Lelaki Berewok

0
125

Cerpen oleh Nadjib Kartapati Z.

Gelar sarjana yang dua tahun ini kusandang, bukan saja tak mampu menolongku tapi bahkan makin menyengsarakan kehidupanku di Ibu Kota. Lamaran demi lamaran kerja itu hanya mampu memberiku harapan kosong. Harapan yang harus kubayar dengan napas ngos-ngosan mengejar bus kota saban hari, berdesak-desakan di dalamnya, ternistakan oleh senyum sinis pegawai personalia atau resepsionis kantor. Juga oleh tatap mata keputusasaan orangtua temanku yang kutumpangi menginap. Belum lagi sangu dari ayahku di kampung sudah nyaris tandas.
Kepanikan mulai menggayangku.
Setiap pulang menyebar lamaran kerja, aku selalu mampir di warung es Bang Oji. Begitu juga sore ini. Entah sudah keberapa kalinya aku bertemu lelaki itu. Lelaki berewok berwajah jernih. Perawakannya tinggi besar. Sinar matanya memancarkan optimisme tetapi sekaligus rasa syukur yang teduh. Sepertinya ia langganan tetap Bang Oji. Meski sering bertemu, baru sekarang ia menyapa dan menanyaiku.
“Biasa, Om, cari kerjaan. Tapi, yaaah, nggak juga nyenggol.”
“Cari kerjaan?” Ia bertanya dengan perhatian yang agak khusus. “Dengan cara apa kamu mencari kerjaan?”
“Menyebar lamaran kerja ke sana-sini, Om.”
Lelaki berewok itu tertawa. Nada tawanya rada aneh. Ada nada menyalahkan tapi tanpa kesan memperolok.
“Yang kamu cari pekerjaan, ‘kan?”
Aku mengangguk.
“Kalau begitu datang saja kamu ke alamat ini,” kata lelaki itu sambil mencabik secuil kertas bungkus rokok dan menuliskan alamat di atasnya. “Rumah ini tidak terurus. Kamu bisa bekerja dengan membersihkannya. Kamu mau, kan?”
Entah kenapa aku langsung mengangguk tanpa bertanya lebih jauh. Tapi apa salahnya daripada tak ada yang kukerjakan?
Lelaki berewok itu menyalamiku dengan goncangan yang agak keras sebagai isyarat bahwa kami sudah membuat kesepakatan.
Rumah itu besar dan cukup mewah. Hanya keadaannya sangat memprihatinkan. Hampir seluruh permukaan dindingnya kotor oleh debu. Juga kaca-kaca jendelanya. Sawang dan sarang laba-laba memenuhi plafon teras.
Rumah itu punya halaman luas. Kalau hanya duabelas mobil saja bisalah parkir di sana. Tapi, tak ada sejengkal tanah pun yang tidak ditumbuhi rumput. Jangan bayangkan rumput-rumput itu serupa rumput di taman. Mungkin lebih mendekati rumput hutan. Daun-daun kering kiriman dua pohon mangga yang berdiri kokoh itu pun berserakan di sana-sini. Agak menyamping memang ada taman, tetapi keadaannya nyaris sama, begitu kotor dan awut-awutan.
Ini jelas rumah suwung. Kalaupun ada penghuninya, pastilah pemalas berat atau pemabok. Aku melihat pintu utamanya terkunci. Aku mengintip ke dalam melalui jendela kaca yang harus kuusap dulu debu-debu yang melapisinya. Ai, tebalnya! Di dalam tak ada satu pun lampu yang menyala sehingga pandanganku tertutup kegelapan. Di tembok depan, di sebelah pintu utama, menempel kayu berukir bertuliskan nama pemiliknya: H. Achmad Bastari, SH.
Aku sempat menduga ini adalah nama lelaki langganan Bang Oji itu. Lalu apa maksudnya memberiku pekerjaan sinting ini? Bahkan seorang kuli kebon pun akan megap-megap membersihkannya. Ini pekerjaan kasar yang hanya meminta tenaga dan otot, yang tentu saja kurang sesuai dilakukan oleh seorang sarjana meski baru dua tahun menyandang gelar. Tapi kami sudah membuat komitmen. Itu soalnya. Aku menyesal kenapa kemarin tak kutanyakan berapa upah yang akan dibayarkan ke aku. Tapi, ah, aku percaya saja. Aku yakin langganan Bang Oji itu tak akan tega menambah penderitaanku.
Aku lalu membagi kerja ini menjadi tiga bagian. Bagian pertama membersihkan bangunan rumah; melenyapkan sawang dan sarang laba-laba di semua plafon, dan mengusir seluruh debu yang melapisi tembok dan kaca-kaca. Kutaksir paling cepat dua hari. Bagian kedua, menyapu dan mengepel lantainya, membersihkan daun-daun kering yang berserakan dan memotongi rumput yang tumbuh liar. Ini juga dua hari. Bagian terakhir, membakar seluruh sampah yang sebelumnya sudah harus kukumpulkan di pojok halaman. Sehari cukup. Kalau semua berjalan tanpa aral melintang, lima hari sudah kelar.
Perkiraanku tepat. Pada hari terakhir, sekitar jam empat sore saat aku selesai membakar semua sampah dan kotoran, datang seorang perempuan setengah baya. Ia turun dari mobil, lalu memandangi rumah dan sekelilingnya dengan takjub serta senyum gembira. Tapi di wajahnya yang berseri-seri itu seperti menyisakan tanda tanya. Begitu melihatku, ia langsung menghampiri.
“Hai, Anak Muda! Kamu yang membersihkan semua ini?”
“Iya, Tante.”
“Siapa yang menyuruh kamu?”
Aku bingung menjawab karena sampai detik ini belum tahu siapa nama lelaki berewok langganan Bang Oji itu.
“Pak Tejo ya?” tanya perempuan itu setelah melihatku kebingungan.
Aku semakin kesulitan menjawab, meskipun sebenarnya bisa kujawab dengan menggeleng atau mengangguk.
“Benar Pak Tejo?” Ia mengulang.
“Ya, Pak Tejo barangkali. Yang orangnya berewokan, Tante,” kataku berspekulasi.
“Betul!” sahutnya cepat. “Badannya tinggi besar, kan?”
“Benar, Tante.”
“Wah, mestinya ini semua tanggunganku. Ini pasti karena ia nggak sabar.”
Aku memandang perempuan itu penuh ketidaktahuan. Rupanya ia menangkap ekspresi ketidaktahuanku. Setelah mengajakku berkenalan dan menyebutkan namanya, Silvi Riyanti, ia mulai dengan penjelasannya. Rumah ini, katanya, adalah rumahnya yang sudah lama kosong sejak suaminya, H. Achmad Bastari, SH, pulang ke Rahmatullah. Sebulan lalu rumah ini dikontrak oleh sahabatnya bernama Tejo, yang berprofesi sebagai pengacara. Oleh Tejo, rumah ini akan dipakai sebagai kantor bantuan hukum.
“Ayo sekarang ikut aku ke dalam rumah,” ajak perempuan ini.
Aku mengikuti perempuan anggun bernama Silvi Riyanti itu. Ia membuka pintu dan bau apak udara rumah suwung langsung menabrak hidung. Ia menyalakan lampu dan membuka semua jendela yang di bagian luarnya sudah aku bersihkan. Udara yang menerobos masuk dan cahaya lampu sedikit mengurangi bau apak tadi. Kondisi dalam rumah ini sebenarnya masih relatif bagus. Mungkin hanya perlu membersihkannya dan mengapur ulang dinding-dindingnya.
“Mulai besok kamu bersihkan bagian dalam rumah ini!” katanya.
Aku mendelong menatapnya. Beberapa jenak aku tak bisa menjawab apa-apa.
“Kenapa?” Ia mengusut. “Apa Pak Tejo belum membayarmu?”
“Saya belum ketemu beliau lagi, Tante,” jawabku. “Waktu menyuruh saya bekerja, beliau juga tidak memberiku uang sama sekali.”
Silvi yang kupanggil tante ini menganguk-angguk memaklumi keadaanku. Ia lalu membuka dompetnya dan memberiku sejumlah lipatan uang ratusanribu.
“Beli cat tembok warna putih, rol, kuas, dan peralatan lain yang kamu perlukan. Kalau duitnya kurang, telpon aku,” katanya sambil memberiku kartu nama.
Aku menerima uang dengan perasaan kagum karena sudah memberikan kepercayaa penuh kepadaku. Setelah ia pergi, aku baru menyadari perananku. Demi Tuhan yang kumaksud pekerjaan bukanlah jenis ini. Tiba-tiba aku merasa menjadi manusia paling tolol sekaligus lembek seperti bubur. Kenapa aku tadi tidak menolak saja? Sekarang semua sudah terlambat. Uang sudah di tanganku. Itu artinya, aku harus memelihara kepercayaan yang sudah diberikan kepadaku.
Karena tidak ada orang yang mengawasi, aku bekerja dengan agak santai. Uang yang diberikan Tante Silvi terlalu cukup. Meskipun tidak tahu bagaimana hitungannya nanti, tanpa ragu aku berani memanggil tukang pijit tunanetra. Selama bekerja aku tidak pulang ke rumah orangtua temanku alias menginap di rumah ini.
Pada saat pekerjaanku hampir kelar, tante yang baik hati itu datang. Ia tampak surprise melihat hasil kerjaku, tapi tidak memberikan komentar apa pun. Ia malah mengusut lelaki berewok yang mengirimku ke rumah ini. Aku menjelaskan bahwa lelaki berewok itu aku kenal di warung es milik Bang Oji.
“Itu bukan Pak Tejo!” katanya tegas.
“Terus dia itu siapa, Tante?”
“Mana aku tahu? Sebentar lagi Pak Tejo akan kemari.”
Tak lama setelah itu muncul lelaki berewok yang disebut oleh Tante Silvi sebagai Pak Tejo. Berewoknya hampir sama dengan lelaki berewok yang di warung es Bang Oji. Tubuhnya juga sama tinggi dan besar. Ketika kutandaskan bahwa dia bukan orang yang menyuruhku membersihkan rumah ini, Tante Silvi dan Pak Tejo saling pandang.
“Tejo! Apa kamu tidak kenal pemuda ini?” tanya Tante Silvi sambil menunjukku.
Pak Tejo menatapku, lalu menggeleng.
“Apa kamu punya teman yang juga berewokan sepertimu?”
Pak Tejo menggeleng lagi, tapi masih terus memandangiku.
Lelaki berewok yang bernama Tejo ini berbeda dengan Tante Silvi. Dalam kasus ini, Pak Tejo lebih tertarik mengetahui jatidiriku lebih jauh sementara Tante Silvi tampaknya sudah terlanjur menganggapku sebagai buruh kasar.
“Kamu ini sebenarnya siapa?” tanya Pak Tejo.
Inilah sesungguhnya yang kutunggu-tunggu. Aku menjelaskan secara kronologis bagaimana ceritanya sehingga aku harus membersihkan rumah ini. Misteri lelaki berewok langganan Bang Oji itu memang tidak terpecahkan, tetapi mereka jadi tahu tentang jatidiriku yang sebenarnya.
“Jadi kamu ini sarjana?” tanya Pak Tejo.
Aku mengangguk.
“Sarjana apa?” sahut Tante Silvi yang mulai peduli pada identitasku.
“Sarjana hukum, Tante.”
“Subhanallah!” ucap Tante Silvi sambil menepuk pundakku. “Kamu sudah memberi Tante jasa baik. Sebelum ketemu kamu, seminggu Tante gagal mencari orang untuk membersihkan rumah ini. Dan semua jadi beres justru oleh tangan sarjana hukum….”
Tante Silvi lalu menarik lengan Pak Tejo lebih mendekat. “Tejo!” katanya serius. “Aku titip dia padamu. Beri dia tempat untuk bekerja di kantor hukum yang kamu dirikan. Didiklah dia menjadi pengacara yang handal. Dia jujur dan bertanggung jawab.”
Pak Tejo tidak keberatan. Ia memintaku mengajukan lamaran kerja yang katanya hanya sebagai formalitas. Lebih dari itu, Pak Tejo juga memintaku agar ikut mengurusi segala tetek-bengek persiapan membuka kantor baru.
“Kalau kantor hukum ini kelak bisa berhasil dan menjadi besar, kamu termasuk salah seorang perintisnya,” kata Pak Tejo.
Aku menjawab mudah-mudahan Allah mengabulkan. Yang sekarang sudah pasti, mulai hari ini aku telah memperoleh pekerjaan yang selama ini kucari-cari.
Selain kepada dua orang yang kukenal di rumah kosong itu, aku patut berterima kasih juga kepada lelaki berewok langganan Bang Oji. Sungguhpun belum jelas apa motifnya menyuruhku membersihkan rumah itu, tanpa tugas tersebut tak mungkin aku bertemu Tante Silvi dan Pak Tejo.
Seharian aku nongkrong di warung Bang Oji menungu kedatangannya. Begitu ia muncul, langsung kugenggam telapak tangannya. Dengan takzim aku mengucapkan terima kasih.
“Terima kasih untuk apa?” tanya lelaki berewok itu mendelong.
Secara singkat aku pun bercerita. Ia malah berdecak-decak heran.
“Aku tidak kenal Tante Silvi, apalagi Pak Tejo,” katanya polos. “Aku hanya sering lewat rumah kosong itu dan merasa prihatin. Itu saja.”
“Kenapa Om menyuruhku membersihkan rumah itu?”
“Lho, waktu itu ‘kan kamu bilang cari kerjaan. Aku hanya tahu bahwa bila seseorang mencari kerja, orang itu harus memulai dengan bekerja.”
Nalarku makin dibuat bingung oleh jawaban lelaki berewok ini.

Jkt, 2010.
(Red HP)

Penulis : Nadjib Kartapati Zuhri (Penulis, cerpenis, penulis skenario, dari Sekarjalak, Margoyoso, Pati, tunggal di Jakarta, menyabet berbagai penghargaan bergengsi)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

ten − five =