Kembali Ke-Tradisi Keilmuan Para Ulama Nusantara

0
149

Opini/Artikel Masyarakat 

Oleh : Dawamun Ni’am Alfatawi
(Alumni UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta)

Pemalang, Harian Pemalang – Melihat fenomena keilmuan yang berkembang sekarang ini merupakan hal menarik untuk dicermati. Jika kita meliaht secara jujur rasanya perkembangan tradisi keilmuan seolah berjalan setagnan. Berbeda jauh jika dibandingkan dengan era ulama zaman dahulu. Ini dapat dilihat dari minimnya karya yang bisa disebut sebagai karya masterpiece. Dulu kita mengetahui ulama sperti Syekh Nawawi al-Bantani al-Jawi, Syekh Mahfudz Termas, Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, Syeikh Sayyid Utsman Betawi, Syeikh Muhammad Mukhtar Al-Bughri.

Nama-nama diatas adalah ulama yang bukan hanya gigih dalam berdakwah tetapi memiliki tradisi keilmuan kuat. Karya-karya yang mereka hasilakan merupakan bukti betapa mereka begitu gigih berjuang menyebarkan dakwah dan mengembangkan tradisi keilmuan tidak hanya pada lingkup sosial tetapi juga menembus ruang akademik berupa buku-buku.

 

Syekh Nawawi misalnya, beliau layak disebut sebagai tokoh utama keberadan tradisi intelektual di pesantren, karena hasil karya beliau berupa kitab kuning menjadi rujukan utama berbagai pesantren di Tanah Air, bahkan di luar negeri. Syekh Nawawi juga telah melahirkan karya masterpiece Indonesia, yaitu tafsir Al Munir. Tidak berbeda dengan Syekh Nawawi, begitupun Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari yang juga merupakan pendiri Nahdlatul Ulama (NU) yang menghasilakan12 kitab. Syeikh Sayyid Utsman Betawi, Mufti Betawi menulis karya sebanyak 109 buah. Syekh Mahfudz Termas dan Syeikh Muhammad Mukhtar Al-Bughri menghasilkan puluhan buku.

 

Gambaran diatas menunjukkan bahwa ulama zaman dahulu bukan hanya pandai berorasi, pidato dihadapan umat tetapi juga melahirkan karya yang sampai sekarang menjadi rujukan. Karya bagi seorang ulama dan cendikiawan bisa disebut bentuk pertanggungjawaban atas keilmuan yang dimiliki. Karena karya atau buku bisa dibaca, diulas dan dikaji bahkan dikritik siapapun yang kemudian dapat diteruskan untuk melahirkan karya lain.
Perbedaan pendapat diera ulama Nusantra ketika itu banyak dituangkan dalam sebuah karya. Mereka beradu pendapat dengan karya disertai rujukan dan uraiaan yang sistematis. Bila diabandingkan sekarang rasanya jauh, sebab kita melihat kontroversi dan perbedaan sekarang ini muncul dipermukaan lewat ujaran. Perbedaan pendapat dan argument itupun muncul tanpa diiringi dengan referensi dan landasan literature mumpuni. Hal yang demikian merupakan bentuk dari degradasi keilmuan. Belum lagi jika mau dikatan secara jujur, bahwa minat menulis bisa dibilang terus mengalami penurunan.

 

Ulama zaman dahulu melandaskan penguasaan keilmuannya dengan sanad yang jelas dengan siapa mereka belajar. Sanad tersebut tidak putus dari guru-guru mereka berlanjut kegurunya guru mereka begitu seterusnya. Bukannya sekarang tidak ada ulama yang demikian, masih ada meski jumlahnya semakin menurun, itupun secara umum adalah ulama pesantren. Tradisi ulama pesantrenlah yang masih mempertahankan sanad keilmuan secara runtut, sedangklan ilmuan dan cendikiawan selain itu kebanyakan sebatas mempelajari literature yang sepenggal-sepenggal.

 

Penting rasanya untuk mewarisi dan memengambalikan tradisi ulama Nusantara seperti yang dilakukan Syekh Nawawi al-Bantani al-Jawi dan lainnya. Ini juga sebagai langkah meminimalisir perdebatan diruang publik yang tidak ada ujungnya. Karena kebanyakan perdebatan tersebut lebih banyak mengarahkan pada perpecahan bukan pengayaan terhadap ilmu. Dengan mengembalikan tradisi keilmuan ulama diharapkan membawa perubahan bangsa menjadi lebih baik, sebab ilmu adalah elemen utama yang menentukan masadepan bangsa.(Red.HP)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

thirteen + 16 =