Kuda Kepang Sandi Mulyo Meriahkan Pengibaran Bendera Di Bukit Mendelem

0
498

Pemalang, Harian Pemalang – Pengibaran bendera ukuran raksasa di tebing sebelah barat bukit Jimat Desa Mendelem , Minggu (14/8) yang dilaksanakan pengibarannya oleh tim Pecinta Alam Sabhawana juga menghadirkan beberapa hiburan kesenian daerah. Dalam acara tersebut digelar kesenian Angklung modern, kesenian kuda kepang dan paduan suara dan angklung dari siswa siswi kelas VII SMP Negeri 1 Belik.

Acara yang di gagasan oleh Sekda Pemalang, Budi Rahardjo ini dihadiri oleh bupati Pemalang beserta istri, kepala SKPD Kabupaten Pemalang, Camat, kepala desa dan perangkat se kecamatan Belik, ormas Pemuda Pancasila cabang Pemalang, murid SD sampai SMA dan masyarakat umum. Acara yang bertajuk “Pemasangan bendera merah putih ukuran 2 0 x 30 M di gunung Jimat desa Mendelem, kecamatan Belik” mendapatkan respon yang istimewa dari para hadirin.

Sebelum dan sesudah acara dimulai, pengunjung dihibur silih berganti dengan kesenian daerah lokal yang ada. Salah satu yang menyedot perhatian pengunjung adalah kesenian kuda kepang dari Paguyuban kuda kepang turonggo sandi mulyo dusun Tepus, desa Belik, Kecamatan Belik.

Dalam gelaran ini, kesenian kuda kepang yang di pimpin oleh Ki Dalang Carto membawa 36 personil, yang terdiri dari 16 penari kuda kepang, 1 orang badut maskot, 13 orang nayogo dan sisanya asisten dan pawang. Selain membawa lagu lagu gending yang di aransemen dengan tembang tembang modern yang menarik adalah tarian kuda kepang.

Para penari yang semuanya laki laki ini, berbaris dua deret, membawakan dengan apik tarian kuda kepang setelah satu tembang yang dibawakan dengan normal dan keadaan sadar oleh para penari, pada gending lagu berikutnya penari mulai “kesurupan”. Biarpun gerakan tari nya masih rapi tetapi kondisi penari sudah terlihat kaku, para pawang mulai memberi “makan” pada penari tersebut dengan makanan rebung (bambu muda), bonggol pisang (batang pisang), pelepah pisang dan yang ekstrim adalah diberi pecahan genteng (Jawa : kreweng), disamping itu diberi minum air, seperti memberi minum kuda. Gerakan penari yang kesurupan bak seekor kuda, gerakan gerakan kaki kuda, mata yang melotot menunjukkan kondisi yang tidak normal.

Setelah selesai menari satu persatu penari disadarkan oleh pawang. Dalam penyadaran ini pawang akan dibantu oleh 3 orang asisten, karena sesaat disadarkan penari akan jatuh dengan posisi badan kaku. Para asisten akan langsung menangkap penari agar tidak jatuh langsung ke tanah. Dan pawang beserta asisten akan melemaskan badan penari dengan doa-doa nya.

Menurut Ki Dalang Carto, Paguyuban kesenian kuda kepang yang dipimpinnya sudah memasuki generasi ke tiga. Dia mewarisi keahlian menjadi pawang dan berkesenian ini didapatkan secara turun temurun. Dia berharap agar pemerintah Kabupaten Pemalang peduli terhadap pelestarian kesenian kesenian lokal asli daerah yang masih di lestarikan oleh para seniman daerah. (Red. HP /Sarwo Edy) awet ok

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

sixteen + nineteen =