Jangan Usik Keharmonisan Kebhineka Tunggal Ika

0
109

Pemalang, Harian Pemalang – Sejak Islam transnasional mulai muncul di Indonesia sekitar tahun 80-an sampai 90-an eksistensi pancasila mulai terkikis, keharmonisan bangsa dengan keragaman suku budaya agama dan ras yang mulai terancam akan keberadaanya. Bangsa yang telah bertahun-tahun di bangun  oleh para pahlawan kita, dengan  latar belakang berbeda-beda baik suku, ras dan agama dengan penuh perjuangan dan tetesan darah dari para penjajah negeri ini.

Namun bangsa yang bertahun-tahun telah diperjuangkan oleh para pahlawan kita dengan pancasila dan UUD 45 sebagai konsensus Nasional yang diterima secara luas oleh masyarakat dengan kondisi masyarakat yang beragam, budaya agama dan ras yang mampu hidup harmonis dari berbagai perbedaan, tetapi kondisi yang seperti ini mulai terusik keharmonisanya oleh bebrapa kelompok yang menghendaki Indonesia menjadi Negara Islam.
Sebagai contoh yang akhir-akhir ini santer terdengar yang termuat di berbagai media baik cetak maupun elektronik adalah gerakan Hizbut tahrir Indonesia atau yang lebih dikenal dengan sebutan HTI, gerakan ini mempunyai misi ingin menegakan kembali Islam ingin mengajak semua umat muslim hidup secara islam dalam Darul Islam, semua kegiatan masyarakat sesuai dengan hukum Islam, yang jadi pedoman halal dan haram yang di bawah naungan daulah islamiyah dan di pimpin oleh seorang khilafah yang di angkat dan bai’at oleh seluruh orang muslim.

Hizbut Tahrir masuk ke Indonesia pada dekad tahun 1980-an dengan merintis dakwah di kampus-kampus besar di seluruh Indonesia. Pada era 1990-an idea-idea dakwah Hizbut Tahrir merambah ke masyarakat, melalui berbagai aktiviti dakwah di pejabat, perusahaan, dan kediaman. Akhirnya Hizbut Tahrir telah masuk ke Malaysia pada hujung tahun 1990-an.

Hizbut Tahrir Indonesia merupakan bagian dari jaringan internasional Hizbut Tahrir yang didirikan pada tahun 1953 di Jerussalem. Pendirinya adalah Taqiyuddin Al-Nabhani bersama para koleganya yang merupakan sempalan dari organisasi Ikhwanul Muslimin yang berpusat di Mesir. Al-Nabhani sendiri adalah lulusan Al-Azhar Mesir yang berprofesi sebagai guru sekolah agama dan hakim. Ia berasal dari Ijzim, Palestina Utara.

Ketika sistem khilafah ini diterapakan di negeri yang majemuk, seperti bangsa Indonesia yang kaya akan budaya, suku, ras dan agama apakah mungkin sistem khilafah akan di terapkan  dengan mengorbankan seluruh aspek yang ada, yang pasti pertumpahan darah akan terjadi dimana-mana dan keharmonisan yang di harapkan setelah di terapkanya khilafah akan hilang tak berbekas.

Lantas bagaimana kita sebagai umat Islam untuk menyikapi hal ini?
Akankah kita melawan untuk mempertahankan eksistensi pancasila sebagai dasar Negara.(Red.HP)

Penulis : Zaenal Muhsin Alfarizi
PMII komisariat Patih Sampun Pemalang

Foto ilustrasi by Google

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

nineteen − 16 =