Beriman dan Beramal Sholeh

0
165

Opini/Artikel Masyarakat 

Oleh  : Dr. Aji Sofanudin, MSi
Peneliti pada Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang

Semarang, Harian Pemalang – Alkisah, berikut ini sedikit cerita ceramah Pengajian Sabtu Legi Pondok Pesantren Bina Insani Semarang di Jl Candi Kencana II/C-32 Pasadena Semarang (15/7/2017). Kegiatan ini sekaligus sebagai kegiatan kunjungan dan silaturahim Para Santri Bina Insani di kediaman Pengasuh Pondok, Ust. Dr Aji Sofanudin, MSi.

Tentu, tidak semua bisa disampaikan, selain kemampuan memori mengingat yang terbatas (tidak direkam) ide menulis muncul belakangan. Tulisan ini sekedar sharing pengetahuan, mudahan-mudahan dicatat sebagai amal sholeh. Bukankah sebaik-baik manusia adalah orang paling banyak amal sholehnya…?

Dalam sebuah hadits disebutkan “khairun nas anfauhum linnas” sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain. Bagaimana dia akan bermanfaat bagi orang lain, jika tidak melakukan perbuatan baik (amal sholeh)…? Orang karena itu berbuat kebajikan menjadi tuntutan orang yang beriman.

Iman dan Amal Sholeh

Dalam Al-Qur’an, perintah beriman itu selalu bergandengan dengan perintah melakukan amal sholeh, “Aamanu wa amilussholihat”. Iman manusia pada umumnya itu, kadang naik kadang juga turun. Hal ini berbeda dengan imannya para nabi dan rasul yang selalu bertambah. Berbeda pula dengan imannya para malaikat yang selalu stabil (tidak bertambah dan tidak berkurang). Yang paling jelek adalah imannya Iblis dan bala tentaranya, yang tidak bertambah tetapi kurang terus. Begitu Imam Ghazali membagi empat klasifikasi tentang iman.

Iman itu membenarkan dalam hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengejawantahkan dalam perilaku sehari-hari. Dengan beramal sholeh yang dilandasi iman yang benar, serta konsisten/istiqomah dalam melakukan kebajikan, pasti akan dibalas Allah sesuai dengan janjinya dalam Al-Qur’an.

Dalam QS Al-Asr (wal ashri) disebutkan bahwa semua manusia itu sejatinya mengalami kerugian, kecuali tiga kelompok manusia: (1) orang yang beriman, (2) orang yang mengerjakan amal sholeh, dan (3) saling nasihat menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Dalam kehidupannya, sesungguhnya manusia memiliki dua dimensi. Dimensi hubungan dengan Allah SWT, Tuhan yang mahakuasa (hablun minallah) dan dimensi hubungan sesama manusia (hablun min al-nas). Hubungan manusia dengan Tuhan terefleksi bagi Muslim untuk pergi ke Masjid, Kristen/Katholik ke gereja, Hindu ke Pura, Budha ke Vihara, dan Konghucu ke Klenteng. Hubungan manusia dengan manusia terefleksi dalam menjaga hubungan baik kepada sesamanya.

Sebagai manusia, tentu kita berbeda-beda. Dari sisi jenis kelamin, ada laki-laki ada perempuan. Dari sisi warna kulit, ada yang putih ada sawo matang, dan ada yang agak gelap. Dari sisi asal daerah juga macem-macem. Ada yang dialeknya ngapak-ngapak dan lain sebagainya. Demikian pula dari sisi agama, suku, strata sosial, golongan dan lain-lain tentu sebagai bangsa kita beraneka ragam. Oleh karena itu, penting bagi kita kita untuk menjaga kebhinekaan kita, menjaga keguyuban kita sebagai bangsa Indonesia.

Sebagai muslim, tentu akan mengingatkan untuk tetap menjaga apa-apa yang sudah dilaksanakan di bulan Ramadlan tetap dilanjutkan di 11 bulan yang lain. Puasanya, qiyamul lailnya, tadarusnya, shodaqohnya, dan amal-amal kebajikan lain agar dilanjutkan.

Puasa telah mengajarkan kepada kita tentang kejujuran. Terhadap yang halal saja kita bisa menjaga, apalagi terhadap yang jelas-jelas keharamannya. Puasa juga mengajarkan kepada kita tentang pentingnya bersyukur. Kadang kita berbuka dengan makanan yang enak dan komplit terkadang juga hanya dengan air putih. Meskipun hanya berbuka dengan air putih, kita tetap mengucapkan Alhamdulillah.

Itulah hidup, apapun kondisinya kuncinya kita harus pandai bersyukur. Terkadang “apa yang kita inginkan tidak kita dapatkan” sementara “apa yang kita dapatkan tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan”. Kuncinya tentu pandai-pandai mensyukurinya, karena ini menjadi salah satu ciri orang yang sukses puasanya.

Dalam QS Al-Baqarah: 185 disebutkan tentang “ciri-ciri orang yang berhasil puasanya”: menggenapkan bilangan puasanya, mengagungkan Allah, dan pandai bersyukur. Pandai bersyukur itu berarti pandai berterima kasih. Pandai berterima (mensyukuri pemberian) dan pandai berkasih (bersedekah). Baik sedekah harta maupun sedekah ilmu. Mudah-mudahan tulisan ini dicatat sebagai sedekah ilmu/amal sholeh.

Sebagai penutup, sebagai seorang Muslim mestinya kita menjadi orang yang paling Pancasilais. Sila pertama menyebutkan “Ketuhanan Yang Maha Esa”, mestinya yang Pancasilais adalah orang yang memiliki keyakinan bahwa Allah itu Esa sebagaimana disebutkan dalam QS Al-Ikhlas (Qulhu).

Pancasilais sejatinya mestinya adalah orang yang menjalankan sila pertama, kedua, ketiga, keempat, dan kelima. Sebaliknya, orang-orang anti Pancasila itu adalah mereka-mereka yang anti terhadap sila pertama, sila kedua, sila ketiga, sila keempat, dan sila kelima dari Pancasila. Wallahu’alam.(Red.HP)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

five × one =