Harlah Ke-94 NU, Merawat Tradisi Dan Kebudayaan Sebagai Pilar Paham Keagamaan

0
174

Pemalang, Harian Pemalang – Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia. NU lahir dari rahim para ulama dan pejuang yang berjuang untuk kemerdekaan NKRI. Sejak awal bersiri sampai dengan sekarang NU senantiasa setia mengawal NKRI serta telah membawa perubahan besar bagi kemajuan dan perkembangan dakwah Islam yang toleran yang penuh dengan kedamaian, sebagaimana yang telah di contohkan oleh pendiri NU KH. Hasyim As’ari. Dengan meneruskan perjuangan dakwah Walisongo yang penuh toleran dan kedamaian, NU telah memberikan perubahan bagi toleransi umat beragama di Indonesia.

Hari ini, NU telah mencapai usianya yang ke-94, sebuah usia panjang bagi perjuangan dakwah Islam di Indonesia. Selama ini, NU banyak mencetak kader-kader pejuang yang tangguh dan punya dedikasi besar bagi bangsa keutuhan NKRI, bagi NU NRI adalah Harga Mati. Pesan itu akan terus dikumandangkan, karena pesan itu merupakan amanat besar para pejuang pendiri bangsa Indonesia. Sebagai penerus perjuangan, kita semua wajib hukumnya melaksanakan amanah untuk tetap menjaga keutuhan NKRI.

Sebagai penerus perjuangan dan penjaga NKRI, semangat itu pulalah yang harus selalu di tanamkan dalam setiap diri warga NU, bahwa setiap langkah dan kebijakan yang diambil harus didasarkan pada semangat membela kebajikan dan melawan yang batil, untuk kemaslahatan umat. Hal itu pula berlaku dalam aspek politik, pemerintahan, budaya, sosial, hukum dan aspek-aspek lain dimana warga NU berkiprah. NU adalah kekuatan moral, dan selalu akan menjadi kekuatan moral untuk kepentingan bersama. Tidak hanya untuk kepentingan NU sendiri tetapi untuk seluruh umat dan bangsa.

Kesadaran NU terhadap toleransi kehidupan beragama, sebetulnya bukan sesuatu yang baru, atau karena menyesuaikan diri dalam kondisi perubahan politik, atau karena akhir-akhir ini Indonesia mengalami banyak konflik antar umat beragama. Sejak awal berdirinya NU, ada empat tradisi bermasyarakat yang sudah dijalankan dalam hidup berdampingan dengan kelompok Islam lain atau kelompok non-Islam, keempat tradisi tersebut adalah: keseimbangan, toleran, moderat, dan adil.  Tradisi tersebut membuat warga NU melihat hubungan antar agama sebagai sesuatu yang penting dan menjadi bagian dari semangat keseimbangan, toleransi dan keadilan. Toleransi juga merupakan bagian dari kebudayaan, dan bagi NU kebudayaan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah NU.

Mudah-mudahan, dengan bertambahnya usia, NU akan semakin membawa kedamaian dan kemaslahatan bagi masyarakat bangsa dan negara tercinta Indonesia, sehingga kehidupan yang harmonis antara satu agama, satu bangsa dan sesama manusia dapat terwujud dan NU akan senantiasa menjadi pelopor mengajarkan pada masyarakat akan pentingnya kerukunan di antara umat beragama dan masyarakat, serta menjadi garda terdepan keutuhan NKRI tercinta. Selamat Milad NU Ke-94.

Penulis  : Slamet Riyadi
Ketua GP. Ansor Ranting Pegiringan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

four × four =