Berpetualang Menjadi Awak Kapal Pesiar

0
107
Artikel/Opini Masyarakat 
Oleh : I Wayan Budiartawan

Karangasem, Bali, Harian Pemalang – Desa Pesaban generasi mudanya menyukai tantangan menjadi awak kapal pesiar. Mereka berlayar berbulan-bulan mengarungi lautan lepas. Mereka mendapatkan penghasilan yang tinggi dari melayani tamu-tamu asing di kapal pesiar. Gaji yang didapat amat fantastis, lebih besar bila dibandingkan dengan penghasilan guru besar UNUD yang beberapa waktu lalu melakukan talk show di TV lokal.

Kapal pesiar membawa turis-turis asing. Kebanyakan orang-orang Eropa. Ada yang menikmati hari-hari pensiun dengan menumpang kapal pesiar melihat negeri-negeri jauh di katulistiwa yang indah. Di Bali banyak agen penyalur tenaga kerja kapal pesiar. Berbadan sehat dan mempunyai kemampuan berbahasa Inggris yang berguna kelak setelah bekerja di kapal pesiar. Itulah syaratnya.
Pemuda dari Desa Pesaban banyak yang mendaftar pada agen-agen di Denpasar. Mereka lulusan SMA dan kemudian mendapat didikan sekolah khusus untuk menjadi  crew cuisine lines. Babak baru mulai dalam kehidupan masyarakat Desa Pesaban. Pemuda-pemuda bergabung dengan kapal pesiar. Singgah di kota-kota besar dunia seperti Dubai misalnya.
Desa Pesaban sekarang memiliki golongan baru.Sejumlah pemuda asli desa yang memperoleh penghidupan dari kapal pesiar. Uangnya  digunakan modal usaha hasil bumi. Seperti membeli cengkeh dari petani.  Memperbaiki rumah tinggal di desa.Sesuai dengan keadaan keuangan yang lebih baik. Bangunan berarsitektur gaya tradisional Bali penuh ukir-ukiran menjadi milik mereka sekarang.
Kalau tidak hati-hati, bisa menjadi korban penipuan. Agen penyalur tenaga kerja kapal pesiar ada yang gadungan. Mereka memeras pencari kerja. Bergabung  dengan kapal pesiar  perlu mengeluarkan uang terlebih dulu sebanyak Rp 25 juta per orang. Buat pendidikan singkat. Surat-surat keberangkatan seperti paspor. Agen penyalur tenaga kerja kapal pesiar menarik untung dari peserta.
Agen resmi berlisensi internasional. Dan bayarannya mahal sekali  untuk ukuran rakyat kebanyakan. Di TV diwawancarai seorang awak kapal pesiar asal Tabanan. Orang itu menjual tanahnya di desa untuk biaya ke kapal pesiar. Dengan nada berat pemuda Bali ini mengatakan bahwa setelah  berlayar 4 kali  akan punya uang untuk membeli tanah lagi. Ini kehidupan keras putra petani.
Desa Pesaban boleh bernafas lega. Para pemudanya urusannya lancar-lancar saja  di kapal pesiar. Berangkat berlayar selama 6 bulan, kemudian beristirahat pulang ke rumah di Desa Pesaban. Kemudian pergi lagi dan seterusnya. Orang dari Desa Pesaban menguak misteri takdir yang membelenggu mereka. Melalui kapal pesiar para pemuda Desa Pesaban mencapai kemajuan yang berarti.(Red.HP)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

2 × one =