STAINU Temanggung Konsisten Terapkan Pendidikan Pesantren

0
71
STAINU Temanggung, Jawa Tengah, satu-satunya sekolah tinggi di Temanggung ini tumbuh dan berkembang dengan membawa corak pesantren dalam sistem perkuliahan dan kegiatan sehari-hari di luar kuliah.
 Temanggung, Harian Pemalang  – Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Sifat genetik pohon secara alamiah akan diturunkan kepada buahnya. Hal itulah yang terlihat khas dan unik di STAINU Temanggung, Jawa Tengah, satu-satunya sekolah tinggi di Temanggung ini tumbuh dan berkembang dengan membawa corak pesantren dalam sistem perkuliahan dan kegiatan sehari-hari di luar kuliah. Hal ini tentu tidak mengherankan, mengingat bahwa Temanggung sangat lekat dengan tradisi pesantren. 
Salah satu tradisi unik di STAINU Temanggung yang amat jarang ditemui di kampus-kampus lain adalah tradisi literasi dengan menggunakan kitab kuning, kitab wajib para santri di pesantren.
Kitab kuning tidak hanya unik dari tulisan arabnya yang gundul tanpa harakat, namun juga karena tradisi membacanya yang khas menggunakan bahasa Jawa utawi iki iku. Menjadi pemandangan biasa dalam perkuliahan dan diskusi, dosen maupun mahasiswa mendasarkan pendapat mereka dengan menggunakan kitab kuning lengkap dengan terjemah Jawanya.
Dosen Ekonomi Syariah STAINU Temanggung, Najib, mengatakan bahwa referensi kitab gundul dalam perkuliahan di STAINU Temanggung itu sudah menjadi kebiasaan, tentu tanpa mengesampingkan referensi-referensi utama lain dari buku-buku kontemporer.
“Hal ini tidak terlepas dari para pengajar dan mahasiswanya yang berlatar belakang pesantren, ada yang nyambi ngajar, atau masih nyantri di pesantren di sekitar kampus STAINU Temanggung,” ujar dia, Sabtu (14/10/2017).
Ditambahkan pula olehnya, makna tersembunyi unik dibalik cara membaca kitab kuning. “Membaca kitab kuning dengan menggunakan utawi iki iku itu unik. Selain dapat mengetahui langsung kedudukan gramatikal masing-masing kata, penggunaan bahasa Jawa krama memberikan kesan kesantunan dalam menerjemahkan kitab kuning,” beber dia.
Tidak hanya tradisi literasi pesantren, adat kebiasaan pesantren pun menjadi pemandangan lumrah di kampus, memakai peci, doa-doa ala pesantren dalam berbagai acara kampus, serta tak ketinggalan kebiasaan mencium tangan oleh mahasiswa kepada dosennya. Menjadi peraturan tak tertulis, tradisi mencium tangan ini akan selalu dijumpai sebelum dan sesudah perkuliahan.
Bahkan, bukan menjadi hal yang aneh saat seorang satpam atau tukang kebun dicium tangannya oleh dosen muda dengan alasan menghormati yang lebih tua. Hal ini merupakan wujud nyata aplikasi penghormatan nilai-nilai moral. Bukan soal siapa yang lebih terhormat, melainkan soal sikap saling rendah hati, berlomba untuk menjadi yang lebih dulu memberi penghormatan.
Menurut dia, tidak dapat dipungkiri wacana pendidikan karakter menemui kebuntuan realisasi, kebuntuan target dan pelaksanaan terukur. Tidak dapat dipungkiri pula keluhuran ilmu pengetahuan yang tercermin dalam kedewasaan bersikap telah luntur keluhurannya. Ilmu pengetahuan ditampakkan dalam makna sempit sebagai kekayaan wacana semata.
“Membudayakan tradisi pesantren di kampus merupakan wujud nyata realisasi pendidikan karakter. Membudayakan tradisi pesantren di kampus STAINU Temanggung selaras dengan visi STAINU Temanggung dalam membentuk sumber daya manusia yang memiliki keselarasan antara cita, rasa, karsa, dan keimanan, generasi dengan kepribadian lengkap baik dari segi keilmuan dan moralitas,” beber dia.’
Generasi-generasi dengan kelengkapan keilmuan dan kesantunan laku, kata Najib, tentu amat dibutuhkan bangsa Indonesia saat ini yang sedang dalam ujian besar darurat moral. Oleh karena itu, STAINU Temanggung meski statusnya berkembang tetap konsisten menerapkan pola dan corak kampus berbasis pondok pesantren. (Red.HP /Hus).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

six + six =