Nenekku Ni Nengah Mukia, Perempuan Yang Ulet

0
66
Ilustrasi, ulet nya perempuan Bali dalam bekerja
Artikel/Opini Masyarakat 
Oleh : I Wayan Budiartawan
Karangasem, Bali – Nenekku, Ni Nengah Mukia, di sengat binatang berbisa. Aku tidak tahu peris. Mungkin jenis kelabang atau kalajengking. Yang jelas, nenekku roboh seketika dan tidak bisa bangkit lagi, berdiri dan berjalan seperti sedia kala.

Kejadiannya waktu aku masih duduk di SMP Negeri Rendang, Karangasem-Bali pertengahan tahun 1980’an . Tiba-tiba ada mahluk kecil beracun menyerang nenekku. Ketika itu nenek mengambil dahan dan daun kelapa kering untuk dibakar ditungku dapur buat memasak. Binatang laknat itu bersembunyi di sana.
Bibiku membawa sebutir pil. Buatan Amerika, katanya. Pil itu diminum nenekku tapi tidak bisa menolong. Nenekku terbujur kaku di pembaringan selama-lamanya. Amerika konon negara maju. Tapi obat bikinannya kok tidak mampu mengatasi sengatan binatang berbisa seperti itu.
Sungguh sial nasib nenekku. Menjadi orang lumpuh yang tergolek di tempat tidur bertahun-tahun hingga akhir hayatnya.
Semenjak kejadian nenekku tersengat binatang berbisa itu, hanya ayahku dan  kakekku yang mengurusnya. Melayani makan dan minum. Buang air besar dan buang air kecil, nenekku menyalurkannya pada ember yang biasanya buat mandi bayi. Ayahku atau kakekku mengangkat tubuhnya, membantunya melepaskan hajat. Kamar bau pesing. Karbol tidak bisa mengurangi bau tak sedap yang menusuk hidung itu.
Ni Nengah Mukia, nenekku, seorang perempuan yang tegar. Nenekku menikah dua kali. Dari suami pertama nenekku melahirkan anak laki-laki. Ditinggal mati oleh suami pertama, nenekku menikah lagi dengan kakekku setelah berpisah dengan istri pertamanya yang tidak bisa membuahkah anak. Dengan kakekku, nenekku memperoleh dua anak laki laki. Si sulung ayahku dan seorang lagi meninggal dunia ketika masih kecil. Sepertinya kena tumor. Orang Bali bilang “sisik”.
Ayahku di beri nama I Wayan Serai. Pada masa itu tahun 1940-an. Mungkin maksudnya supaya  menyandang nama
pemimpin Bali Pak Rai ( Kolonel I Gusti Ngurah Rai).  Siapa tahu  diberi nama mirip dengan ibunya Bung Karno Ida Ayu Nyoman Rai Simben ?. Tetapi nama tinggal nama. Ayahku I Wayan Serai tidak lulus ujian untuk memperoleh ijazah Sekolah Rakyat (SR) di Karangasem. Ayahku hidup bertani hingga sekarang di hari tuanya. Adik ayahku yang mati pada saat masih kanak-kanak diberi nama I Nengah Sudaji.
Nenekku Ni Nengah Mukia berdagang semasa hidupnya.  Membeli padi di sawah-sawah  dari orang saat panen. Nenek mengeluarkan tenaga untuk menjemur padi yang dibelinya. Setelah kering padi ditumbuk. Beras dijual, nenekku berharap dapat sekedar untung. Di kemudian hari muncul  padi  jenis IR. Kata orang penelitian IPB Bogor. Aku percaya saja.  Aku ikut nenek pergi bawa gabah padi ke mesin penyosohan milik orang kaya. Mesin ini penelitian Universitas Brawijaya katanya. Sekali lagi aku percaya saja. Orang-orang pintar mengitung laba. Kegiatan ekonomi seperti nenekku itu  konon untungnya 15 %. Kemudian kudengar bisik-bisik seperti itulah Bank Dunia.
Sebelas tahun nenekku terkapar. Akhirnya nenekku berpulang pada tahun 1996. Setelah aku dan adikku yang perempuan lulus perguruan tinggi. Nenekku di-aben secara sederhana. Itupun pinjam uang sana-sini.Pertama kali kulihat pendeta  Hindu Bali dari kalangan tertentu. Kelihatan bukan pendeta biasa yang memimpin upacara pembakaran jenazah nenekku.
Ni Nengah Mukia, nenekku telah pergi. Kukenang sebagai perempuan yang ulet berjuang untuk menghidupi keluarga. Kami sekeluarga hidup dari harta peninggalan nenekku yang tuna aksara itu. (Red.HP)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

one × 2 =