

Nah, menariknya, Amien memakai istilah “kelompok walan tardha” untuk menyebut kelompok Kristen. Apa maknanya? Ini mengacu pada ayat 120 di surat Al-Baqarah,”Wa lan tardha ‘ankal yahuud wa lan nashara hatta tattabi’a milatahum.” Tidak akan rela orang Yahudi dan Nasrani sampai kamu mengikuti agama (millah) mereka.

Kalau orang Islam bicara soal konspirasi, induknya selalu ke ayat ini. Induk teori konspirasi Islam adalah bahwa, itu tadi, orang Yahudi dan Nasrani, selalu dan akan selalu, dan akan selalu, mencari jalan dan ikhtiar untuk merusak dan menghancurkan Islam, dalam setiap kesempatan, dengan berbagai cara. Maka, apapun yang terjadi, selalu bisa dihubungkan dengan teori itu.

Amerika dianggap salah satu representasi Kristen. Maka apapun kegiatan Amerika di Timur Tengah selalu bisa dikaitkan dengan keinginan orang Kristen (bekerja sama dengan Yahudi) untuk mengganggu orang Islam. Fakta bahwa Amerika sebenarnya juga turut campur dalam persoalan di Semenanjung Korea atau Indocina yang bukan Islam, atau bahkan Amerika Latin yang mayoritas Kristen, diabaikan. Demikian pula fakta bahwa Amerika dulu membantu Mujahidin Afganistan melawan Sovyet.

Kembali ke cerita Orde Baru tadi, Soeharto dicitrakan disetir oleh Kristen. Tidak peduli dalam tim ekonomi Soeharto dulu ada Emil Salim yang muslim. Lucunya, dalam sambutan tadi Amien menyebut Saleh Afif (bersama Mar’ie Muhammad dan Fuad Bawazier) sebagai representasi umat Islam dalam kelompok baru di kabinet. Padahal Saleh Afif adalah wajah lama dalam tim ekonomi Soeharto.

Tidak nyambung? Ya. Itulah karakter utama teori konspirasi. Penganutnya mengumpulkan fakta-fakta yang mereka pilih, yang cocok dengan cerita yang hendak mereka rangkai. Mereka mengabaikan fakta sebesar dan seterang apapun, kalau fakta itu tidak mendukung skenario.

Begitulah adanya pula dengan induknya, ayat tadi. Pokoknya Yahudi dan Nasrani itu membenci Islam. Fakta bahwa orang-orang Kristen pernah membantu umat Islam ketika mereka dizalimi di Mekah, yang ironisnya direkam juga dalam Quran, begitu saja diabaikan orang ketika membahas ayat 2:120 tadi.

Nah, misalnya begini. Jokowi itu dikendalikan Kristen, sekaligus komunis. Juga oleh kelompok liberal. Bagaimana relasi antara komunis, Kristen, dan liberal, sehingga mereka bisa bersatu mendukung Jokowi, itu tidak penting. Pokoknya mereka anti Islam, dan bergabung dalam konspirasi walan tardha itu tadi.

Maka, Anda bisa susun cerita apa saja, termasuk yang mutakhir, misalnya ISIS dan serangan terhadap Madinah belakangan ini. Semua itu pasti ulah Yahudi dan Nasrani. Teori konspirasi itu enak dibangun, karena untuk membangunnya tidak diperlukan nalar yang canggih.(Red.HP)

Penulis : Hasanudin Abdulrakhman. Tinggal di Bekasi, Alumni UGM.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

3 × one =