Merdeka Di Balik Kolong Terminal

0
115

Opini Mahasiswa 

Oleh : Nida Ul Hidayah (mahasiswa STEI SEBI Jurusan Akuntansi Syariah Depok Jawa Barat)

Depok, Harian Pemalang – Betapa miris hati ini saat melihat anak anak kecil yang kulitnya gosong, namun wajahnya sumringah berteriak menjajakan dagangannya yang hanya sebanyak 1 kantong merah besar perharinya.

Ketika hujan turun, tepat dihadapan bapak ibu berbaju rapih terlihat baju basah dan bibir yang kian ungu menempel di badan anak kecil berkulit hitam nan lebam, ia sapa dengan lembutnya, pak bu payung pak payung.

Ayah dan ibu mana yang tega membiarkan anaknya seharian menyapa teriknya matahari? bermain dengan anak sebayanya yang dirasa senasib dengannya, duduk di atas jembatan ditemani kantong besar berisikan barang untuk dijual. Ternyata masih banyak orang tua yang tega memperlakukan anaknya sedemikian begitu mirisnya. Terlihat busa busa wangi berbau sabun tengah ia tempelkan pada mobil mobil angkot yang telah seharian mencari pundi pundi uang, siapa yang memegang busa itu? kembali terenyitkan dahi, tak lain dan tak bukan, kembali bocah kecil nan cerdik itu yang melakukan. Miris benar benar miris.

Banyak anak anak yang setiap hari waktu mainnya tersita hanya untuk membahagiakan orang tuanya, ia rela bermain dalam panasnya matahari yang siap membakar kulit halusnya, Bisingan klakson dan pekatnya debu sepertinya telah menjadi karib mereka setiap hari. Waktu belajar dan bermain yang tersita tak pernah ia sayangkan, demi baktinya kepada orangtuanya. Salut dengan sebenar benar salut. Ia siap waktunya tergadaikan hanya untuk menghabiskan satu demi satu pack tisu yang ia jual harga 5000 untuk 2 bungkus bahkan tak jarang ia jual dengan harga 2000 rupiah per bungkusnya.

Angkot angkot yang dirasa penuh oleh penumpang segera ia naiki dengan semangatnya merekahkan senyum dan menyapa dengan sopannya, dengan sigap penuh mereka keluarkan botol minuman yang tengah ia sulap menjadi alat musik berbunyi “kecrek” sembari mengeluarkan lagu andalannya.
Di ujung kanan mata, terlihat sebilah kayu tengah di senderkan pada tiang trotoar pinggir jalan, di sampingnya nampak bapak dan ibu yang wajahnya telah dimakan keriput, menunduk bertengadah tangan kanannya mengharapkan receh demi receh keluar dari kantong rapih dan dompet milik tuan dan nona bijaksana. Setiap hari dirinya rela di jadikan objek nyinyir mata mata yang tengah berada di roda bagian atas.
Terdengarlah suara merdu nan asyik, ternyata keluar dari mulut mulut wanita dan laki laki luar biasa, dengan segala keterbatsan yang Tuhan berikan, mereka manfaatkan untuk menyambung kehidupan. Tak pernah ada perasaan takut hinggap di hati dan fikirannya, uang yang ia kumpulkan di ambil oleh tangan jahat tak berperasaan. Cukup bermodal suara, kantong dan sound dirinya dengan percaya diri menjual suaranya dengan harga keikhlasan.

Kembali tercabik hati ini, dengan segala keterbtasan yang mereka punya apakah mereka merasa teradili? Sudahkah ia merasakan kemerdekaan? Apakah sama makna kemerdekaan antara kita dengan mereka?

Apakah seperti ini yang dikatakan merdeka ? sepertinya tidak, bagi anak sekecil mereka kemerdekaan sesungguhnya ialah bukan merdeka dalam arti bebas main mengahabiskan waktu dengan “goyang jempol” tiap detik yang tak ada habisnya, namun bagi mereka kemerdekaan sesungguhnya adalah tatkala mereka bisa menikmati kasih sayang dari orang terkasih dan tersayang mereka yang tak lain adalah orang tua nya.

Kemerdekaan yang mereka inginkan ialah dengan memiliki cukup waktu agar dirinya mampu menorehkan kebahagiaan terhadap orang orang yang membuat mereka bahagia.
Sepenggal makna merdeka bagi sebagian manusia penghuni kolong terminal. (Red.HP)

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

13 + 11 =