Melihat Sekilas Potret Kekejaman Kolonialisme Jepang dan Belanda di Pemalang

0
452
Gedung perkantoran pabrik gula Petarukan Pemalang pada masa kejayaanya

Opini/Artikel Mahasiswa 

Oleh : Lutfi Aminuddin
Mahasiswa Fakultas Pendidikan dan Keguruan
Ketua Divisi Reseach Skandinavian Corner Club Surakarta

Pemalang, Harian Pemalang – Setelah Belanda menyatakan menyerah, pendudukan terhadap Indonesia digantikan oleh Jepang, pada mulanya Jepang dianggap sahabat terbaik Indonesia dengan sloganya yang terkenal ketika itu Jepang Pelindung Asia, Jepang Sahabat Asia, dan Jepang Penyelamat Asia. Ternyata “ada udang di balik batu”.

Slogan-slogan itu hanya sebagai pemanis mulut saja, dibawah kendali Kolonial Jepang, Rakyat Indonesia tetaplah hidup dalam cengkraman perbudakan, bahkan kolonialisme Jepang di kenal lebih dispotik (kejam) dari Kolonialisme Belanda.

Dibawah kendali Kolonial Jepang, masyarakat di daerah-daerah banyak yang kelaparan, sementara perempuan menderita luar biasa, dijadikan budak seksual atau Jugun Ianfu oleh para tentara kolonial yang dispotik dan misoginis. Daerah-daerah di Jawa Tengah termasuk Pemalang tidak luput dari praktik kekejaman dan perbudakan itu.

Dalam literatur sejarah, berkuasanya Jepang di Indonesia tercata dimulai dengan perjanjian Kalijati 9 Maret 1942. Belanda menyerah karena serangan Jepang mampu melumpuhkan pertahanan Belanda menggunakan strategi Katak Lompat.

Setelah itu, Jepang bergerak cepat menguasai daerah-daerah bekas jajahan Belanda dan tidak terkecuali Pemalang yang masuk dalam Karesidenan Pekalongan. Di bawah kepemimpinan Residen baru bernama Toshio Ota, nama Karesidenan Pekalongan di ganti menjadi Pekalongan-shu.

Kebijakan Jepang yang paling terkenal dan menyengsarakan Rakyat di Pemalang adalah sistem setor padi, dimana rakyat yang bekerja sebagai petani diharuskan menyetorkan hasil panen ke pihak kolonial Jepang dengan prosentase yang tidak masuk akal. Selain itu petani hanya diperbolehkan menanam tanaman tertentu yang sesuai dengan kebutuhan kolonial Jepang, jika “ketahuan” menanam tanaman “Jengkol” atau produk pertanian lain yang tidak dibutuhkan misalnya, para petani akan langsung di brondong dengan senapan peluru. Konon mayat yang ditembaki karena tidak mau menyerahkan hasil pertanian ini mayatnya di buang di Kali Waluh, dan sebagian di pemakaman masal desa Penggarit.

Kebijakan tanam paksa ini jelas sangat menyengsarakan rakyat, Rakyat Pemalang yang paling menderita yaitu di kawedanan Belik. Karena Belik ketika itu adalah kawedanan yang dikenal lumbung padi nya Pemalang, maka praktik tanam paksa ini di fokuskan di kawedanan Belik.

Para petani di Belik sangat sengsara ketika itu, karena jumlah wajib setor padi tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh. Dimana hasil rata-rata panen sebanyak 1,4 ton/ha namun jumlah setoran yang diminta berjumlah 1,5 ton/ha. Kesengsaraan itu diperparah oleh tindakan “Pangreh Praja” yang korup. Setoran padi rakyat kepada Jepang dipotong oleh Pangreh Praja, sehingga rakyat diminta menghasilkan padi lebih banyak lagi.

Selain perbudakan Kolonial Jepang yang kejam terhadap para petani, perbudakan Kolonial Belanda juga tak kalah kejam pula, terutama terhadap para kaum proleter (buruh) pabrik tebu yang banyak berdiri di Pemalang. Ya, Pemalang pada masa kolonial memiliki beberapa pabrik gula dan perkebunan tebu yang paling besar di masanya. Beberapa pabrik gula tebu itu diantaranya pabrik tebu Comal Lama, pabrik tebu Comal Baru, pabrik tebu Petarukan, pabrik tebu Banjardawa dan pabrik tebu Sumberharjo menjadi saksi bisu kemegahan industri gula di Pemalang pada masa lampau.

Namun, di balik kemegahan industri tersebut, terdapat permasalahan serius dan penderitaan yang dialami oleh masyarakat pribumi di Pemalang sebagai buruh pabrik gula.

Sejarawan bernama Anton E.Lucas dalam bukunya berjudul “Di Bawah Asap Pabrik Gula” menerangkan bahwa para buruh pabrik gula ketika itu tidak di gaji, bahkan dimintai membayar sejumlah denda jika tidak masuk kerja untuk beberapa hari, tak jarang beberapa buruh di brondong peluru jika menahkodai suatu gerakan politik untuk menentang kebijakan pemerintah Kolonial Belanda.

Korban jiwa dari para buruh mencapi ratusan jiwa terjadi pada tahun 1920-1921 akibat aksi mogok buruh pabrik yang menuntut kesejahteraan. Pada tahun itu tercatat sebagai pemogokan terbesar di Pemalang, sekaligus memunculkan kesadaran nasionalisme di Masyarakat Pemalang untuk memerdekakan Indonesia dari cengkraman kolonialisme.

Hari ini kesengsaraan itu telah hilang, tindakan “exploitation de I’homme par I’ homme (penghisapan manusia atas manusia”) dan “exploitation de nation par nation ( penghisapan bangsa atas bangsa) telah tiada, sebagai Masyarakat Pemalang yang telah merdeka sudah sepantasnya kita mewarisi “api” kemerdekaan yang ada. Isi kemerdekaan itu dengan saling berangkulan dan bergandengan tangan bersama memajukan Pemalang dan Indonesia yang bekeadaban tinggi tidak memandang suku, agama, dan ras. Semua Masyarakat Indonesia harus mendapatkan kesempatan yang sama, jangan di beda-bedakan.

Tidak boleh ada lagi manusia atau sistem “ekslusif” yang mengisap manusia lain. Baik menghisap dagangan orang, menghisap kesempatan berpendidikan, menghisap kesempatan hidup sehat, menghisap (nyolong) uang rakyat, maupun menghisap keadilan rakyat.

Kemerdekaan Indonesia yang merupakan sublimasi dari Deklaration of Independent Amerika Serikat, manifesto politik dari Pancasila, dan manifesto politik dari Undang-Undang Dasar 1945 harus menjamin hak-hak rakyat untuk bebas, baik itu terbebas dari kemiskinan, kebodohan, diskriminatif kesukuan, diskriminatif keagamaan, ketidak adilan, penghisapan antar sesama, dan pola-pola dari potensi kolonialisme gaya baru yang nempertontonkan perbudakan dan penghisapan antar sesama. (Red.HP)

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

5 × 2 =