Pertempuran Karang Gedang, Desa Majalangu, Bukti Sejarah Perjuangan Rakyat Pemalang

0
1022
Hj. Basuki salah satu pelaku sejarah dalam pertempuran bukit Karanggedhang, desa Majalangu

Pemalang, Harian Pemalang  – Semangat untuk memperingati hari Kemerdekaan Republik Indonesia tidak akan pernah pudar, dengan berbagai pernak pernik akan selalu dirayakan oleh masyarakat Indonesia tidak terkecuali Desa Majalangu, Kecamatan Watukumpul, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah.

Hj. Basuki seorang veteran berumur 95 (sembilan lima) tahun merupakan salah satu pelaku sejarah yang mengalami pertempuran melawan kolonial Belanda di Pemalang. Veteran yang di temui  dirumahnya di desa Majalangu pada Minggu (20/8/2017) tampak masih segar di usianya yang hampir satu abad.

Hj. Basuki menceritakan, saat sekitar tahun 1947, ayahnya Abdurrahman sebagai  Desa Majalangu.  “Masih  segar dalam ingatan saya waktu akhir tahun 1947, rumah ayah saya yang juga lurah desa Majalangu dijadikan markas tentara Hizbullah, namun entah dari mana dan siapa yang membocorkannya rumah kami diobrak abrik bahkan dibakar oleh tentara Belanda, sehingga kami sekeluarga mengungsi ke lereng Bukit Banowati.  Begitu  juga msyarakat  Majalangu  lainnya kami ajak. Selanjutnya  saya ikut gerilya bersama Tentara dan pasukan Hizbullah yang membuat markas di Karang Gedang, Dukuh Bungkus, Desa Majalangu,” ujar Hj Basuki ibu yang berputra 11( sebelas ) orang.

Sementara itu kepala Desa Majalangu Rotib Aris Royandi yang merupakan cucu dari Abdurrahman  diwawancarai ketika sedang menyapa warganya yang sedang melaksanakan karnaval untuk memperingati HUT RI Ke 72 mengatakan, “semangat warga desa Majalangu melakukan karnaval untuk memperingati HUT RI Ke: 72 adalah salah bukti masyarakat Desa Majalangu memiliki rasa Nasionalisme sangat tinggi yang diwariskan oleh para pejuang yang berperang melawan penjajah Belanda maupun Jepang apalagi di Wilayah Pemalang selatan termasuk Desa Majalangu pada masa perang mempertahankan kemerdekaan sebagai basis pertahanan dan Markas pejuang Hizbullah.”

Rotib juga menceritakan, Kakek saya adalah lurah Desa Majalangu yang bernama Abdurahman dan rumahnya dibakar Belanda karena ketahuan sebagai markas pasukan Hizbullah dan Tentara Angakatan laut. “Saya  memang pernah mendapatkan cerita sejarah dari Ayah saya, ketika kakek menjadi lurah Desa Majalangu, rumah kakek dibakar Belanda karena ketahuan untuk markas pasukan Hizbullah dan tentara Angkatan Laut, saat itu sekitar Bulan Oktober 1947 pasukan Hizbullah dibawah pimpinan A Chudlon Fatchy dan ALRI dibawah pimpinan Kapten Mustika Alam mengadakan gerakan bersama baik dalam mengadapi ancaman pasukan Belanda maupun gerakan penghadangan, suatu saat dibagi buta tanpa dinyana pasukan belanda dengan kekuatan penuh menggempur pertahanan Pasukan Hizbullah dan Marinir yang bermarkas di Desa Majalangu terjadilah pertempuran sengit, karena kalah jumlah terpaksa pasukan kita mundur ke Hutan Bukit Gunung Banowati, selanjutnya pasukan bergerak ke arah timur kemudian mendirikan markas di Bukit Karang Gedang, Dukuh Bungkus Desa Majalangu dan di Bukit Karang Gedang inilah terjadi pertempuran yang sangat dahsyat antara pejuang Republik Indonesia melawan Belanda dan pada saat itu prajurit Chumedi, Mukri gugur sebagai syuhada,” kata Rotib sambil menyapa warga yang sedang karnaval melintas di depannya.

Terkait dengan cerita sejarah yang didapatkan dari orang tuanya Rotib juga meminta maaf apabila ada yang kurang pas. “Saya  mohon maaf kepada masyarakat apabila apa yang saya sampaikan kurang pas, kurang komplit, tapi cerita itu memang yang yang saya dapatkan dari orang tua saya, yang terpenting adalah pertempuran karang gedang adalah bukti sejarah Masyarakat Desa Majalangu bersama Marinir bertempur melawan Tentara Belanda dan semangat juang para pendahulu kita sekarang diwarisi oleh Masyarakat Desa Majalangu,” pungkasnya.(Red.HP/JL)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

10 − two =