Mengungkap Sejarah Perbatasan Kerajaan Padjajaran dan Majapahit di Pemalang (PKM UPGRIS 2018)

0
323

Pemalang – Program kreativitas mahasiswa yang diadakan oleh kemristekdikti tahun 2017/2018 dilaksanakan di seluruh perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia.

Begitu juga dengan Universitas PGRI Semarang, salah satu perguruan tinggi yang aktif setiap tahun meloloskan PKM-nya di ajang tertinggi antar mahasiswa se-Indonesia. Pada tahun 2017 setidaknya Universitas PGRI Semarang mampu meloloskan 14 tim PKM yang didanai oleh kemristekdikti dan dari 14 tim PKM tersebut mempunyai banyak jenis program di antaranya bidang penelitian, kewirausahaan, pengabdian masyarakat, teknologi, dan karya cipta.

Salah satu tim yang lolos adalah tim PKM-PSH yang beranggotakan Hadi Anggoro, Andy Prasetyo, dan Rizka Ma’rifatul Fitri yang semuanya merupakan mahasiswa dari fakultas pendidikan bahasa dan seni Universitas PGRI Semarang. PKM-PSH merupakan jenis program penelitian yang memfokuskan pada bidang penelitian social humaniora, dalam hal ini adalah budaya.

Judul dari penelitian yang dilakukan adalah mengenai ekspedisi kebudayaan masyarakat jejak peninggalan perbatasan kerajaan Padjajaran Majapahit sebagai daerah potensi wisata di Desa Longkeyang, Kecamatan Bodeh Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah.

Penelitian yang dilaksanakan pada tanggal 22-27 Juni 2018 mengungkap sejarah jejak perbatasan kerajaan Padjajaran Majapahit yang berupa hasil fosil, budaya, bahasa, dan asal usul terbentuknya daerah.

Dari hasil penelitian tim menyebutkan bahwa Desa Longkeyang merupakan salah satu desa yang terletak ditengah Pulau Jawa ini secara geografis dan secara budaya, desa ini merupakan pertemuan atau percampuran dari dua budaya besar pada zamannya yaitu Sunda dan Jawa, sehingga secara budaya, desa ini memiliki asal usul yang terbentuk dari dua sejarah yang berbeda, hal tersebut dapat dibuktikan dengan asal usul nama-nama desa, fosil dan benda peninggalan, jejak petilasan, bahasa, dan budaya.

Nama Desa Longkeyang sebenarnya adalah berasal dari bahasa Sunda, namun secara bahasa dan budaya menggunakan budaya Jawa, hal tersebut membuktikan bahwa percampuran budaya sangatlah jelas, begitu juga dengan nama desa disekitarnya di antaranya Desa Bodas, Desa Cikadu, Desa Sarangkadu, Desa Pagelaran, dan Desa Medayu yang merupakan berasal dari bahasa Sunda.

Benda-benda jejak peninggalan yang telah ditemukan diantaranya adalah candi, jejak tapak bima, batu zaman kerajaan, keris dan alat pada zaman kerajaan. Selain benda-benda peninggalan, di Desa Longkeyang mempunyai kepercayaan hingga sampai saat ini yaitu adanya manusia Padjajaran yang menyerupai harimau sebagai jelmaan dari sosok prajurit Padjajaran yang pada saat perang kerajaan masih selamat dan melarikan diri ke dalam hutan.

Warga Desa Longkeyang, Kecamatan Bodeh sampai saat ini kadang masih menjumpai makhluk tersebut dengan bentuk yang berbeda, namun menurut warga sekitar makhluk tersebut mempunyai aroma dan bau yang khas.

Selain jejak dan budaya, Desa Longkeyang yang merupakan secara geografis daerah pegunungan mempunyai potensi wisata yang sangat bagus, salah satu potensi wisata yang bisa menjadi rujukan adalah wisata camping, flyng fox, dan panorama pegunungan sunset dan sunrise dan hal ini perlu adanya penanganan dan campur tangan pemerintah yang cukup.

Oleh : Hadi Anggoro, Andy Prasetyo, dan Rizka Ma’rifatul Fitri Mahasiswa dari Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang(Joko Longkeyang)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

9 − two =