‘Sang Parikesit’ Digelar GSNI Pemalang

0
84
Gelaran wayang kulit semalam suntuk dengan lakon sang Parikesit di halaman SMK Amanah Husada, Pemalang

Pemalang,Harian Pemalang – Gerakan Siswa Nasional Indonesia (GSNI) Pemalang dalam rangka memperingati hari sumpah pemuda menggelar pertunjukan wayang kulit semalam suntuk. Mengambil lakon “Sang Parikesit” dengan dalang kondang ki Sindhunata dari semarang dan ki Dr. HC. Sutarko Hadiwacono dari Purworejo, di halaman sekolah SMK Amanah Husada, Sabtu (28/10/2017).

Acara tentang “Nguri-nguri budaya” atau menghidupkan kembali budaya ini muncul atas kegelisahan anak-anak GSNI Pemalang yang merupakan generasi penerus bangsa. Dilatarbelakangi fenomena anak muda sekarang yang kurang mengenal dengan akar budaya bangsa sendiri maka gagasan itu pun didiskusikan dengan pembina GSNI untuk mengadakan pagelaran wayang kulit.

Gelaran yang diprakarsai dan dimotori anak muda yang bergabung dalam GSNI ini juga dihadiri oleh staf khusus gubernur Jawa Tengah Ripana Puntarasa.

Dalam sambutanya Ripana, sangat mengapresiasi kegiatan ini, karena di era globalisasi hampir mayoritas pemuda lebih mengenal teknologi kekinian daripada budaya bangsa Indonesia.

“Seperti sekarang anak muda kurang mengenal budaya sendiri, maka dengan pagelaran wayang kulit ini diharapkan para pemuda di seantero Indonesia bisa memiliki kepribadian dalam bidang kebudayaan karena budaya untuk kalangan pemuda sangat diperlukan,” tuturnya.

Selian itu, Slamet riyadi, SH. SHI, salah satu panitia penyelenggara juga membacakan sinopsis ‘Sang Parikesit’. Diceritakan beberapa tokoh dalam kehidupan pewayangan seperti halnya parikesit, tokoh muda, penerus pandawa dsb.

“Inilah yang dinamakan parikesit, yang membuat dunia hitam bergejolak dan selalu menyebarkan isu yang menyesatkan, membuat suasana gaduh dan agar antar saudara bisa saling curiga satu sama lain. Melalui proses pendadaran, reposisi dan regenerasi yang dipersiapkan secara matang oleh para leluhur, jadilah parikesit, raja di astina pura dengan gelar prabu kresnadipayana. Banyak rintangan dan godaan yang dihadapi. Karena parikesit selalu memegang teguh ajaran kautamaning prabu, maka semua hambatan bisa diselesaikan secara elegan. Sura dira jayaningrat lebur dening pangestuti,” ungkapnya.

Acara yang dimulai pukul 19.00 WIB dengan dibuka oleh pra acara tarian, teater Asada dan seni tari sesonderan. Serta dihadiri oleh seluruh siswa-siswi se-Kabupaten Pemalang. (Red.HP/admin)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

five × 5 =