Setelah Cafe Jamban, “Dokter Gila” Itupun Jalan Kaki Semarang Jakarta Demi Jamban

0
290

Pemalang, Harian Pemalang – Setelah setelah menempuh perjalanan dari Semarang sampai Pemalang, tim pejalan 8 kaki kampanye sejuta jamban dalam aksi “Jalan Untuk Jamban” istirahat malam di Pemalang. Tim menginap di Hotel Dewi Sri atas prakarsa ketua Asosiasi Wartawan Profesional Indonesia (AWPI) cabang Pemalang Budi Sudiarto.

Rencananya kamis (4/8), tim pejalan kaki istirahat dan mengembalikan kondisi fisik agar segar bugar kembali ketika melanjutkan perjalanan. Baru Jumat (5/8) akan meneruskan perjalanan ke Jakarta, dengan berhenti di beberapa kota yang dilewati.

Pada kesempatan tersebut, harianpemalang.com dapat menemui dengan santai Dr. Budi Laksono, yang mempunyai ide gila kampanye “Jalan Untuk Jamban, Jalan Kaki Semarang – Jakarta”. Sebelumnya Dr. Budi juga pernah menjadi trending topik diberbagai media baik sosial media, cetak dan televisi dengan salah satu ide gilanya “Cafe Closed atau cafe jamban” di Semarang.

Budi, menceritakan ide gila cafe jamban tersebut sebenarnya masih ada kaitannya dengan kampanye Jalan Kaki “walk for toilet” itu. Cafe tersebut sebenarnya bukan diperuntukkan untuk umum, bukan layaknya cafe atau tempat nongkrong yang banyak terdapat di beberapa kota. Cafe tersebut hanyalah tempat nongkrong bagi teman teman Dr. Budi yang bukanya temporer apabila ada kolega, mitra maupun tamu yang membahas sanitasi keluarga terutama jamban.

Sedangkan misi Kampanye sejuta jamban dengan “Jalan Untuk Jamban” ini, adalah pertama misi jalan kaki, merupakan upaya agar masyarakat yang ditemui di sepanjang jalan dapat melihat apa yang kami kampanye, serta paham akan pentingnya sanitasi keluarga terutama jamban, dan akan ikut tergerak ketika ada gotong royong dalam penanganan jamban sesuai dengan kondisi dan kemampuan masing masing individu. Misi kedua adalah “seminar jalanan”, seminar maupun penyampaian informasi kepada masyarakat atau sekelompok masyarakat tentang pentingnya sanitasi jamban dan dampak yang akan ditimbulkan apabila kita membuang hajat sembarangan.

Perjalanan dari Semarang sampai Pemalang, sudah banyak tanggapan positif dari berbagai elemen masyarakat, mulai dari pak Gubernur Jawa Tengah berserta jajaran, bupati Kendal, Bupati Batang, kodim kendal dan Batang beserta koramil, jajaran kepolisian, aparatur sipil negara serta masyarakat sepanjang perjalanan. Pada intinya masyarakat yang ditemui menerima informasi yang diterima dengan baik, tinggal aksi yang mampu menggerakkan potensi masyarakat tersebut menjadi karya nyata.

Memang menurut, Dr. Budi, saat ini masyarakat yang ditemui masih sebatas kampanye Jalan Kaki ini suatu yang hebat secara fisik, karena akan berjalan dari Semarang ke Jakarta. Belum pada akar permasalahannya. Oleh karena itu dengan adanya pembelajaran dan informasi yang benar tentang bahaya yang mengancam apabila buang hajat sembarangan, karena menyebabkan berbagai penyakit yang dapat ditimbulkan.

Disamping itu, kampanye ini bukan sekedar kampanye Jambanisasi, melainkan bagaimana menggugah masyarakat agar mau dan peduli terhadap lingkungan dan tetangganya. Apabila ada rumah tangga yang belum memiliki jamban, akan diadakan gotong royong tetangga terdekat bahkan menggandeng aparatur militer dalam hal kodim atau koramil, ataupun instansi yang lain untuk membuat jamban dan memperbaiki sanitasi keluarga.

Lebih lanjut menurut Dr. Budi, yang bertanggung jawab atas sanitasi ini tentunya pemerintah. Apabila ada masyarakat yang berperilaku kurang sehat maka pemerintah lah yang harus bergerak, mendorong, serta menyadarkan masyarakat agar berubah menjadi lebih baik (Red.HP/Sarwo Edy)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

17 − eleven =