Perlunya Kontrol Media

0
138

Oleh  : Mufazi Raziki Mahasiswa UIN Walisongo Semarang prodi Ilmu Falak

Pemalang, Harian Pemalang – Media massa merupakan sarana atau wadah sebuah informasi, hiburan, pendidikan dan juga sebagai control sosial. Fungsi media tersebut sudah sangat melekat dikalangan bagi pekerja media, yang kita kenal sebagai jurnalis. Akan tetapi, fungsi media itu perlahan tergerus dengan adanya kalangan media yang digunakan sebagai sumber dana pengelolaan media. Sehingga berdampak pada peralihan fungsi media dan sarat akan kepentingan pribadi.

Memang tidak semua media dan jurnalisnya melacuri fungsi tersebut, meski tidak sedikit pula yang melakukan hal sebaliknya. Media massa yang baik adalah media massa yang memberitakan sesuatu informasi yang aktual, terukur, dan terpercaya. Namun melihat kondisi sekarang ini, sarat sekali suatu informasi yang keaktualnya tidak pasti, bahkan bisa dikatakan sebuah kebohongan, yang marak disebut dengan berita hoax.

Berita hoax yang menyebar dikalangan masyarakat lewat akun-akun atau portal-portal yang tidak bertanggung jawab, menimbulkan  keresahan dan ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Kemunculannya  membuat doktrin yang kuat dan berakibat menghabiskan energi cukup besar untuk sekedar berdebat di dunia mya. Jika hal ini terus terjadi, dalam jangka panjang akan merugikan bangsa dan negara kita sendiri.

Ketika media massa menyampaikan sebuah informasi pada publik maka hal tersebut juga harus dibarengi dengan memberikan penafsiran. Dan penafsiran inilah yang kemudian bisa membangun sebuah pemikiran publik, yang mana jika hal tersebut salah atau kebohongan, maka akan menimbukan kerasahan bahkan keributan ditengah kalangan masyarakat.

Selain penyimpangan penafsiran, ada juga penyimpangan dalam fungsi hiburan. Tv,radio,Koran, majalah merupakan media yang memberikan hiburan kepada masyarakat dengan konten-konten ataupaun acara yang disajikan. Semakain banyak public yang menyukai dengan konten dan acara mereka maka semakin banyak pula profit yang didapatkan.

Namun dengan hal  tersebut, justru media massa kerap sekali melakukan penyalahgunaan. Misalkan saja acara hiburan yang tidak mendidik, menimbulkan pertengkaran dalam suku, ras, agama dan maupun hiburan yang lekat dengan pornografi.

Penyimpangan media sosial sejak dulu hingga sekarang menjadi topik yang paling banyak diperbincangkan publik. Betapa tidak, media massa adalah wadah informasi yang sekaligus sebuah wadah pemikiran publik. Sebagai masyarakat yang kritis tentunya permasalahan seperti ini dianggap penting, mengingat dampak negatif yang diberitakan.

Di era yang sekarang ini sangat mudah sekali menemui berita-berita yang tidak pasti keakuratanya. Sebut saja berita hoax, saat ini sangat menjadi buah bibir di masyarakat Indonesia. Informasi yang menyebar saat ini begitu mudahnya dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertangung jawab. Hal ini juga ditambah banyaknya pengguna internet di negara Indonesia yang tinggi, mencapai 132 juta pengguna menurut data dari APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia)

Berita hoax saat ini sulit sekali dikoreksi, mengingat informasi yang disebarkan dibuat sedemikian rupa dengan asli, dan dilengkapi dengan data-data yang disama-samakan seperti fakta yang ada. Hal ini jelas adanya pihak yang ingin membuat keributan dan kekacauan dikalangan masyarakat dan mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri.

Media yang menyebarkan berita hoax mempunyai beberapa  tujuan, dan yang paling banyak dijumpai adalah terkait dengan alasan politik dan ekonomi. Selain itu juga adanya situs yang sengaja memproduksi konten-konten untuk menyerang suatu oposisi. Dengan diikuti pembaca yang setia maka sangat mudah sekali mendoktrin dan tersebar luas. Dan jelas menghasilkan keuntungan materil bagi pihak penyebar berita.

Hal ini jelas harus ditindak tegas oleh pemeritah, melihat dampak yang ditimbulkan sangat meresahkan publik. Maka sudah semestinya pemerintah menindak tegas permasalahan  ini, serta menghimbau masyarakat agar tidak mudah percaya dengan suatu berita, khususnya bagi pengguna media massa.

Dalam hal ini pemerintah bisa melakukanya dengan membuat akun resmi atau mengambil peran sebagai penengah. Dengan melakukan pendekatan terhadap akun-akun yang berpengaruh, dan menjelaskan betapa bahayanya berita-berita yang berkembang dimedia sosial. Akun-akun ini bisa berupa personal ataupun kelompok.

Selain itu dengan mengadakan kerja sama dengan Google, dengan menghapus konten-konten hoax dalam mesin pencarian meraka. Dengan adanya permasalahan pajak, harusnya pemerintah mampu dan mudah melobi dengan posisi yang lebih kuat.
Terakhir dengan mengadakan kerja sama secara langsung dengan masyarakat, contohnya dengan membuat komunitas yang yang bertujuan untuk memerangi berita hoax, karena peran serta masyarakat jelas sangat dibutuhkan. Dengan cara melaporkan berita-berita yang hoax, dan menyebarkan kebenaran atas suatu berita hoax tersebut.

Maka sudah semestinya sebagai pengguna media sosial yang pintar (smartnetizen) untuk tidak mudah percaya dengan suatu berita, bandingkanlah dengan sumber-sumber yang lain terlebih dahulu. Jika dirasa belum pasti kebenaranya jangan disebarkan dan segera dilaporkan agar ditindaklanjuti. Bijaklah dalam menggunakan atau menanggapi suatu berita, dan anggaplah dunia maya seperti dunia nyata, yang mana harus sadar dengan etika-etika kebaikan yang harus kita patuhi. (Red.HP)

Penulis  : Mufazi Raziki, mahasiswa  Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Prodi : Ilmu Falak
Aktivis Surat Kabar Mahasiswa (SKM) Amanat UIN Walisongo

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

nine − 2 =