Usai MAPABA, Kader PMII Trisula Diwajibkan Melek Literasi Media

0
78
MAPABA PMII di balai Desa Kemloko, Kranggan, Temanggung
Temanggung, Harian Pemalang  –  Ahmad Liwaul Khakim Ketua Umum Pengurus Cabang PMII Temanggung dalam acara Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA) PMII Komisariat Trisula STAINU Temanggung, menegaskan bahwa tantangan zaman yang semakin kompleks, mengharuskan semua kader PMII melek literasi digital. Sebab, jika tidak melek literasi, semua mahasiswa termasuk kader PMII akan menjadi korban berita hoax dan fake.
Hal itu ia ungkapkan saat MAPABA PMII di balai Desa Kemloko, Kranggan, Temanggung, kemarin. Menurutnya, sebagai mahasiswa, sudah sepantasnya siap memasuki segala medan, maka MAPABA menemui relevansi yang kuat dalam konteks ini.
“Tantangan kita sekarang tidak hanya faham dan aliran radikal yang digerakkan dalam bentuk nyata. Namun semua itu sudah bergesera di internet. Banyak grup, akun dan juga media-media daring mengatasnamakan NU, Banom NU dan juga Lembaga di bawah NU. Maka kalau tidak melek media, kita akan tergerus pada penjajah di negeri yang mengklaim dirinya golongan Ahlussunnah Waljamaah,” tegas dia.
Ia berharap, kader PMII di wilayah Temanggung melek media dengan cara penguatan literasi. Bisa melalui training, diklat, atau belajar otodidak dan bersinergi dengan LTN NU yang fokus di masalah media.
Sementara itu, M Fuad Latif Ketua Umum Komisariat PMII Trisula STAINU Temanggung, menegaskan bahwa dalam pencapaian target ini Pengurus Komisariat PMII Trisula sudah menyiapkan beberapa agenda kerja yang tentunya mengarah pada beberapa aspek pengkaderan.
Pendidikan jurnalistik menjadi salah satu agenda terdekat. Semua mafhum jika penguasaan media merupakan bagian strategis dalam menyebarkan virus perubahan.
“Kami ingin menindaklanjuti rekomendasi yang disampaikan dalam forum Pra MAPABA dan juga masukan dari beberapa mahasiswa baru yang sudah mulai melek terhadap pentingnya penguasaan media, baik media internet maupun media cetak,” beber dia.
Selain itu budaya penguatan wacana juga menjadi keharusan untuk segera dilakukan. Forum-forum diskusi kecil perlu di tingkatkan intensitasnya. Tak bisa dipungkiri bahwa kegiatan-kegiatan seperti itu masih menjadi kebutuhan pokok dalam menghidupkan nuansa akademis di kampus.
“Tak ada kamus dalam diri mahasiswa STAINU Temanggung untuk menyatakan tidak dalam kerja-kerja komunal yang membutuhkan interaksi sosial antar manusia. Mahasiswa harus siap menyambut tongkat estafet pembangunan yang sewaktu-waktu diberikan generasi tua”, lanjut mahasiswa Prodi PAI Semester VII ini.
Selanjutnya, dia berharap bahwa agenda besar ini mendapat sambutan yang berarti dari semua unsur yang terkait dengan baik. Apalagi jika melihat saat ini STAINU Temanggung mempunyai dosen-dosen baru yang masih energik dan mempunyai idealisme yang tinggi terhadap keberlangsungan pendidikan tinggi di Kabupaten Temanggung. (Red.HP /Ibda).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

five + 20 =