Cocokkah Full Day School di Pemalang?

0
256

Pemalang, Harian Pemalang – Gagasan menteri pendidikan dan kebudayaan baru kabinet kerja Jokowi-JK, Prof. Muhadjir Effendi yang menyatakan perlunya anak-anak sekolah “sehari penuh sekolah/full day school.” Menurut prof Muhadjir, dengan anak anak sekolah sehari penuh diharapkan akan membentuk generasi yang tangguh dan berilmu, pengawasan dan bimbingan penuh dari guru memungkinkan terhindar paham paham radikalisme, akan memudahkan orangtua yang bekerja dari pagi sampai sore hari karena tidak was was dalam kontrol pengawasan orang tua.

Apakah gagasan mendiknas tersebut sesuai dengan keadaan, daya dukung, dan kebutuhan masyarakat Pemalang. Seperti diungkapkan kemarin oleh bupati Pemalang, bahwa gagasan mendiknas, akan tetap dikaji dahulu apakah akan ditetapkan pula di kabupaten Pemalang atau tidak. Menurut bupati, kita masih menonjolkan kearifan lokal dalam pola pendidikan anak di Pemalang, karena masih banyak “sekolah-sekolah” sore dalam hal ini madrasah maupun TPQ dan itu sudah berlangsung dengan baik.

Gagasan mendiknas ini tentunya menuai pro maupun kontra kalau ditetapkan di kabupaten Pemalang. Yang pro beralasan bahwa kontrol pendidikan dan pengawasan anak akan terjamin selama kedua orangtua berangkat bekerja. Orangtua tidak akan was-was terhadap anak selama orangtua bekerja dan dapat mendampingi setelah jam belajar selesai atau pada malam hari. Anak tidak akan mendapatkan beban pelajaran tambahan misalnya PR karena sudah dituntaskan selama pelajaran di sekolah dan akan mendapatkan libur sabtu dan minggu seperti liburnya kedua orang apabila bekerja disektor formal.

Memang, di Pemalang sudah ada beberapa sekolah formal bukan pondok pesantren yang menerapkan konsep full day school.

Sedangkan yang kontra terhadap gagasan mendiknas ini, beranggapan bahwa beban anak menyerap pelajaran ada batasnya. Interaksi anak dengan orangtua akan berkurang karena orangtua tidak bekerja di sektor formal. Dan selama ini dalam pengawasan penuh selama di rumah, di samping itu, anak menuntut ilmu di sekolah sore dalam hal ini di madrasah-madrasah maupun TPQ yang tidak didapat di sekolah formal kalaupun menerima pendidikan agama, porsinya dirasa kurang memenuhi. Disamping itu masalah biaya tentu akan dirasa cukup berat, tentunya pihak sekolah akan menyediakan makan siang kalaupun tidak siswa akan jajan di warung karena tidak memungkinkan untuk pulang yang tentunya akan mengeluarkan biaya tambahan.

Kita tunggu apakah gagasan mendiknas ini tetap digulirkan, dan bagaimana keputusan bupati Pemalang dalam mensikapi gagasan tersebut (Red.HP/sarwo edy)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

8 + 8 =