Diskusi Untuk Selamatkan Hutan Magrove Mojo

0
155

Pemalang, Harian Pemalang – Salah satu destinasi wisata alam yang dapat di banggakan oleh kabupaten Pemalang pada saat ini adalah adanya hutan mangrove, yang terletak di pantai kawasan Desa Mojo, Kecamatan Ulujami, Kabuapten Pemalang Jawa Tengah. Namun demikian keberadaan hutan mangrove tersebut keberadaannya semakin lama semakin memprihatinkan, baik keadaan mangrove maupun luas wilayahnya yang semakin menyusut terkena abrasi.

“Kabupaten Pemalang memiliki luas mangrove sekitar 2.839,44 ha namun mengalami kerusakan mencapai 453,38 ha atau sekitar 16%, dari luas mangrove yang terdapat di seluruh Kabupaten Pemalang,” kata Raharjo, S.IP., M.AP kabid pengendalian dan konservasi lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup(DLH) Kabupaten Pemalang ketika menyampaikan kisi-kisi pada Forum Diskusi Group( FGD) Colaborative Management Kawasan Ekosistem Esensial, Desa Mojo, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah pada Kamis( 18/05/2017) di aula komplik Perkantoran DLH Kabupaten Pemalang.

Lebih lanjut Raharjo menyampaikan, menurut data Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pemalang tahun 2015, Desa Mojo mempunyai panjang pantai 5, 90 km dengan luas mangrove 438.000m2 dengan komposisi vegetasi pesisir yang ditemukan di pesisir Desa Mojo Sangat beragam termasuk terdapat 32 jenis burung yang dilindungi yang merupakan burung migran dari luar wilayah Pemalang, bahkan antar benua. Sedangkan Kawasan mangrove Desa Mojo mendasari pada perda nomor: 3 tahun 2011 tentang rencana tata ruang Wilayah Kabupaten Pemalang tahun 2011-2031 merupakan kawasan pantai berhutan bakau yang mempunyai ketentuan yang ada di RTRW tersebut. Dan data terakhir untuk kawasn hutan mangrove yang semula luasan tutupan bakau sekitar 14,5 ha sekarang berkurang menjadi di bawah 10 ha, hal tersebut berdampak pada kerusakan mangrove di Desa Mojo Kecamatan Ulujami Kabupaten Pemalang dan dapat dipastikan luasan tutupan bakau akan semakin berkurang dan bahkan hilang dalam peta kabupaten Pemalang, apabila tidak ada yang berupaya untuk melakukan pelestarian di lokasi tersebut.

Diakhir penyampaian kisi-kisinya dalam FGD, Raharjo menyampaikan maksud dan tujuan FGD adalah mencari pola dalam mewujudkan sistem pengelolaan kawasan mangrove secara lestari dan berkesinambungan sehingga berdampak pada peningkatan tutupan bakau serta pengelolaan yang lebih maksimal, mengindetifikasi rencana aksi, Dan melakukan penandatanganan nota kesepahaman berkaitan dengan rencana aksi yang sudah disetujui,”dan yang tak kalah penting adalah mendukung penetapan kawasan mangrove Desa Mojo menjadi Kawasan Ekosistem Esensial melalui Keputusan Bupati Pemalang dengan luas 84,5ha yang terbagi menjadi dua pemanfaatan yaitu: Kawasan Budidaya/pemanfaatan(kondisi sekarang) seluas 14,5 ha dan Kawasan Konservatif seluas 70 ha (lokasi laguna seluas 50 ha dan lokasi timur mangrove seluas 20ha, serta merencanakan penataan KEE dengan diawali dengan studi penataan kawasan ekosistem esensial pada anggaran perubahan tahun 2017.

Forum Diskusi Group (FDG) itu sendiri dihadiri oleh Rabadi, anggota DPRD Pemalang Komisi:B, AKP. Sunardi(Kasatpol Airud Polres Pemalang), Sudarno(dispora), Didid Purwoko  (Dinas LHK Prov. Jateng), Reki Parasdyasari (seksi konservasi Wil:II BKSDA Jateng), Tolani( Lsm OISLA), Andi Rustono (Dewan Kesenian).(Red.HP)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

4 + ten =