Bangsa Ini Harus Belajar Dari Begawan Tuban

0
78

Semarang, Harian Pemalang  – Sejumlah kelompok mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Silaturahmi Mahasiswa Ronggolawe (ISMARO) bekerjasama dengan Formaci Press melakukan bedah buku “Nasihat Begawan Tuban” dilanjutkan dengan buka bersama di Taman Jati Kampus 2 UIN Walisongo Semarang, Senin (12/06/2017) sore meghadirkan penulisnya langsung Ahmad Ali Zainul Sofan, seorang pemuda asal Desa Wotsogo, Kecamatan Jatirogo, Kabupten Tuban, Jawa Timur.

Ofan, panggilan akrabnya selaku penulis mengungkapkan beberapa hal yang ada didalam buku tersebut mulai dari daerah Tuban sebagai kota yang mempunyai sejarah panjang dan berperan besar dalam sejarah perjalanan kerajaan di Nusantara hingga berdirinya negara Republik Indonesia.

“Tidak asing lagi beberapa tokoh asal Tuban yang mengukir prestasi besar dalam kancah nasional sejak zaman kerajaan hinggan saat ini. Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Ranggalawe, KH. Ali Mansyur (Pengarang Solawat Badar), Koes Plus grup musik legendarais dan beberapa tokoh yang telah menorehkan prestasinya. Tentu dalam diri mereka tersemat dari mana mereka berasal, yaitu daerah tercinta yang bernama Tuban,” ungkapanya mengawali pembuka diskusi.

Dalam isi buku tersebut, Ofan mengungkap banyak hal yang terjadi di Tuban, ia juga megamati saat ini Tuban sebagai daerah Industri, terbukti berdiri dua pabrik besar semen di daerah Merakurak dan Tambakboyo. Sebuah daerah yang pasti mendapatkan APBD besar dari perusahaan milik negara dibawah naungan BUMN dan swasta. Tetapi masih ada beberapa ketimpangan yang terjadi, terutama di masyarakat sekitar kawasan pabrik semen yang masih belum mendapat hak layak sebagai  warga negara.

“Saya merasa prihatin dengan kondisi masyarakat sekitar pabrik semen yang masih belum mendapat hak yang layak sebagai warga negara. Dalam sisi pendapatan tentu Tuban mempunyai anggaran yang cukup dari adanya usaha milik negara dan swasta. Ketimpangan yang terjadi adalah banyaknya warga sekitar pabrik yang mesih banyak merantau ke darah luar Tuban, sehingga saya merasa kebijakan pemerintah tidak adil terhadap waraganya,” paparnya.

Dalam sisi kebudayaan Tuban juga sangat kaya bahkan sebagai proklamator kebudayaan Islam di Tanah Jawa. Masyarakat Jawa sangat kental dengan Ingkung (ayam utuh dimasak langsung dengan cara diikat) merupakan buah karya dari Kanjeng Sunan Bonang yang mendesain dari ajaran agama Tantrayana, yaitu sebuah upacara adat dengan beberapa sesaji dianatara Ingkungnya adalah manusia. Dengan kearifan Sunan Bonang merubah metode upacara tersebut dengan Tumpengan. Selain itu, Tuban juga sangat terkenal dengan Towak, sebuah minuman hasil fermentasi dari Legen yang berasal dari pohon aren. Ofan mengajak para peserta diskusi tentang fenomena minum  Towak yang marak di Tuban.

“Sebenarnya Towak itu tidak buruk, begitu juga meminumnya. Masyarakat menganggap hal tersebut sebagai perilaku menyimpang karena memabukkan, ya memang Towak memabukkan, tetapi dalam penggunaanya atau mengkonsumsinya harus tau untuk apa dan bagaimana meracik supaya menjadi barang yang bermanfaat, sampai saat ini masih belum ditemukan. Tetapi ada beberapa lembaga atau seseorang yang meneliti fungsi dari Towak itu sendiri. Toh, kalau mau dihilangkan itu juga tidak bisa. Sebab itu merupakan warisan kebudayaan turun-temurun  dari leluhur  terdahulu.” Katanya.

Banyak yang diungkapkan penulis terhadap peserta diskusi dengan detail, ada yang manarik dalam diskusi tersebut ketika seorang peserta bernama Hamid bertanya. “Menurut pemateri kira-kira Tuban kedepan itu harus bagaimana dari keadaan yang tadi disampaikan kurang baik,” tanya Hamid.

Pertanyaan Hamid langsung direspon oleh Penulis. Sebagai daerah yang sangat tua tentu harus menjadi contoh terutama bagi Indonesia yang hanya baru berusia 73 tahun dari kemerdekaanya. Ia juga mengungkapkan gerakan umat Islam di Tuban sudah sangat masif dan secara otomatis akan menjadi sebuah benteng yang kokoh bagi negara maupuan umat Islam sendiri.

“Masyarakat Tuban, tertama umat Islam kalau saya melihat sudah menunjukkan gerakan yang sangat bagus dan menjadi contoh dibeberapa tempat lain. Coba anda lihat disetiap masjid seluruh wilayah Kabupaten Tuban ada kegiatan setiap minggu bernama “Wisata Rohani”. Sebenarnya ini merupakan  kekuatan besar kita dari fitnah, hujatan, adu domba, dan penghinaan umat Islam yang saat ini terjadi. Pengajian semacam itu sangat perlu dilakukan sebagamana saya tulis dalam buku saya berjudul Pengajian Sebagai Kekuatan Bangsa Indonesia,” jawabnya.

Usai acara diskusi dilanjukan buka puasa dengan makan bersama ala anak pesantern diantara pohon jati kampus yang rindang. Antusias para peserta memicu penulis memberikan hadiah kepada peserta diskusi yang berasil menjawab perntanyaan pemateri seputar sejarah Kabupaten Tuban. Mereka yang mendapat buku adalah Ihda Sofia, Tya, dan Farid, masing-masing merupakan mahasiswa UIN Walisongo semarang dari Kabupaten Tuban.

Sementara itu, Direktur Formaci Press Dian Marta Wijayanti mengapresiasi karya pria asli Tuban tersebut. “Buku ini mengajak kita untuk tidak meninggalkan kearifan lokal, apalagi saat ini sudah nyata, banyak gempuran globalisasi yang menyeret pemuda untuk tidak mengenal siapa itu mbah-mbah dan nilai-nilai lokal kita,” beber dia. (Red.HP)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

one + twelve =