Kota Pemalang, Puasa Ramdhan, dan Kebudayaan Jawa

0
329
JIBI/SOLOPOS/ Sunaryo Haryo Bayu Pedagang bunga tabur di Pasar kembang, Solo menambah stok bunga tabur saat puncak musim Sadranan, Selasa (24/6). Pera pedagang dan pemasok bunga saat ini mengambil untung akibat melonjaknya harga bunga tabur dari Rp20.000,- menjadi Rp50.000,- per keranjang

Opini Mahasiswa
Oleh : Lutfi Aminuddin

  • Mahasiswa Fakultas Pendidikan dan Keguruan
  • Ketua divisi riset Skandinavian Corner Club Surakarta

Pemalang, Harian Pemalang – Bulan Ramadhan adalah bulan yang paling di nanti-nanti oleh umat Islam di Indonesia, karena bulan ini adalah bulan penuh “karomah” yang setiap ibadah umat Islam akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT, bulan Ramadhan juga identik dengan “bulan sakral” karena ada kebudayaan, tradisi dan adat istiadat yang ikut mewarnai dalam menjalankan “aneka rupa ibadah” pada bulan Ramadhan ini.

Tradisi, adat istiadat, dan kebudayaan yang ikut mewarnai dalam kegiatan ibadah di bulan Ramadhan ini bisa dijumpai di Kota Pemalang (Kota kelahiranku), juga kota-kota di Jawa, bahkan di luar Jawa (Indonesia) saya kira.

Tradisi yang unik di Pemalang dalam menjalankan bulan Ramadhan salah satunya yaitu melakukan ritual “Padhusan” yaitu ritual penyucian diri dari segala kotoran-kotoran yang melekat di tubuh (najis mugholadoh, mukhafafah ,dlsb) ada tempat-tempat tertentu di Pemalang yang cukup favorit untuk menjalankan ritual ini salah satunya di pemandian Gunung Slamet (Guci).

Tradisi unik lain yang ada di Pemalang yaitu tradisi, “Tong-Tong Prek”. Tong-Tong Prek ini semacam “beduk keliling” yang di tabuh pada saat menjelang sahur (Jam 2 malam) dengan diiringi perabotan bekas rumah tangga seperti piring, botol kecap, kentongan, ember rusak, dan perabotan bekas lainya. Perabotan bekas ini di “tabuh” bersama bedug lalu diarak dengan “slongkro” (grobak) ke rumah-rumah warga menghasilkan bunyi-bunyi yang indah sambill meneriakan “sahur-sahur”, dulu saya paling aktif mengikuti tradisi “Tong-Tong Prek” ini bersama kawan-kawan.
Keaktifan saya dalam mengikuti tradisi “Tong-Tong Prek” ini juga banyak di praktikan oleh pemuda-pemuda lain di Pemalang, tradisi ini seperti sudah menjadi budaya di masyarakat Pemalang, bahkan setiap dusun-dusun di Pemalang pasti menjalankan tradisi ini, dan uniknya “tabuhan” yang dibawakan oleh setiap dusun umumnya berbeda-beda.

Tradisi unik berikutnya di Pemalang adalah tradisi “Banyu Kembang Geni”, tradisi Banyu Kembang Geni adalah tradisi masyarakat Pemalang yang dijalankan ketika puasa Ramadhan malam terakhir (menjelang takbiran), Banyu Kembang Geni itu terdiri aneka kembang beragama rupa seperti melati, mawar, kantil, dlsb yang direndamkan ke dalam air berwadah “rantam” lalu diletakan di depan rumah-rumah dengan diterangi sebuah lilin atau “damar” pada malam takbiran hingga menjelang pagi, air yang berisi rendaman bunga dalam wadah rantam ini kemudian disiramkan ke makam orang tua maupun sanak saudara yang sudah meninggal yang dilaksanakan setelah “Shalat Idul Fitri”, makna filosofis “ Banyu Kembang Geni” ini diartikan supaya kuburan sanak saudara kita di berikan penerangan di dalam kuburnya seperti terangnya sebuah damar.

Pada akhirnya tradisi, adat istiadat, dan kebudayaan tertentu pada bulan Ramadhan yang ada di Pemalang ini saya kira harus tetap dilestarikan, mengingat tradisi seperti “Banyu Kembang Geni”, dan lain sebagainya ini tidak saya temukan di kota-kota lain di Jawa seperti di kota Surakarta, kalau bukan masyarakat Pemalang sendiri yang melestarikan saya yakin bisa hilang.

Saya juga menghimbau kepada saudara-saudara yang mempunyai tradisi-tradisi unik di masing-masing daerah tempat tinggal kalian untuk merawat tradisi-tradisi di bulan Ramadhan yang unik itu supaya anak cucu kita nantinya tahu dan tidak kehilangan identitas dirinya, jangan takut dituduh “ kafir-sesat” dan dianggap bid’ah lantaran tidak ada tuntunan Islamnya ataupun sunah rosulnya, jawab saja yang mengkafir-sesatkanmu itu dengan jawaban “bahwa nguri-nguri kebudayaan itu termasuk ke dalam iman (hubulwato minal iman), karena cinta negara bagian dari iman. Menjadi orang Islam tidak harus meniru secara “frontal” kebudayaan Arab.

Karena negeri ini bukan negeri padang pasir, disana ada onta disini ada sapi, disana ada abaya (jubah), disina ada baju koko, disana ada roti bika, disini ada roti apem . (Red.HP)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

sixteen − 4 =