Pemugaran

0
81
Cerpen : Nadjib Kartapati Z
Jakarta, Harian Pemalang – Aku bersimpuh di samping jenazah Ustadz Jafar, dan tergugu dalam hati di hadapan puluhan pelayat yang tengah mendengungkan Surah Yasin. Tak seorang pun dari mereka tahu bahwa secara tak langung akulah penyebab kematian ustadz itu. Perasaanku sebagai pembunuh tiba-tiba membuatku mengkeret, sehingga aku menundukkan kepala sedalam-dalamnya sampai daguku nyaris menyentuh dada. Belum lagi kalau mendengar cerita bahwa Ustadz Jafar pernah menyumpahiku sebagai pelukis yang dengan sengaja mencampur-adukkan barang yang sah dan yang batil.
*
Aku sudah mengenal Ustadz Jafar semenjak Tuhan mengaruniaiku ingatan. Dia guru ngaji di kampung di mana aku pernah dilahirkan lima puluh tahun silam. Bisa dipastikan Ustadz Jafar wafat dalam usia lebih dari tujuh puluh tahun. Dia putra Haji Maksum yang mewakafkan sebidang tanahnya untuk musholla. Setelah sang ayah wafat, Ustadz Jafar harus menggantikannya sebagai guru ngaji karena dua orang saudaranya semua perempuan.
Waktu umurku sembilan tahun, Ayah memaksaku ngaji padanya di musholla yang berdiri di kaki bukit tak jauh dari rumah kami. Itu adalah satu-satunya musholla di kampung kami meskipun kondisinya memprihatinkan. Bangunan musholla itu separuh dari tembok, separuhnya ke atas dari kayu nangka dan beratap genteng yang kualitasnya paling buruk. Aku tidak tahu sejak kapan musholla itu berdiri. Di kampung selatan yang juga merupakan bagian dari desa kami ada juga masjid jami’, tapi jaraknya lumayan jauh. Itulah sebabnya semua anak di kampung kami belajar mengaji di musholla Ustadz Jafar.
Kata Ayah, warga kampung haruslah menghormati Ustadz Jafar karena jasanya yang sangat besar itu. “Dia mengajar ngaji tanpa minta bayaran, dan bahkan menolak dibayar. Bayangkan kalau ndak ada dia, mana ada anak yang mau ngaji ke kampung selatan sana?” Semua orang di kampung kami punya pikiran yang sama. Mereka memberikan penghormatannya kepada Ustadz Jafar. Apa pun kata beliau, sepanjang itu menyangkut urusan agama, didengar sekaligus dipatuhi. Aku sangat menyeganinya meski Ustadz Jafar menyayangiku karena aku pintar menggambar.
Saat usiaku lima belas tahun dan Ayah harus meninggalkan kampung itu karena tugasnya dipindah, musholla itu belum pernah diperbaiki, apalagi dipugar. Sebagai kenang-kenangan Ayah memberikan pintu kayu jati untuk mengganti pintu lama yang sudah mulai keropos. Pada saat itu segelintir warga yang hidupnya lumayan pada urunan untuk memperbaiki musholla. Tapi aku dan ayahku tak sempat melihat hasil perbaikan itu lantaran sudah pindah dan tak pernah kembali ke kampung itu lagi.
*
Kampung kelahiranku yang jauh terpencil itu pun akhirnya terlupakan dengan sendirinya, termasuk musholla dan Ustadz Jafar. Kalau tak salah ingat, terakhir kali mengenang kampung itu pada saat aku memindahkan bukit hijau yang di kakinya berdiri musholla itu ke dalam bentangan kanvas. Itu kulakukan pada awal perjalananku sebagai pelukis realis. Bahkan aku sudah lupa lukisan itu dibeli oleh siapa dan dibayar berapa. Sudah lama aku tak pernah lagi melukis alam mati seperti pemandangan. Lukisan-lukisanku sekarang mengambil objek yang bergerak dan aku tetap setia di jalur realisme kontemporer. Sekitar empat puluh lukisanku bercorak stop motion sedang kupersiapkan untuk pameran tunggal.
Tanpa pernah kuduga, seorang teman sekampung muncul menemuiku. Ini adalah pertemuan kami yang pertama sejak berpisah tiga puluh lima tahun lalu. Aku sempat pangling beberapa saat karena teman lama ini, Su’udi namanya, tampak jauh lebih tua dari usianya. Umurnya paling banter baru lima puluh tahun, tapi ubannya sudah merata. Kulitnya hitam mengkilat memberikan tanda bahwa sepanjang hari dia bekerja di bawah terik matahari. Ternyata aku tidak terlalu salah karena menurut pengakuannya dia jadi tukang kredit barang-barang rumah tangga yang setiap hari keluar-masuk pemukiman padat. Dia juga tinggal di Jakarta tetapi masih sesekali mudik, sedikitnya setahun sekali pada saat lebaran.
Ketika kuajak ke rumah, Su’udi tak henti-hentinya berdecak mengagumiku sebagai orang yang berhasil. “Kamu menjadi kaya raya sekarang. Hanya dari melukis?” tanyanya. Kujawab bahwa aku tidak pernah menjadi siapa pun kecuali pelukis, dan juga tidak pernah korupsi uang negara atau uang perusahaan mana pun juga. Su’udi terkekeh-kekeh. Kami mengobrol ke sana-sini akhirnya sampai pada soal musholla Ustadz Jafar nun di kaki bukit sana.
“Musholla kita dulu masih berdiri, tapi kondisinya sudah parah. Kaso dan kayu rengnya sudah banyak yang keropos. Tapi jamaahnya bertambah banyak. Sekarang yang ngajari ngaji menantu Ustadz Jafar, namanya Ahmad. Ustadz Jafar sendiri tetap menjadi panutan.”
“Kenapa nggak direnovasi?”
“Apa kamu mau kasih dana? Kalau iya, saya akan bilang ke Ustadz Jafar. Ayolah, Kawan! Ndak mungkinlah kamu jatuh miskin karenanya.”
Beberapa hari kemudian Su’udi memberitahuku bahwa Ustadz Jafar dengan sangat gembira menyambut kesediaanku memugar musholla itu. Bahkan, katanya, Ustadz Jafar masih mengingatku dengan baik. Aku lantas menghubungi manajerku dan panitia pameran yang sudah mulai mempersiapkan pameran tunggalku. Aku katakan kepada mereka bahwa lukisanku yang pertama kali terjual nanti, seluruh uangnya akan kusumbangkan ke kampung untuk pemugaran musholla, berapa pun jumlahnya. Aku sendiri yang akan mengantarkan uang itu sekalian silaturrahim kepada Ustadz Jafar dan melihat-lihat kampung kelahiran yang tiba-tiba kurindukan.
Tetapi apa mau dikata, kerinduanku itu belum bisa terwujud alias harus tertunda karena ada berita buruk dari Australi. Dua hari menjelang pameran, anakku yang sekolah di Melbourne mengalami kecelakaan lalu-lintas dan masuk rumah sakit. Aku dan istri terbang ke sana meninggalkan pameran tunggalku yang tinggal beberapa jam lagi dibuka. Syukurlah anakku cuma mengalami patah kaki yang harus di-gips beberapa bulan. Dia minta aku dan ibunya beberapa lama menungguinya di sana.
Dalam pertemuan terakhirku dengan Su’udi beberapa waktu setelah itu, dia bercerita bahwa pemugaran musholla sukses dan sudah selesai. Dia menyampaikan ucapan terima kasih dari Ustadz Jafar khususnya, dan dari warga kampung pada umumnya. “Berkat dana yang dikirim manajermu, sekarang musholla kita jadi bagus,” kata Su’udi sambil menepuk-nepuk pundakku.
*
Beberapa bulan kemudian aku sempatkan meninjau kampungku sendirian karena Su’udi sulit kubuhungi. Semula kupikir prasarana jalan sudah memadai sehingga bisa nyaman di perjalanan, tetapi ternyata kampungku seakan-akan tak tersentuh pembangunan.
“Bapak lebih baik naik ojek atau ikut truk yang mau ambil singkong di sana,” kata pegawai hotel tempat aku transit, yang menyayangkan kalau aku ke sana dengan mobil sedanku.
Aku menuruti saran pegawai hotel itu dengan naik ojek. Beberapa kilometer sebelum memasuki kampungku, motor yang kami tumpangi terus-menerus menggelinjang karena jalanan yang koyak dan berbatu. Serasa aku melakukan perjalanan jauh yang menguras tenaga sepuluh kali lipat dari perjalananku ke Melbourne.
Begitu memasuki kampung yang kutuju, aku melihat banyak warga berjalan ke arah rumah Ustadz Jafar. Mereka tidak mengenaliku, seperti aku juga tidak kenal seorang pun dari mereka. Sesuai permintaanku, tukang ojek menurunkan aku persis di depan musholla. Kupandangi musholla yang tampak belum lama direnovasi itu. Aku kemudian duduk di serambi musholla, dan merasa aneh ketika melihat pintunya tertutup rapat dan digembok. Aku mencium bau ganjil rumah suwung. Lantai keramik yang kududuki pun serasa berdebu seperti tak pernah disapu.
“Bapak mau sholat di sini?” tanya seorang pemuda yang sejak tadi memperhatikaku. “Kalau iya, sebaiknya cari tempat lain saja, Pak.”
Aku tercekat menatapnya. Seperti mengerti akan keherananku, pemuda itu kemudian menjelaskan bahwa Ustadz Jafar melarang warga sholat di sini karena musholla ini dibangun dari uang yang tidak halal.
“Apa? Uang yang tidak halal?” tanyaku kaget.
“Ya. Dari uang hasil menjual lukisan wanita telanjang. Kata beliau, pelukisnya sengaja mau mencampur-adukkan barang yang sah dan yang batil. Sudah tiga bulan musholla ini ndak lagi dipakai.”
Ustadz Jafar, demikian cerita pemuda itu, merasa sangat terpukul saat mengetahui hal itu dari koran. Sejak dipugar musholla ini hanya sempat dipakai sebulan sebelum akhirnya ustadz membaca berita tersebut di media massa. Aku sendiri baru sekarang menyadari tentang lukisanku yang mana yang pertama kali terjual dalam pameran tunggalku itu.
“Sepertinya sih, Ustadz merasa malu karena sebelumnya telah memuji-muji sang donatur yang disebut-sebut sebagai pelukis besar kelahiran kampung ini. Sejak itu kesehatannya terus menurun, lalu jatuh sakit sampa akhirnya wafat pagi tadi.”
“Innalillahi wainna ilaihi roji’un.”
*
Aku beringsut keluar rumah ketika seorang lelaki berpakaian serba putih datang dan duduk di sebelahku. Ruangan di mana jenazah Ustadz Jafar dibaringkan sudah penuh pelayat. Di luar rumah udara lumayan adem karena angin yang terus semilir. Aku mengambil duduk di deretan kursi kedua dari depan. Perasaanku masih terasa limbung dan aku makin menyadari betapa aku sudah membuat dosa dan masalah besar di kampung ini. Penyesalan masih saja mengaduk-aduk hati tetapi aku tidak tahu bagaimana mengatasinya.
Lelaki berpakaian serba putih tadi muncul diiringi oleh lelaki berpeci yang aku yakini anggota keluarga Ustadz Jafar.
“Silakan duduk, Dokter!” kata lelaki berpeci sambil membawa lelaki berpakaian putih itu duduk persis di depanku.
“Kami sekeluarga mengucapkan terima kasih Dokter sudah merawat mertua saya sampai akhir hayatnya,”
“Semua sudah takdir, Pak Ahmad. Sebaiknya kita ikhlaskan saja.”
“Iya, Dok. Cuma rasanya ndak enak saja kalau kepergian beliau hanya karena musholla. Sebetulnya itu ndak perlu terjadi. Soal asal-usul uang sumbangan itu kan urusan donatur sendiri dengan Allah,” kata lelaki berpeci yang ternyata menantu Ustadz Jafar. “Tapi persoalannya, siapa yang berani bantah almarhum? Apalagi saya yang cuma mantu. Anak-anaknya sendiri saja ndak berani ngomong apa-apa, padahal mereka lebih sepaham dengan saya.”
Aku menguping pembicaraan mereka secara lebih seksama, berharap menantu Ustadz Jafar ini akan lebih banyak bercerita.
“Soal musholla apa akan terus dibiarkan suwung seperti itu?” tanya Dokter.
Ahmad menarik panas berat sebelum akhirnya berkata bahwa dia ingin memfungsikan kembali supaya musholla tidak terbengkalai dan mubazir. Namun, katanya, dia juga bingung karena tidak ada jaminan warga kampung mau kembali berjamaah di sana. “Pengaruh mertua saya luar biasa kuat atas warga di sini, Dok.”
“Bagaimana kalau difungsikan untuk yang lain saja?” tanya Dokter. “Kalau memungkinkan, saya akan usulkan ke yayasan kami yang kebetulan sedang memerlukan sebuah balai pengobatan di desa ini.”
“Bagus itu, Dok. Tapi… tapi apa iya sih kami lantas ndak punya musholla?”
Aku tersentak oleh ucapan terakhir menantu Ustadz Jafar yang mendadak menggugah inspirasiku. Kepengecutanku membuka jati diri tiba-tiba menyadarkanku betapa pentingnya bertemu Su’udi untuk membantuku menyelesaikan ini semua.***
Jakarta 2008.
Catatan :

[1] Disalin dari tulisan Nadjib Kartapati Z.
[2] Pernah dimuat di Jurnal Nasional

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

4 + 1 =