PERISTIWA IBRAHIM AS: KEKACAUAN VISI MORAL

0
186
Selamat Hari Raya Idul Adha

Oleh Nadjib Kartapati Z.

Di luar dimensi korban yang sudah sering kita dengar, peristiwa Nabi Ibrahim as menyembelih Ismail as, putranya, punya dimensi lain yang penting kita renungi. Peristiwa itu sesungguhnya memperlihatkan bagaimana seorang manusia mengatasi chaos yang terdahsyat. Disebut terdahsyat karena merupakan puncak chaos yang mengguncang potensi luhur manusia, yaitu guncangan visi moral. Di dalam hidup manusia, dalam berhubungan dengan sesama dan dengan masyarakat, pada momen-momen tertentu kita akan mengalami apa yang dinamai chaos. Chaos ini menyangkut tiga hal, yaitu ‘daya tanggung’, ‘kemampuan analitik’, dan ‘visi moral’.

Pada tingkatan yang paling rendah adalah chaos yang mengguncang ‘daya tanggung’ kita. Ini mengenai bagaimana ketahanan kita terhadap penderitaan, apakah itu berupa rasa sakit pada pisik maupun penderitaan batin. Di dalam Kitab Suci, chaos jenis ini tersurat melalui kisah Nabi Yunus as yang meninggalkan kaumnya yang menolak menyembah Tuhan. Ia tersia-sia hingga dilempar ke tengah lautan dan ditelan ikan hiu. Akibatnya Yunus harus menjalani puncak penderitaannya dalam kegelapan perut ikan itu. Atau pada kisah Nabi Ayub as yang semula kaya raya namun kemudian jatuh miskin karena seluruh kekayaannya musnah. Dan istri pun meninggalkannya, plus semua anaknya meninggal dunia. Bahkan bertahun-tahun ia digerogoti penyakit borok yang menjijikkan di sekujur tubuh yang tiada kunjung sembuh.

Kemudian tingkat di atasnya adalah chaos yang menghantam ‘kemampuan analitik’ kita. Yang terguncang bukan lagi daya mampu di dalam menghadapi rasa sakit dan penderitaan, melainkan daya pikir kita. Chaos jenis ini dalam tataran tertentu terasa lebih menyakitkan. Sebab, yang dihantam adalah akal pikiran—satu potensi terhebat manusia. Kita ingat bagaimana Nabi Musa as ketika menyaksikan Khaidir merusak kapal yang bagus, bahkan kemudian membunuh anak kecil yang tidak berdosa. Musa tersentak. Akal pikirnya menggugat dan menjadi kacau-balau. Semua rumus dari kecemerlangan otaknya yang diandalkan itu porak-poranda dan macet.

Di luar kisah kenabian, ada sebuah contoh lain yang sangat bagus tentang chaos yang mengguncang daya analitik, yaitu kisah pastor Paneloux dalam novel La Peste karya Albert Camus. Bahwa ‘sifat alamiah manusia adalah merdeka’ itu tampak dalam sikap berontaknya terhadap chaos. Dan bahwa berdasarkan kemerdekaan alamiahnya itulah manusia mulai membangun kembali dirinya sendiri. Semua itu dengan berhasil diangkat ke permukaan oleh Albert Camus dalam La Paste.

Tingkatan terdahsyat adalah chaos yang mengguncang ‘visi moral’. Inilah yang dialami Nabi Ibrahim as ketika harus melaksanakan wahyu Allah yang diterima melalui mimpinya. Ia harus menyembelih sang putra tercinta yang kelahirannya dulu sangat didambakan. Di sini yang terguncang bukan lagi daya mampu dan akal pikiran, melainkan pandangan moral—baik moral kemanusiaan maupun moral ilahiah. Ajaran moral mana yang menyerukan seorang ayah harus menyembelih anaknya? Tentu saja tidak pernah ada. Dan agama mana pula yang memerintahkan seorang bapak harus menggorok leher putra kandungnya sendiri?

Tantangan ‘Situasi Batas’
Dan chaos, di samping berpotensi besar menyungkurkan manusia dalam kehinaan, juga membawa sisi positif. Sebab, chaos selalu menyadarkan ego manusia tentang betapa rapuh tempat berpijaknya selama ini. Segala bentuk perhubungan dengan diri dan masyarakat yang pernah dijalaninya akan kehilangan makna begitu saja. Ketika cosmos meledak dan chaos pun mulai menjelma, maka ‘daya tanggung’, ‘kemampuan analitik’, maupun ‘visi moral’ manusia mulai menemukan batasnya.
Dan pada tingkat inilah manusia terlempar ke dalam apa yang disebut ‘situasi batas’. Situasi di mana nilai kebenaran dan nilai yang sebaliknya menjadi terang benderang. Situasi yang membuat kita bagaikan telur di ujung tanduk, yang apabila tergelincir ke satu sisinya akan jatuh dalam rengkuhan setan, dan sisi lainnya akan masuk dalam pelukan Tuhan.
Akan tetapi, dalam ‘situasi batas’ itu ego tetap merdeka. Bahkan chaos justru mengantarkan ego berhadapan dengan dua pilihan esensial sekaligus eksistensial, mengenai status dan fungsi kita di hadapan Yang Transenden. Artinya, ego dapat memperjuangkan ke mana arah yang dikehendakinya. Dengan bahasa yang lebih lugas: bila kita mau menerima Yang Transenden, maka berimanlah. Dan bila kita ingin menolak, maka kufurlah.
Beriman sama artinya denganmembukakan diri terhadap kehadiran Yang Transenden, yaitu Allah. Dan kufur berarti menutup diri terhadap kehadiran-Nya. Jika manusia memilih yang pertama, maka ia akan mendapatkan kemampuan untuk memulihkan keretakan hubungan antara ego dengan dirinya dan dengan dunianya. Kemampuan itulah yang disebut hikmah. Tetapi, bila manusia menjadi kufur alias menutup diri terhadap kehadiran Yang Mutlak itu, ia akan terperangkap ke dalam misteri kehidupan yang sangat mengerikan.

Kemenangan Ibrahim
Chaos selalu menampilkan kemerdekaan manusia di dalam menentukan pilihan. Sementara kosmos menampilkan keharusan manusia untuk merealisasikan nilai tanggung jawab. Sikap berontak terhadap chaos yang tidak dilengkapi dengan sikap terbuka kepada Yang Transenden hanya bernilai sebagai bukti bahwa manusia itu merdeka. Namun, kemerdekaan yang demikian itu tidak mampu membangun kosmos yang baru, yang memberikan kehidupan kepada kemerdekaan itu sendiri.

Ibrahim as, meskipun dengan mata terpejam, menentukan pilihannya untuk patuh pada apa kata Allah. Ia tetakkan mata pedangnya ke leher Sang Putra tercinta. Itulah pilihan Ibrahim di dalam memerdekaan dirinya dari guncangan visi moral yang dialami. Ia sanggup mentransendir dari chaos untuk membangun kembali dirinya, dengan satu sikap yang didasari kepasrahan dan ketawakkalan yang bulat kepada Allah SWT. Dan itu merupakan kemenangan Ibrahim as sehingga ia layak disebut sebagai “bapak” dari para nabi.
Bahwa kemudian Allah mengganti tubuh Ismail dengan seekor domba, itu merupakan pelajaran bahwa mukjizat dari Tuhan layak diperoleh oleh jiwa yang sanggup bertawakkal secara total. Dalam kisah Nabi Ayub juga muncul keajaiban yang sangat mencengangkan. Oleh Allah ia diperintahkan untuk menghentakkan kakinya ke tanah, dan keluarlah sumber air—yang kemudian mampu mengobati boroknya secara tuntas (Surat Shaad ayat 42 dan 43).

Kita, terutama para pemimpin, dari tingkat yang paling rendah hingga pemimpin tertinggi, hendaknya bertauladan kepada Ibrahim as. Artinya, di dalam membangun diri dan dunianya ini mampu dan mau mengerahkan totalitas ketawakkalan dan menerima—setidaknya mempertimbangkan—apa kata Tuhan. Dengan demikian kita layak berharap ada keajaiban untuk kemaslakhatan bangsa kita yang semakin carut-marut ini. Sebagai Al-Mushowwiru (Dzat Yang Memberi Bentuk) maka keajaiban yang Dia berikan tentulah kontekstual dengan permasalahan bangsa kita. Sekurang-kurangnya berwujud sebuah prestasi kerja dan pengabdian yang terasa amanah, yang hasilnya (sangat mungkin) tidak terprediksi sebelumnya.
(Red HP /Nadjib Kartapati, sastrawan/pengarang tinggal di Jakarta)

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

twenty − four =