Manager IT HJNet Beberkan Tugas Utama Web Master Kelola Media Online

0
102
Anggota ISMARO setelah pelatihan jurnalistik dan pembuatan Web

Semarang, Harian Pemalang – Dunia digital, mewajibkan para pelaku usaha dan bisnis media online harus cakap, rapi, dan mampu memahami dunia maya tersebut dari sisi manajerial.

Dalam manajemen suatu media online, salah satu peran vital ada pada seorang web master. Sebab, ada tiga tugas utama web master atau IT yang mengelola website, laman, link atau situs dan media online.

Hal itu dibeberkan Web Master Harian Jateng Network (HJN), Mafatikhul Habibi, saat memberikan ilmu pembuatan dan pengelolaan website kepada puluhan mahasiswa dan mahasiswi UIN Walisongo Semarang, dalam pelatihan jurnalistik dan membuat website di Pondok Pesantren Yayasan Pengembangan Mahasiswa Islam (YPMI) Al-Firdausi Ngaliyan, Semarang, Senin (12/12/2016).

“Tugas utama yaitu pengecekan kondisi server, server itu ya komputer, cuma yang membedakan, server itu digunakan oleh orang banyak, kalau komputer itu bisa dipakai hanya satu orang,” beber dia.

Kedua, pengecekan Bug. “Itu pengecekan hal-hal yang error, misalnya di laptop dilihat bagus, tapi di HP kok jelek, nah itu tugas web master,” beber dia.

Ketiga, SEO atau search enggine optimation. “Seo itu, misalnya, saya punya artikel, nah bagaimana kalau dicari di Google itu bisa di atas sendiri. Kalau Google ada tekniknya, ada Bing juga tekniknya dan juga Yahoo juga ada tekniknya,” beber dia.

Semuanya, kata Habibi, menggunakan algoritma yang berbeda-beda. Dalam kesempatan itu, Habibi juga mencontohkan sejumlah media online dengan membandingkannya, seperti Detik.com, Kompas.com, Harianjateng.com dan sejumlah media online lainnya.

Kegiatan itu diikuti puluhan aktivis Ismaro yang dihadiri Mafatikhul Habibi Web Master Udinus Semarang yang membawakan materi pembuatan dan pengelolaan website dan Hamidulloh Ibda Direktur Utama Forum Muda Cendekia (Formaci) Jateng.

Sementara itu, Hamidulloh Ibda Direktur Utama Forum Muda Cendekia (Formaci) Jateng juga membeberkan bahwa budaya literasi mahasiswa saat ini mulai bergeser dari cetak menuju online. Maka, menurut dia, daripada menulis curhat, iseng dan hanya euforia di medsos, lebih baik tulisan itu disusun rapi dan dijadikan karya jurnalistik.

“Berbicara jurnalistik, maka variabelnya ada dua, yaitu ilmu jurnalistik dan karya jurnalistik. Kalau ilmu, saya kira Anda bisa belajar sendiri lewat berbagai sumber. Namun kalau karya, Anda harus banyak menimba ilmu lewat diskusi, pelatihan dan sharing dengan yang sudah ahli,” beber dia.

Ia juga menegaskan, bahwa mahasiswa yang tak bisa menulis sama saja hidup di zaman prasejarah. Sebab, zaman jadul itu adalah di mana manusia belum mengenal huruf. “Kan kita sekarang sudah punya ponsel hebat semua, laptop juga ada, internet lancar, kalau tak mau dan tak bisa nulis yang itu kebangeten,” beber dia.

Sementara itu, dijelaskan Muvidi Muazayyin Ketua Umum ISMARO Tuban UIN Walisongo Semarang, bawa kegiatan itu untuk membekali aktivis ISMARO tentang website dan juga membekali skill menulis.

Muvidi juga mengatakan, ISMARO merupakan organisasi yang mewadahi mahasiswa asal Tuban, Jawa Timur yang kuliah di Kota Semarang, terutama UIN Walisongo Semarang. (Red.HP)

Penulis : Kontributor HP Semarang
Editor : Sarwo Edy

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

12 − one =