Dalam Bayangan THR

0
156
Oleh : Hamidulloh Ibda

Direktur Forum Muda Cendekia

 

S emarang, Harian Pemalang – THR, bagi Saya bukan Tunjangan Hari Raya. Melainkan lebih pada “Tuntutan Hari Raya”. Budaya di Indonesia memang unik. Tiap menjelang Lebaran, semua orang berharap THR. Baik dari tempat kerja, saudara, rekan atau pun yang lain.

Hari Raya Idul Fitri seolah-olah mewajibkan umat Islam untuk memiliki perangkat materi yang lengkap. Mulai dari uang, amplop, jajan, baju baru, sepatu dan lain sebagainya. Belum ada satu pun orang yang mengajak kita untuk “sederhana” saat Idul Fitri.

Di bumi medsos, terus menggelorakan THR dan THR. Budaya THR menjadi “hari raya” bagi pekerja. Bisa PNS, guru, dosen, buruh pabrik dan sebagainya.

Momentum ini justru dimanfaatkan swalayan dan toko-toko untuk memberi diskon besar-besaran. Mulai dari 10-75 persen. Ini menurut Saya bukan “aji mumpung”, tapi lebih pada politik kapital yang mendesain harga “seolah-olah” murah plus meriah. Padahal itu cuma permainan pemilik modal.

Islam sejak dulu menyeru umatnya untuk hidup di tengah-tengah. Diktum ini mengajak kita untuk tidak berlebihan. Namun karena kita terbiasa diberi, akhirnya mental “menerima” lebih menggeliat daripada mental “memberi”.

THR tidak lagi diperuntukkan untuk memberi dalam konteks sedekah maupun zakat. Padahal di bulan Ramadan-Lebaran, banyak zakat yang harus dikeluarkan. Mulai dari zakat fitrah, mall sampai zakat profesi.

Di sini, Saya hanya ingin mengajak pembaca agar tidak terlalu menuhankan THR. Sebab, ia bukan tujuan melainkan hanya alat untuk berbagi, juga memberi hak bagi yang berhak.

THR dalam arti budaya mengajak kita untuk selalu berharap mendapatkan. Belum menyentuh ranah untuk memberi. Ingat juga, THR tidak harus berupa baju, uang dan parsel.

Rumus Islam sudah jelas, Lebaran tidak diperuntukkan bagi mereka yang serba baru dalam hal materi. Namun, lebih pada bertambahnya kualitas iman dan takwa setelah melakukan pengembaraan spiritual puasa selama sebulan penuh.

Saya justru lebih menunggu THR dari Tuhan. Apa pun itu. Sebab, THR dari manusia akan habis dalam ueforia Lebaran. Saya yakin, THR dari Tuhan akan abadi jika itu kita dapatkan. Salah satunya lailatul qadar.

Dus, di akhir ketikan ini, sebaik-baiknya THR adalah THR spiritual. Sebab, sudah banyak bahkan banyak sekali orang puasa yang hanya dapat lapar dan dahaga.

Apakah THR juga sekadar THR baju dan kurma sekardus? Ah, itu wajar-wajar saja, namanya juga manusia. Namun, jangan sampai kita menerima THR ketika tetangga Anda masih ada yang kelaparan.

Yang jelas, THR di Hari Raya Idul Fitri adalah menaikkan kualitas iman dan takwa dengan manifestasi yang Anda lakukan. Bayangan THR hanya menjadi bayang-bayang semu.

Anda berharap THR dari manusia, pasti dan mungkin juga dapat THR. Tapi jika THR dari Allah dan Kanjeng Nabi Muhammad, maka tunggulah dan nikmatikan. Sebab, sebaik-baiknya THR adalah yang tidak habis dimakan, tidak lusuh dipakai dan tidak hilang ketika dibagikan.

Saya yakin, Nabi Adam sampai Nabi Muhammad tidak pernah mengajarkan umatnya untuk berburu THR. Tidak ada pula, satu pun nabi yang menyuruh membagikan THR. Terlepas itu bagian dari budaya Islam di Nusantara, THR akan sempurna jika yang memberikan adalah Tuhan, Sang Pencipta warna cabai.

THR jangan sampai memperbudak kita menjadin”hamba pengemis”. Katakan saja, THR kita sudah ditanggung oleh Tuhan. Sebab, rumus rezeki tidak ada yang linier dari gaji. Lalu pertanyaannya, masihkah Anda berharap THR? (Red.HP)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

3 × one =