Long Weekend Untuk Belajar Yang Menyenangkan

0
71
Tangerang Selatan, Harian Pemalang – Liburan tidak harus dengan pergi ke beberapa tempat hiburan. Itulah yang dilakukan oleh para santri Kampus Hafiz Bawah Sutet. Tempat belajar yang berdiri persis di bawah kaki Sutet, dan berhimpitan dengan Perum Pamulang Elok itu tetap menjadikan sarana yang seadanya sebagai tempat multi guna. Selain untuk belajar mengajar juga untuk uji kompetensi, seperti lomba, praktikum, dll.

Uniknya, untuk mengisi liburan panjang yang ada selama dua pekan ini, tiga hari berturut-turut, para santri diajak bernostalgia dengan beberapa metode belajar. Namun mereka sebenarnya tetap belajar seperti hari-hari biasa tanpa merubah waktu belajar sebagai saat berlibur. Hanya saja dikemas dengan beragam cara  yang menyenangkan tanpa menimbulkan rasa penat pada santri.

Kampung Hafiz yang didirikan oleh Khoirul Anwar Afa, dkk sejak 2014 silam ini memiliki komitmen untuk mencetak generasi yang nantinya ahli di berbagai bidang keilmuwan yang hafal al-Quran. Maka di setiap belajar materi apapun tidak pernah meninggalkan hafalan al-Quran.

Beragam metode itu diajarkan langsung oleh Himpunan Mahasiswa Prodi PKN UNPAM (Universitas Pamulang), yang diwakili 7 Mahasiswa, Juwita (22), Maya (21), Habib (22), Iren (22), Muhib (22), Yogi (23), dan Wandi (25). Di antara metode yang dipaparkan yaitu:

Cerita

Salah satu tujuan metode ini disampaikan untuk menghilangkan kebosanan, karena pada hari libur ini pasti para santri juga berkeinginan untuk pergi berdestinasi layaknya yang lain. Untuk itu, para santri harus diajak untuk ceria sebagai faktor penunjang belajar.

“Karena dengan kecerian maka kita akan bisa menyampaikan apa yang kita inginkan. Dan dengan cerita maka anak-anak nantinya juga bisa menyampaikan kepada adik-adiknya, baik dari segi nilai dari cerita itu,” Ungkap Habib.

Ia juga menceritakan tentang manfaat cerita dan keunggulan dari metode cerita yang beberapa kali telah sukses ia amalkan.

“Berdasarkan pengalaman saya, menggunakan cerita dapat lebih melekat dan mudah diingat apabila nantinya ketika di masyarakat menemukan peristiwa yang sama dengan apa yang kita sampaikan,” beber Habib yang merupakan pengajar di SD al-Auliya Pondok Aren, Tangsel.

Dia juga menceritakan bahwa dirinya sering menggunakan metode cerita itu kepada para anak didiknya jika suatu saat bosan diajak untuk belajar.

“Metode seperti ini saya gunakan ketika mendapati anak-anak didik saya yang merasa penat dengan pelajaran. Maka mereka mengatakan yah belajar lagi. Akhirnya saya jadikan pelajaran itu sebagai cerita dan berhasil bahkan anak-anak minta nambah lagi,” Pangkas dia.

Namun, dengan cerita yang materinya masih bersifat umum perlu adanya kesimpulan. Maka pencerita selain pandai mengemas cerita itu menjadi menarik, juga harus pandai untuk menyimpulkan.

Hal itu diungkapkan oleh Juwita, “Dari cerita yang masih bersifat umum dan belum ditemukan nilai-nilai edukatifnya, perlu diberikan kesimpulan. Cerita itu materinya bisa dari apa saja sih, dari hewan, manusia, akan tetapi perlu dipertegas apa inti dari cerita itu,” tandas Mahasiswi asal Jambi itu.

Hormati Ibu

Bertepatan dengan Hari Kartini tanggal 21 April kemarin, Santri Kampung Hafiz digembleng agar dapat memahami benar apa makna dari diperingatinya Kartini, hingga dijadikan Hari Kartini. Serta dijelaskan seluk beluknya dengan rinci bagaimana sejarah Kartini. Penggemblengan ini melalui media film. Para santri diajak untuk menyaksikan langsung tayangan sekilas tentang bigrafi Kartini, kemudian dilanjutkan dengan pemaparan dari Kak Maya inisiator pembuat metode nonton dan pemapar cerita Kartini.

Maya menegaskan jika apa yang telah ditonton dari film Kartini itu harus mengeksplor pesan-pesan moral. Karena selain mengenali pelajaran dari perjuangan sang Pahlawan perempuan itu, juga memberikan pesan untuk menghormati kaum perempuan khususnya ibu.

“Jadi pesan dari film Kartini adalah semangat perjuangan dari seorang perempuann yang hidup di bawah tekanan dan pada tradisi yang mengharuskan perempuan berada di dapur saja,” Ujar dia.

Setelahnya, perempuan asal Lampung itu menginisiasi pasca menyaksikan film Kartini juga menyaksikan film edukatif tentang sejarah ibu. Yang mengidentikkan pesan untuk berbakti kepada seorang ibu karena telah susah payah mengandung, melahirkan, hingga membesarkan.

Kegiatan mengajar yang diaplikasikan oleh Himpunan Mahasiswa PKN UNPAM ini sebenarnya sebagai mediator untuk mengembangkan ilmunya. Jadi dengan adanya lapangan Kampung Hafiz Bawah Sutet, mereka menjadi lebih kreatif.

Pernyataan itu disampaikan langsung oleh ketua P3M (Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat) periode 2016-2017, Yogi. Ia menegaskan jika dirinya sangat berterimakasih dan memberikan apresiasi kepada para teman-temannya yang telah berjuang dan menelurkan ide-ide kreatif untuk Kampung Hafiz Bawah Sutet.

Kalimat yang senada juga disampaikan oleh Wandi, Ketua P3M periode 2015-2016. Menurutnya, kegiatan seperti ini merupakan Tridarma di setiap PT (Perguruan Tinggi) manapun. Jadi, kegiatan seperti menjadi bekal ketika mahasiswa nanti terjun di masyarakat langsung. (Red.HP)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

20 − 20 =