Misteri Sejarah Kali Comal

1
4321

Opini/Artikel Mahasiswa  

Oleh :   Lutfi Aminuddin
(Mahasiswa Fakultas Keguruan UNS,
Ketua Divisi Reseach Skandiavian Corner Club Suakarta.)

Pemalang,  Harian Pemalang – Sungai Comal adalah salah satu sungai terpanjang di Kabupaten Pemalang yang panjangnya mencapai 109,18 Km. Sungai ini berhulu dari pegunungan Serayu Utara di kecamatan Pulosari hingga bermuara di kecamatan Ulujami. Sungai Comal merupakan sungai yang di banggakan oleh masyarakat Pemalang, kebanggan itu lantaran sungai ini telah menghidupi masyarakat sekitarnya dalam mengaliri area persawahan, sistem sanitasi pada PAM, sarana rekreasi, dan kebutuhan akan aneka biota lain berupa ikan serta sejenisnya yang telah banyak menghidupi masyarakat Pemalang.

Keberadaan sungai Comal ini selain sangat berguna dan di banggakan masyarakat Pemalang, ternyata sungai Comal memiliki sejarah dan misteri yang cukup menarik, khususnya potret sungai Comal pada masa Indonesia masih di duduki oleh pemerintah kolonial Hindia-Belanda.

 

Beberapa sejarah yang cukup menarik seputar sungai Comal itu diantaranya adalah jembatan di desa Ujung Gede atau masyarakat sekitar yang menyebutnya sebagai jembatan “Pecinaan”, tercatat pernah di hancurkan oleh Tentara Keselamatan Rakyat (sekarang TNI) pada tahun 1948, pengahancuran jembatan itu betujuan untuk membatasi pergerakan pasukan kolonial Belanda dalam menginvasi daerah-daerah di Jawa Tengah.

Jembatan ini kemudian di bangun kembali, sampai seperti  sekarang  ini. .

Pada masa kolonial Hindia-Belanda sungai Comal pada mulanya memiliki DAN (Daerah Aliran Sungai) yang lurus dan berhulu di desa Klareyan, Petarukan dengan melewati desa Kendal Doyong dan perkebunan daerah Sigeseng. Karena kawasan muara di daerah ini sering kebanjiran, kemudian sungai Comal di belokan oleh para pekerja paksa atas intruksi pemerintah kolonial Hindia-Belanda menjadi bermuara di desa Pesantren, Ulujami.

Sejarawan asal Pemalang, Prof. Soetomo WE Siswokartono dalam bukunya berjudul Sejarah Daerah Pemalang membenarkan hal itu.

Karena sungai Comal pernah melewati desa Kendaldoyong, Klareyan dan Sigeseng inilah mengapa ada cerita rakyat yang beredar bahwa ada sebuah desa yang hilang di kawasan perkebunan Sigeseng, cerita yang beredar katanya Sigeseng hilang desanya karena kebakaran hebat yang melanda daerah ini, ada juga versi sejarah lain desa Sigeseng hilang karena sungai Comal meluap dengan sangat dahsyat.

 

Penulis sendiri lebih meyakini bahwa hilangnya desa Sigeseng ini di sebapkan karena luapan sungai Comal, hal ini di perkuat dengan kesakian masyarakat Pemalang berdarah Skotlandia bernama Silliam Otto Mackengzie atau yang biasa di kenal mbah Makengsi. Menurut kesaksianya hingga tahun 1980 mbah Makengsi ini sering melihat penampakan Kereta Kencana, konon tokoh-tokoh hebat Pemalang dulu seperti Bahurekso sering bertapa di hulu sungai Comal, menurut cerita rakyat yang di ceritakan secara turun-temurun beberapa kapal besar di laut Jawa dahulu juga tercatat pernah singgah di daerah Sigeseng.

 

Singgahnya kapal-kapal besar di Sigeseng ini menandakan bahwa Sigeseng dulunya adalah bekas di lewatinya Daerah Aliran Sungai Comal yang biasanya kapal-kapal banyak yang berlabuh di sekitaran muara yang menjadi pusat berkumpulnya banyak ikan. Sampai saat ini daerah Sigeseng masih dianggap angker dan misterius sampai saat ini, penulis menduga hilangnya desa Sigeseng ada kaitannya dengan sungai Comal di masa lalu.

Ya, dibalik tenangnya aliran sungai Comal, sungai ini banyak menyimpan sejarah masalalu dan misteri yang menarik untuk di ungkap, saking memanariknya sebuah program acara televis, berjudul Mister Tukul Jalan-Jalan pernah meliput misteri sungai kali Comal yang konon terdapat siluman ular naga nya.

Cerita misteri dan sejarah yang melingkupi sungai Comal ini biarlah tetap hidup di masyarakat, agar kecintaan masyarakat Pemalang terhadap sungai Comal tak akan pudar, sementara wujud “aksi nyata” dalam mencintai sungai Comal ini yaitu masyarakat Pemalang harus merawat sungai Comal supaya bisa tetap menghidupi masyarakat sekitar dengan cara tidak membuang sampah serta limbah beracun pada Derah Aliran Sungai Comal, merawat vegetasi di daerah hulu sungai, melakukan penghijaun di sepanjang Daerah Aliran Sungai, tidak menggunduli hutan di hulu sungai, dan tidak menggunakan perangkap ikan kimia di sungai.

Dengan demikian potensi abrasi, kekeringan, pencemaran sungai, dan banjir bandang yang dulu pernah terjadi bisa di cegah jika kita berperan aktif mencintai dan merawat sungai Comal. (Red.HP)

 

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

1 × 2 =