Sastra Kaum Santri Harus Dihidupkan Kembali

0
95
astra yang lahir dari kalangan pondok pesantren harus dihidupkan dan digerakkan kembali. Sebab, sejak beberapa tahun ini kaum santri minim yang menggeluti sastra, baik itu ilmu sastra maupun karya sastra.
Demak, Harian Pemalang  – Sastra yang lahir dari kalangan pondok pesantren harus dihidupkan dan digerakkan kembali. Sebab, sejak beberapa tahun ini kaum santri minim yang menggeluti sastra, baik itu ilmu sastra maupun karya sastra.
Hal itu diungkapkan Hamidulloh Ibda penulis buku “Sing Penting NUlis Terus (Panduan Praktis Menulis Artikel dan Esai di Koran)” dalam Tadarus Buku dan Training Jurnalistik pada Jumat (15/8/2017) di musala Ponpes Al-anwar Suburan, Mranggen, Demak.
“Kalau berbicara sastra wilayah cuma dua, yaitu ilmu sastra dan karya sastra. Kalau ilmu sastra, bisa dibaca sendiri di buku-buku sastra dan kalau karya sastra ya minimal dimulai dari kegiatan seperti ini,” beber Hamidulloh Ibda di hadapan ratusan santri Ponpes Al-anwar Suburan, Mranggen, Demak. Dosen STAINU Temanggung itu menuturkan, bahwa selama ini masih sedikit santri atau kalangan NU yang fokus di sastra dan menggerakkannya di pesantren.
“Selama ini kita paling mengenal D. Zawawi Imron, Mustofa Bisri (Gus Mus), Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) dan Kang Abik atau Habiburrahman El Shirazy yang juga alumni Pondok sini (Al-anwar),” lanjut dia.
Padahal, kata dia, banyak ide-ide yang bisa dikemas santri menjadi bahasa puisi maupun cerpen. “Masalah kiriman telat, salat jemaah di masjid, problem ngaji, ngapalke, itu semua bisa jadi inspirasi untuk menulis karya sastra,” beber alumnus Ponpes Mamba’ul Huda Kembang, Pati tersebut.
Ia menuturkan, untuk menulis puisi, sebenarnya mudah dan murah. “Teorinya cuma dua, yaitu reseptif dan ekpresif. Reseptif itu input, dan kalau ekspresif itu output. Reseptif itu ya ketika Anda mendapatkan ide, saat marah, galau, gembira, lalu luapkan lewat kata-kata, itu namanya ekspresif,” lanjut alumnus magister Pendidikan Bahasa Indonesia Prodi Pendidikan Dasar Pascasarjana Unnes itu.
Kalau mau hebat lagi, kata dia, coba nanti baca Alquran, kitab Diba’, kitab Jalalain, yang kesemunya kalau diamati bahasanya itu indah. “Anta syamsun, anta badrun, antu nurun fauqa nurin, itu semua kan indah maknanya. Jadi, perkaderan sastra itu justru harus dimulai dari pesantren karena dekat dengan kitab dan kajian-kajian Islam,” beber dia.
Selain itu, semua peserta juga dipraktikkan menulis puisi sederhana yang diawali dengan pembacaan puisi karya Hamidulloh Ibda bertajuk “Membuka Galaksi Cinta” sebagai contoh puisi kepada peserta.
Ia juga memprovokasi peserta untuk mengikuti jejak alumnus Ponpes Al-anwar yaitu Habiburrahman El-shirazy. “Kang Abik bisa menjadi novelis kondang, Anda harus bisa meneruskan warisan itu,” tegas dia. (Red.HP/Lazim).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

one × 5 =