Ni Nengah Gampil Ibuku Mati Terserang Kanker Panyudara

0
68
Upacara ngaben massal di desa pesaban, Kecamatan Rendang, Karangasem, Bali
 Oleh : I Wayan Budiartawan

Karangasem, Bali, Harian Pemalang – Musibah ini terjadi ketika aku masih menjadi siswa di SMA 2 Denpasar, Bali. Ibuku yang melahirkan diriku, Ni Nengah Gampil, menderita kanker payudara yang teramat parah. Dokter menyarankan payudara ibuku dioperasi. Setelah operasi, ibuku hanya bertahan hidup sampai 3 bulan kemudian. Pada hari naas itu aku di kota diberitahu bahwa ibuku telah tiada.

Penderitaan ibuku terlalu berat. Dokter ahli bedah lulusan S2 di Australia ternyata tidak becus menanganinya. Nyawa ibuku melayang juga, tidak tertolong sedikitpun oleh dokter didikan luar negeri itu. Keluargaku miskin sekali , tetapi dokter  itu memaksa supaya ibuku diangkat kanker payudaranya di rumah sakit swasta. Mungkin milik dokter itu pribadi. Aku tidak tahu. Kupikir ibuku harus segera dioperasi dengan pelayanan yang lebih cepat.
Ibuku dikubur  saat itu juga secara adat Bali di Desa Pesaban, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem.Upacara penguburan sangat sederhana. Jasadnya  dibawa dengan bambu yang di rakit. Seperti keranda fungsinya.  Enam bulan kemudian mayat ibuku digali untuk selanjutnya dibakar. Ngaben namanya, untuk orang Bali yang menganut agama Hindu. Ketika itu aku sudah kuliah tingkat satu di ITB menjelang ujian semester. Aku hanya sempat mengusung jenazah ibu yang aku hormati itu waktu SMA.
Semasa hidupnya ibuku berdagang kecil-kecilan di warung di desa. Kebutuhan di dapur untuk memasak sehari-hari. Terutama bumbu  seperti cabai, kunyit, kencur, bawang merah, bawang putih. Ikan laut  yang dipindang  dititip orang dari Desa Kusamba, Klungkung. Desa nelayan terdekat. Juga garam dan terasi yang terbuat dari udang. Terasi ini didatangkan dari Cirebon, Jawa Barat.
Suatu hari ibuku bangkrut. Warung terpaksa ditutup karena merugi terus menerus.  Ibuku mencari nafkah dengan menjadi buruh proyek pengaspalan jalan. Di desaku ada pengusaha kontraktor besar. Kasihan aku melihatnya. Ibuku mengangkat batu  atau pasir dengan ompreng. Ibuku berkeringat kepanasan disengat terik matahari tropis.  Uang dari bekerja sebagai buruh sangat sedikit. Tetapi keluargaku  mesti bertahan hidup.
Pekerjaan lain sebagai buruh yang didapat ibuku adalah mengapur dinding rumah. Biasanya rumah yang baru dibangun di daerahku butuh kapur sebagai pemutih. Kapur digali  di Desa Sengkidu. Di pinggir pantai di wilayah Kabupaten Karangasem. Paling dekat dengan lokasi proyek. Ibuku mengapur dengan kuas alami  yang terbuat dari alang-alang. Kapur dilarutkan dalam air terlebih dulu. Baunya menusuk hidung. Mungkin racun kimia itu terlalu banyak dihirup dalam nafas ibuku  ketika bekerja sebagai tenaga harian tahun-tahun itu.
Ni Nengah Gampil ibuku sangat malang nasibnya.Disebutkan  para akademisi, kanker payudara disebabkan karena ada masalah pada saat menyusui.
 Ibuku memberi aku ASI   pada saat aku masih bayi  ketika baru lahir. Juga adikku yang perempuan ( sekarang lulusan D3 Akutansi UNUD) dibesarkan ibuku dengan kasih sayang. Dokter lulusan Australia itu gagal dalam membedah kanker payudara yang menyerang ibuku. Biayanya mahal, keluargaku petani kecil menjual semua gabah padi hasil panen di sawah. Uang Rp 325.000 sangat besar jumlahnya diminta dokter lulusan luar negeri itu.(Red.HP)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

thirteen + 6 =