Sapi Bali Keturunan Banteng

0
293
Artikel/Opini Masyarakat 
Oleh : I Wayan Budiartawan

Karangasem, Bali, Harian Pemalang – Petani di Desa Pesaban bisa menghasilkan uang dalam jumlah yang lumayan dengan beternak sapi. Uang yang diperoleh dengan menjual sapi ini biasanya ditabung untuk hari tua atau untuk memenuhi kebutuhan mendesak yang tidak pernah disangka-sangka. Membangun rumah baru atau memperbaiki rumah yang sudah rusak lumrah menggunakan uang hasil jerih payah memelihara sapi.

Sapi Bali secara umum adalah jenis keturunan banteng. Kemungkinan dulu berasal dari Jawa Majapahit. Tenaga sapi Bali ini sangat kuat untuk menarik bajak di sawah.  Sapi dewasa dijual untuk disembelih orang dan dagingnya dipajang di pasar-pasar tradisional dan juga swalayan. Daging sapi bergizi tinggi dan banyak dikonsumsi orang karena kandungan proteinnya yang kaya.
Di Desa Pesaban sapi dibuatkan kandang. Penyangga dari pohon kayu berfungsi sebagai tiang dan rangka kandang terbuat dari bambu. Atap dan dinding bahannya dari jerami dan juga kadang-kadang anyaman daun kelapa. Sapi ditaruh di kandang dan diikat dengan tali ijuk atau tali bambu. Hidungnya dicocok  sebelum dipasangi tali untuk mengendalikan sapi itu. Leher sapi dikalungi giring-giring yang menimbulkan bunyi nyaring sewaktu-waktu.
Saban hari petani di Desa Pesaban mempunyai kesibukan menyabit rumput sebagai pakan ternak sapi.  Rumput dikumpulkan dalam keranjang sampai penuh. Kemudian keranjang diangkat  dan dibawa  ke kandang dengan menjungjungnya di atas kepala. Sapi setiap sore hari dimandikan dan dibiarkan minum air sepuasnya. Dalam mengurus ternak sapi  petani haruslah telaten sehingga binatang  ini terawat dengan sempurna.
Kotoran sapi bagus untuk pupuk. Setelah kering kotoran sapi  dipindahkan  ke tanaman yang memerlukan pupuk alami ini. Kotoran sapi dapat menyuburkan tanah  dan tergolong apa yang di sebut pupuk kompos. Ada yang menyebutnya pupuk organik yang akhir-akhir ini banyak digalakkan pemanfaatannya. Kontras dengan pupuk buatan dari urea, kotoran sapi relatif  tidak memerlukan biaya  kecuali tenaga ekstra untuk mengangkut pupuk kandang itu.
Penelitian dosen UNUD menunjukkan bahwa kotoran sapi juga mengandung biogas. Biogas energinya dapat diubah menjadi tenaga listrik. Energi biogas ini timbul sebagai akibat dari adanya proses fermentasi yang terjadi pada kotoran sapi. Sayang sekali di Bali biogas masih konsumsi kegiatan akademis yang sangat teoritis di perguruan tinggi. Ibarat menara gading, lembaga universitas itu. Belum ada biogas praktis yang benar-benar mengalirkan arus listrik  untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
Gubernur Bali  Made Mangku Pastika  menggagas program SIMANTRI atau sistem pertanian terintegrasi. Terutama di dalamnya ada program bantuan sapi ternak cuma-cuma untuk petani tak mampu di desa-desa tertinggal.  Tetapi, itu pun dikhawatirkan  akan lenyap begitu saja seperti angin lalu. Apa perbedaannya dengan sapi banpres  pada jaman orde baru ? (Red.HP)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

one × 2 =