Manakah Jalan Kita? Idealisme Titipan Atau Sungguhan

0
130
Foto ilustrasi dari salah satu aktivis mahasiswa

Opini Mahasiswa 
Oleh: Baqi Maulana Rizqi
(Mahasiswa Universitas Peradaban Bumiayu)

Pemalang, Harian Pemalang – Diawali dengan trend pemuda revolusioner yang dengan semangatnya membawa bendera masing-masing baik organisasi kemasyarakatan, mahasiswa, pelajar dan yang mengatasnamakan organisasi perjuangan. Dari kesemuannya bisa dengan gampang berargumen khas dengan ideologi yang di pilihnya, dari mulai kader oerganisasi yang memahami ideologi dengan sebenarnya juga yang memahami dengan semampunya.
Dari yang sebenarnya pastilah melahirkan kesadaran dalam gerak yang idelalis karena dengan cara (metode) yang benar dalam mencari kebenaran pasti melahirkan kebenaran pula (bisa dilihat di NDP HmI Bab 1 tentang dasar-dasar kepercayaan karya monumental Prof Nurcholis Madjid yang pernah menduduki ketua umum PBHMI), dan yang kedua yang memahami dengan semampunya bisa dibahasakan dengan proposional, ini menjadi salah satu paradoks yang cukup rumit untuk di bahasakan, karena kemampuan manusia (kader organisasi) nya yang relatif berbeda menurut asal kejadian, tempat, suku, daerah, dan semangat berkelompok yang sedang dijalaninya. Juga bisa melahirkan kebergaman pula dalam argumen dan pengaplikasian ideology-organisasi yang dimasukinya sesuai asal kejadian (lingkungan) kader tersebut.

Rentetan sejarah yang terjadi di bangsa kita sudah cukup jelas mengambarkan/ mengilustrasikan bagaimana kehidupan yang dijalani para pendahulu kita dengan aktivitas perjuangan, pergerakan serta pengkondisian hidup untuk menuju kedamaian, keamanan bagi masyarakat khusunya, mulai dari itu lahirlah tokoh dari yang nasional sampai dengan daerah. Kita bisa aminkan bahwa K.H. Hasyim Asyari, Amad Dahlan, Haji Samanhudi, Soekarno, Hatta, Buya Hamka, Jendral Soedirman dan sederet nama-nama yang muncul sebab aktivitas mereka yang memilih menjadi aktivis dengan ideoligi sungguhan. Dari itu sebetulnya bisa dijadikan hikmah (pelajaran) yang bisa menjadi stimulus dalam mengidealkan pemuda sekarang, tentu tokoh-tokoh tersebut mengambil jalur idealisme dengan sebenarnya dengan kenyatan bahwa kontribusi mereka sampai pada sekarang bisa dijadikan manfaat untuk penerus/generasi penikmat (pragmatis) sebab masa sekarang pemuda jauh lebih tertarik memilih apatis dan pragmatis karena menjadi hak mereka untuk amnesia pada sejarah dan hikmanya.
Keberagaman jika dilihat dari kacamata islam bisa dikatakan adalah bagian dari sunatullah (Ketetapan Tuhan), ini menjadi wilayah dan kehendak sang khalik (pencipta) manusia tidak bisa berkehendak jika tidak sesuai dengan kehendak tuhan yang sebagian orang menyebutkan ridho-allah (ridha Tuhan), dari kebergaman poin yang bisa diajukan adalah kita hanya ditugaskan (kholifah fil ard/pemimpin di bumi nusantara) untuk memahkan dari keberagaman tersebut untuk saling memahami tentu dalam wilayah nusantara sebab perbaikan ditubuh nusantara perlu berkesinambungan setelah itu bisa melebarkan sayap sampai jagat raya.

Menjadi kepantasan dengan melakukan pembicaraan dengan hati dan literasi sebab manusia dibekali akal dan hati ini bisa jadi efektif dalam proses untuk mencapai kedamaian dan kemanan, tidak dengan cara-cara reaksinor/saling menghujat antar kader organisasi.
Kembali lagi pada proposional dalam idelalisme yang mudah dijadikan pembelaan dalam setiap pola penkaderannya, sebab jika kader dengan gampangnya dan melalaikan pentingnya metodoligi yang sistematis untuk dijadikan syarat dalam pengkaderaan mudahlah menghasilkan premis yang sempit, jika ini dijadikan landasan dalam bergerak jadilah para kader organisasi yang arogan rasa reaksioner tanpa diimbangi dengan kearifan, filsafat bukan lagi alat untuk mencapai kemaslahatan sebagimana yang diajarkan oleh filsuf ternama seperti Platon, Aritoteles, Deskrates, Ibnu Rusd dan filsuf lainnya yang secara pemahaman dan pengamalan memberikikan hikmah (kearifan).

Dari idelaisme semampunya membuka peluang dimanfaatkan oleh manusia-ploitik (senioritas yang amnesia) yang dengan kecerdikannya dalam menganalisi kondisi sosial, melahirkan idealisme titipan entah titipan senioritas atau bahkan organisasi yang menyediakan jasa penitipan aspirasi sesuai kepentingan personalnya. Pencampur-adukan antara kemaslahatan umum dan pribadi menjadi sebeb gagalnya dengan begitu akal tak lagi berfungsi karena hati kadung diakal-akali.
Dengan begitu antara idelalisme sungguhan dan titipan menjadi pilihan dalam hidup berorganisasi baik formal maupun non formal.

Semoga kita tidak betah dalam ketidaktahuan (Red.HP)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

9 + eight =