Sat Res Narkoba Polres Pemalang Tangkap Pengedar Excimer Dan Dextro

0
2694

Pemalang, Harian Pemalang – Seorang buruh jahit warga desa Ambo Kulon, Comal Pemalang berinisial SH (25), dibekuk oleh anggota Sat Res Narkoba di jalan A. Yani, Purwoharjo Comal, Rabu (10/08/2016) pukul 22.15 wib . Dari tangan SH, polisi berhasil mengamankan 8 bungkus pil Excimer/Trihxy Penidil dan 6 bungkus pil Dextro serta uang sebanyak Rp 123.000 dan HP merk Nokia.

Masih di wilayah Comal, TR (28) juga ditangkap di desa Klegen Comal Pemalang, Selasa (16/08/2016) pukul 16.23 WIB . Dari tangan tersangka disita 4 bungkus pil Excimer/Trihxy penidil @50 butir jml 200 butir dan 4 bungkus pil Dextro@ 100 butir jml 400 butir dan uang sebanyak Rp 400.000,- dan buah hp merk Nokia seri X 02.

“Semua pelaku telah ditahan di Polres Pemalang, dijerat dengan 196 yo 98 (2), (3) dan psl 197 yo 106 (1) UU RI NO. 36 Tahun 2009,” ujar Kasat Narkoba Polres Pemalang, AKP Bambang Budiono, S.H.

Pil Eximer dan pil Dextro termasuk jenis narkoba yang murah dan karena itu peredarannya dikhawatirkan bisa menyasar genersi muda karena harganya yang terjangkau.

Pil Eximer / Eksimer adalah jenis obat yang mempunyai kandungan utama berupa CPZ (Chorpromazine) yang berperan sebagai anti-psikotik. Eksimer merupakan obat yang tidak terdaftar di dalam MIMS (kitab daftar obat-obatan yang beredar resmi).

Pada dasar ini obat ini merupakan golongan anti-psikotik yang berfungsi untuk mengurangi gejala psikotik atau gangguan jiwa. Oleh karena itu, obat ini tidak dianjurkan untuk dikonsumsi sebagai obat penenang. Orang yang mengkonsumsi obat ini secara sembarangan akan  dijerat dengan UU kesehatan dan UU Psikoterapi karena menyebabkan kecanduan.

Sedangkan pil dextro (Dextromethorphan) sejatinya adalah pil yang digunakan sebagai obat pereda batuk yang langsung menekan pusat saraf agar bisa mendorong dahak keluar dan keluhan pun hilang.

Tapi ketika pil ini dikonsumsi secara berlebihan dengan tujuan untuk mendapatkan kepuasan sementara (fly), maka seseorang akan mengalami halusinasi, hilang akal dan kehilangan produktivitas laiknya orang normal hingga menyebabkan kematian.
Efek samping dari overdosis dextromethorphan berakibat permanen, sehingga sangat berbahaya bagi kualitas generasi muda Indonesia ke depannya.

Sebenarnya, jika dikonsumsi dalam dosis yang disarankan, pil ini bermanfaat untuk menekan batuk (antitusif) dan pelancar dahak. Namun, sering kali disalahgunakan sebagai pil narkoba, karena jika dikonsumsi terlalu banyak yakni minimal 10 pil sekali minum dapat menimbulkan depresi sistem saraf yang bisa menjadi candu.

Kadar konsumsi pil tersebut 100-200mg, maka efek yang dirasakan adalah stimulasi ringan. Untuk konsumsi 200-400mg, menyebabkan euforia dan halusinasi.Sementara konsumsi 300-600mg, lanjut dia, seseorang akan mengalami gangguan penglihatan dan hilangnya koodinasi gerak tubuh. Sedangkan konsumsi 500-1500mg, akan mengalami dissosiatif sedatif (perasaan bahwa jiwa dan raga berpisah) yang bisa berujung kematian.

BPOM melansir bahwa kisaran harga jual yang diperbolehkan untuk pil ini adalah 50-100 rupiah per butir atau Rp 1000-1500,- per slop nya. Harga jual yang sangat murah ini ditengarai menjadi faktor penyalahgunaan fungsi dari pil dekstro yang bisa merusak kualitas generasi bangsa. (Red. HP /Joko Longkeyang)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

twenty − 18 =