Berantas Gagap IT Di Pedesaan Pemalang

0
166
Ilustrasi, upaya anak desa keluar dari Gagap IT

Opini Mahasiswa

Oleh : Lutfi Aminuddin
Ketua Divisi Reseach Skandivaian Corner Club Surakarta,
Pengurus Aktif di Forum Pemalang Haritage.

Pemalang, Harian Pemalang – Apa yang telah dilakukan oleh Puspindes, dalam menyelenggarakan perlombaan pembuatan website desa-desa di Pemalang merupakan sebuah ide yang brilian. Upaya Puspindes dalam mewujudkan suatu tatanan masyarakat Pemalang yang “melek teknologi” harus menjadi program berkesinambungan, jika kehidupan masyarakat Pemalang ingin maju. Kemajuan suatu tatanan masyarakat memang selalu diawali dengan penguasaan teknologi. Tengoklah peradaban-peradaban kuno, kemajuan peradaban itu selalu diawali dengan keniatan besar elemen masyarakatnya yang “jor-joran” terhadap pengembangan teknologi.

Hal ini dibenarkan dengan peristiwa Revolusi Industri Inggris pada akhor abad ke 18 yang membuat banyak negara-negara Eropa maju. Titik awal Revolusi Industri Ingris kala itu ditandai dengan “penemuan teknologi” mesin uap oleh James Cock. Teknologi yang revolusioner ini kemudian yang membuat ledakan ekonomi Inggris menjadi maju pesat, dengan pusat industrinya di kota Birmingham.

Demikian juga yang terjadi dengan Finlandia. Finland tiba-tiba saja merangsak menjadi negara yang memiliki kualitas pendidikan nomer wahid sedunia pada awal dekade sembilan puluhan, setelah kemunculan korporasi Nokia yang bergerak di bidang mobile teknologi (telephone genggam). Setelah sebelumnya Nokia bergerak dalam bidang pengolahan pertanian karet yang dianggap menghasilkan “ekonomi loyo”. Sementara, ketersediaan bahan baku pertanian karet yang semakin langka di Finlandia mau tak mau membuat korpprasi Nokia “banting stir” ke industri teknologi.

Setelah Nokia beralih kesektor mobile teknologi. Keajaiban ekonomi datang tiba-tiba, bahkan menurut Mentri Keuangan Finlandia Alexander Stu, tak tanggung-tanggung Nokia berhasil menyumbangkan ke kas negara seperempat dari total pendapatan negara. Adanya surplus ekonomi ini yang kemudian membuat instansi pendidikan di Finlandia mengalami peningkatan anggaran. Sarana prasarana proses pendidikan dibangun, sementara guru digaji tinggi. Tak berlangsung lama, Finland lalu menyalip kualitas pendidkan negara lain diperingkat satu. Namun, belakangan pendidikan Finlandia mulai “kelabakan”, semenjak kedigdayaan Nokia mulai pudar dan mandegnya pengembangan industri teknologi lainya.

Hal serupa juga terjadi di Indonesia. Turunya kekuasaan Presiden Soeharto tahun 1998 meninggalkan “lubang menganga”. Ekonomi Indonesia terdepresiasi, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar merosot sangat tajam. Presiden Habibi yang hadir menggantikan kekuasaan Soeharto datang membawa solusi yang brilian. Habibi berhasil mengatasi krisis ekonomi Indonesia kala itu lewat komitmenya berfokus pada Industri Teknologi. PT Dirgantara yang menghasilkan produk pesawat terbang yang sangat laku di pasaran, dan PT Pindad yang menghasilkan produk alutsista berkualitas super ini kemudian yang membuat pendapatan negara meningkat. Habibi sendiri pernah bilang bahwa bisnis teknologi untungnya beratus-ratus kalilipat dibandingkan industri pertanian konvensional.

Masyarakat Pemalang sendiri harus menyadari bahwa jantung ekonomi itu penguasaan teknologi, berapa banyak korban berjatuhan yang ditinggalkan zaman karena digantikan oleh teknologi lain yang lebih baru dan canggih, seperti halnya radio yang telah diacuhkan lalu digantikan televisi. Ataupun ojek konvensional yang mulai disingkirkan oleh ojek online. Jelasnya, teknologi adalah suatu penggerak peradaban. Mau mati meninggalkan teknologi, atau mau ingin tetap hidup beratus tahun dengan menguasai teknologi.

Brantas Gagap Teknologi di Desa-Desa Pemalang

Perlombaan pembuatan website desa yang diselenggarakan Puspindes tujuanya sangat jelas, yaitu tercapainya pemerintahan desa yang transparan, akuntabel, cepat, educated, dan membuat melek teknologi. Website desa sebagai media penyampaian informasi harus dimanfaatkan secara maksimal. Jangan sampai, setelah hingar-bingar perlombaan pembuatan website desa ini selesai, lalu kemudian tak terurus. Saya lihat banyak website desa pada perlombaan pertama yang kolom sejarah desanya tidak diisi. dan juga minim akan publikasi program desa.

Padahal, spirit Pemalang Pusere Jawa, yang merupakan sublimasi dari rekonstruksi Pemalang sebagai pusat sejarah kota yang tua di Jawa, tentunya harus memperkuat bukti sejarah itu dengan penyusunan narasi sejarah di kawasan lokal (pedesaan). Website desa yang minim akan publikasi program kerja juga terbilang fatal, karena bisa menimbulkan kecurigaan masyarakat. Website desa diharapakan mampu mewujudkan transparansi pemerintahan desa yang Good Governance, maka harus jelas publikasi anggarannya. Maka saya kira, website desa lebih baik dibuat terbuka. Masyarakat perlu dilibatkan, untuk mengisi konten website desa masing-masing dengan menjadikanya panel admin (anggota). Baik dilibatkan untuk mengisi kolom sejarah, ekonomi, promosi produk desa, opini, maupun kritik dan saran yang bisa di sampikan lewat tim redaksi website desa.

Sebagai upaya untuk tercapainya masyarakat yang melek teknologi, website desa juga dapat dimanfaatkan untuk efesiensi birokrasi sistem online, misalnya pengajuan surat keterangan pembuatan E-KTP, pembuatan sertifikat tanah, pengurusan akte kelahiran, surat perizinan usaha, dlsb yang dilayani secara online. Dengan adanya Undang-Undang Desa No 6 Tahun 2014. Pemerintah Desa dapat mereformasi tatanan desa yang tidak efisien menjadi lebih efisien.

Walaupun belum terdapat satupun birokrasi desa di Pemalang yang menggunakan sistem online. Namun, saya yakin seiring dengan pesatnya perkembangan dunia digital, bukan tak mungkin sistem seperti ini akan terwujud. Pada akhirnya, perlombaan pembuatan website desa ini bertujuan supaya masyarakat desa bisa melek teknologi dan sadar bahwa teknologi sangat diperlukan. Harapanya, setelah adanya website desa ini, masyarakat desa akan terpacu untuk menguasai teknologi maupun menghadirkan teknologi lainya di pedesaan yang tidak hanya website. Tetapi teknologi lain yang bisa mendatangkan kemajuan desa. Ingat, kita mau mati meninggalkan teknologi, atau mau ingin tetap hidup beratus tahun dengan menguasai teknologi. (Red.HP)

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

8 − four =