‘Jaringan Kebangsaan’ Dukung Kedatangan Felix Siauw di Unissula

0
184

Semarang, Harian Pemalang  – Rencana kedatangan ustadz Felix Y. Siauw di semarang menjadi polemik dan di tanggapi beragam oleh Elemen masyarakat.

Setelah elemen yang di antaranya GP. Ansor dan Banser Kota Semarang, Patriot Garda Nasional Jateng, Ganaspati, Keluarga Besar Alumni PMII Unissula dan Formaci Jawa Tengah menolak keras kegiatan ceramah Felix Y. Siauw di Semarang.

Kali ini datang dari elemen masyarakat Jaringan Kebangsaan (JK) Jawa Tengah yang justru menyayangkan aksi penolakan tersebut.

Ketua Presidium Jaringan Kebangsaan (JK) Jawa Tengah Agus Wijayanto meminta masyarakat untuk menahan diri tidak menghakimi Ketua Yayasan Badan Wakaf Sultan Agung (YBWSA) Hasan Thoha Puta yang mengundang Felix Y. Siauw sebagai penceramah acara halalbihalal, besuk Senin (10/7/2017).

Agus mengatakan bahwa mestinya kita menghormati hak azasi Felix sebagai individu jangan lantas mengaitkan dengan aktifitas organisasi HTI karena dia datang sebagai pribadi.

Ia juga menyayangkan atas sikap beberapa media yang menyudutkan Ketua Yayasan Badan Wakaf Sultan Agung (YBWSA) Hasan Thoha.

“Apapun pak hasan ini adalah tokoh di Semarang yang sudah berkontribusi kepada masyarakat khususnya umat Islam di Kota Semarang”, ujarnya dalam rilis yang diterima wartawan, Jumat (7/7/2017).

“Jangan campurkan HTI dengan Hasan Toha, hormati Hasan Toha sebagai tokoh  pemersatu umat Islam, kami yakin beliau bukan bagian dari HTI. Nggak ada urusannya dengan HTI,” ungkapnya.

Agus menambahkan persoalan kelembagaan janganlah dikaitkan dengan pribadi. “Ini namanya pembunuhan karakter (character assassination) terhadap ketokohan Pak Hasan Toha,” ujar yang juga alumni Unissula ini.

Maka dari itu, tambah Agus, kami mengimbau kepada masyarakat untuk berpikir jernih agar tidak mudah dihasut satu sama lain apalagi menyudutkan tokoh yang dihormati oleh masyarakat.

“Dan kami yakin Ustaz Hasan ini hendak ingin menyatukan umat Islam bukan dalam rangka membela HTI dan beliau ini tokoh yang tidak diragukan jiwa nasionalismenya”, tegasnya.

“Sebaiknya perbedaan cara pandang ini diselesaikan dengan cara dialog dan tabayyun, kami meminta aparat kepolisian menjembatani”, tutup mantan eksponen 98 ini. (Red.HP)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

19 + fifteen =