Bukan Anak Bodoh, Melainkan Anak Disleksia

0
514
Suasana pembelajaran di Sekolah Inklusi Cahaya Gemilang Pemalang

Pemalang, Harian Pemalang – “Anak kok Bodoh banget, sudah kelas 3 SD baca saja tidak bisa, jangankan lancar baca merangkai huruf pun kesusahan” kata seorang ibu ketika ngegosip tentang teman anaknya yang belum bisa baca tulis. “Kenapa gurunya menaikkan anak Bodoh itu sampai kelas 3?“ protes ibu itu selanjutnya.

Jangan mudah mengambil simpulan dan menyalahkan gurunya sehingga anak “bodoh” dapat naik kelas sampai kelas 3 atau curiga terhadap dewan guru kalau ada main dengan orangtua murid.

Kasus seperti ini memang nyata ditemui, dan anak tersebut bukanlah anak “bodoh” melainkan anak yang mengalami Disleksia.

Menurut Lusy Juwono, salah satu praktisi terapis fungsi luhur dan rehabilitasi di Yayasan Kasih Ibu Abadi Pemalang berpendapat bahwa disleksia merupakan gangguan belajar dengan perwujudan dalam kesulitan membaca, ejaan dan beberapa kasus matematika. Dalam hal ini terpisah dan berbeda dari kesulitan membaca karena penyebab lain, seperti kekurangan non-neurologis dengan penglihatan atau pendengaran, atau dari membaca intruksi yang buruk ataupun tidak dapat memahami. Dan disleksia itu sendiri masuk dalam kategori sebagai salah satu Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) .

Lebih lanjut Kepala Sekolah Inklusi Cahaya Gemilang Pemalang, menjelaskan bahwa Klasifikasi Anak Berkebutuhan Khusus,
Pengelompokan anak berkebutuhan khusus dan jenis pelayanannya, sesuai dengan Program Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa Tahun 2006 dan Pembinaan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar Dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional Pendidikan adalah sebagai berikut :
1. Tuna Netra
2. Tuna Rungu
3. Tuna Grahita: (a.l. Down Syndrome)
4. Tuna Grahita Ringan (IQ = 50-70)
5. Tuna Grahita Sedang (IQ = 25-50)
6. Tuna Grahita Berat (IQ 125 ) Jenius Talented : Potensi bakat istimewa (Multiple Intelligences : Language, Logico mathematic, Visuo-spatial, Bodily-kinesthetic, Musical, Interpersonal, Intrapersonal, Natural, Spiritual).
13. Kesulitan Belajar (a.l. Hyperaktif, ADD/ADHD, Dyslexia/Baca, Dysgraphia/Tulis, Dyscalculia/Hitung, Dysphasia/Bicara, Dyspraxia/ Motorik)
14. Lambat Belajar ( IQ = 70 –90 )
15. Autis
16. Korban Penyalahgunaan Narkoba
17. Indigo

Disleksia masuk urutan nomer 13 sebagai bentuk kesulitan belajar pada anak. Jadi sebenarnya disleksia bisa di deteksi. Ketika menemui anak sampai kls 3 Sekolah Dasar masih mengalami kesulitan dalam membaca atau mengejar maka guru maupun orangtua harus tanggap terhadap anak tersebut, serta tidak boleh langsung mevonis sebagai anak bodoh.

Disleksia tidak ada obatnya, akan tetapi disleksia secara individu dapat belajar membaca dan menulis dengan dukungan pendidikan dan tenaga profesional yg sesuai.

Sedangkan dalam pembelajaran sistem penulisan alfabet , tujuan mendasar adalah untuk meningkatkan kesadaran anak korespondensi antara grafem dan fonem serta menghubungkannya untuk membaca dan mengeja. Dalam pelaksanaannya harus memakai beberapa media dan teknik tersendiri untuk menghindari kebosanan pada anak disleksia. Kebosanan dikarenakan mereka biasanya lebih merasa tidak percaya diri ketika diajak utk membaca atau mengeja.

Anak-anak penyandang disleksia biasanya akan mengalami masalah-masalah sebagai berikut :
1. Masalah fonologi, adalah hubungan sistematik antara huruf dan bunyi, misal mereka akan mengalami kesulitan membedakan PAKU dengan PALU atau lebih sering keliru memahami kata2 yg mempunyai bunyi hampir sama LIMA PULU dengan LIMA BELAS. Kesulitan-kesulitan ini bukan karena masalah pendengaran tetapi berkaitan dengan proses pengelolaan input di dalam otak.
2. Masalah mengingat perkataan , anak disleksia biasanya mempunyai level kecerdasan yg normal namun mereka mempunyai kesulitan mengingat perkataan, contoh kadang sulit menyebutkan nama teman-teman di kelasnya , dengan penggunaan kalimat istilah TEMANKU YG LAKI-LAKI ITU…..atau menggunakan kalimat TEMANKU YANG DI SEKOLAH sebagai kalimat sebagai pengganti nama temannya.
3. Masalah penyusunan yang sistematis atau secara berurut.
Anak disleksia akan mengalami kesulitan dalam menyusun sesuatu secara berurutan, misal menyusun bulan dalam setahun, hari dalam seminggu atau susunan angka dan abjad.
4. Masalah ingatan jangka pendek ,
Anak disleksia mengalami kesulitan dalam memahami intruksi yang panjang dalam satu waktu yang pendek.
5.Masalah pemahaman sintaks
Anak disleksia sangat kebingungan dalam memahami tata bahasa, apalagi jika dalam waktu yang bersamaan mereka menggunakan dua atau lebih bahasa yang mempunyai tata bahasa yang berbeda.
Contoh dalam bahasa Indonesia di kita kenal sebagai diterangkan-menerangkan = tas merah
Dalam bahasa inggrisnya di kenal sebagai menerangkan -diterangkan = red bag.

Jadi anak disleksia sudah selayaknya kita berikan pendampingan dan ruang waktu tersendiri untuk memberikan bimbingan lebih di bandingkan anak-anak pada umumnya. Apabila anak mendapatkan gejala-gejala sebagai disleksia , segera konsultasikan pada tenaga profesional untuk segera di adakan pendeteksian dini. (Red HP)

Penulis : kontribusi dari Lusy Joewono, Kepala Sekolah Inklusi Cahaya Gemilang, Pemalang
Editor : Sarwo Edy

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

2 × 1 =