
Jakarta – Dharma, pemilik kafe yang namanya mencuat dalam isu dugaan dukungan politik berbasis KTP, baru-baru ini memberikan klarifikasi terkait hubungannya dengan salah satu putra Anies Baswedan, mantan Gubernur DKI Jakarta. Dalam pernyataannya, Dharma membantah tudingan bahwa kafe yang ia kelola digunakan sebagai tempat untuk menggalang dukungan politik, khususnya terkait dengan dukungan KTP yang sedang ramai diperbincangkan.
Isu ini pertama kali mencuat setelah beredar laporan bahwa beberapa kafe di Jakarta, termasuk milik Dharma, digunakan untuk mengumpulkan fotokopi KTP dari pengunjung sebagai bentuk dukungan politik. Isu ini kemudian semakin memanas setelah putra Anies Baswedan disebut-sebut sering mengunjungi kafe tersebut, memicu spekulasi bahwa ada keterkaitan antara keluarga Anies dan dukungan politik yang diorganisir melalui kafe-kafe tersebut.
Tanggapan Dharma terhadap Tuduhan
Dharma, dalam sebuah wawancara eksklusif yang digelar di kafe miliknya, secara tegas membantah segala tuduhan terkait pengumpulan KTP sebagai bentuk dukungan politik. “Ini adalah kafe yang terbuka untuk siapa saja. Siapa pun bisa datang, duduk, minum kopi, dan bersantai. Tidak ada aktivitas politik di sini, apalagi menggalang dukungan KTP,” ujar Dharma.
Dharma juga menekankan bahwa kafe miliknya hanya berfungsi sebagai tempat bersantai bagi masyarakat dan tidak terlibat dalam kegiatan politik apa pun. “Kami hanya menyediakan tempat bagi orang-orang untuk berkumpul dan menikmati kopi, bukan tempat untuk mengumpulkan dukungan politik. Semua tuduhan ini tidak berdasar,” tambahnya.
Putra Anies Sering Berkunjung ke Kafe
Terkait dengan isu kehadiran putra Anies Baswedan, Dharma mengakui bahwa salah satu putra Anies memang sering mengunjungi kafenya. “Betul, putra Pak Anies memang sering datang ke sini, tapi seperti pengunjung lainnya, dia datang hanya untuk menikmati suasana dan kopi kami. Tidak ada kaitan dengan politik,” jelas Dharma.
Ia juga menambahkan bahwa kunjungan tersebut murni bersifat pribadi dan tidak ada hubungan dengan kegiatan politik. “Putra Pak Anies datang ke sini sebagai pengunjung biasa. Kami menyambut siapa saja, dan semua orang diperlakukan sama,” ujar Dharma. Menurutnya, kehadiran putra Anies di kafenya tidak dapat dijadikan dasar untuk menuduh adanya keterlibatan politik, karena banyak tokoh publik dan selebritas juga sering berkunjung ke kafenya.
Isu Penggalangan Dukungan KTP
Isu mengenai pengumpulan KTP sebagai bentuk dukungan politik telah menjadi perhatian luas di kalangan masyarakat. Beberapa pihak menuduh bahwa fotokopi KTP digunakan untuk kepentingan politik tertentu, termasuk untuk pendaftaran pemilih atau bahkan untuk memberikan dukungan fiktif terhadap calon tertentu. Meski demikian, tidak ada bukti konkret yang mengaitkan kafe milik Dharma dengan aktivitas semacam itu.
Menurut Dharma, tuduhan-tuduhan ini tidak hanya merugikan bisnisnya, tetapi juga dapat menciptakan kesalahpahaman di tengah masyarakat. “Kami menjalankan bisnis dengan transparan. Tidak ada aktivitas ilegal atau berbau politik di sini. Semua pelanggan kami diperlakukan dengan hormat, dan kami menjaga agar tempat ini tetap menjadi ruang netral bagi siapa pun,” ungkapnya.
Respon dari Pihak Anies Baswedan
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Anies Baswedan terkait tuduhan tersebut. Namun, beberapa sumber yang dekat dengan keluarga Anies menyebutkan bahwa tuduhan ini sepenuhnya tidak berdasar dan murni merupakan hasil spekulasi yang tidak memiliki bukti kuat. Keluarga Anies dikabarkan hanya mengetahui kafe Dharma sebagai tempat nongkrong favorit putra mereka, tanpa ada keterlibatan politik apa pun.
Sejumlah pengamat politik menilai bahwa isu ini merupakan bagian dari upaya untuk menyeret nama Anies Baswedan dalam pusaran kontroversi, mengingat popularitasnya yang terus meningkat menjelang pemilihan presiden mendatang. Namun, tanpa adanya bukti yang jelas, isu ini dianggap hanya sebagai bentuk kampanye negatif yang tidak memiliki dasar hukum.
Dharma Minta Masyarakat Tidak Termakan Isu
Dharma, di akhir wawancara, mengimbau masyarakat untuk tidak mudah percaya pada berita yang tidak memiliki bukti kuat. “Kami berharap agar masyarakat tidak cepat percaya dengan isu-isu seperti ini. Sebaiknya periksa kembali kebenarannya sebelum membuat kesimpulan,” ujarnya. Ia juga menegaskan bahwa bisnisnya akan tetap berjalan seperti biasa dan akan selalu menjunjung tinggi prinsip-prinsip keterbukaan dan netralitas.
“Ini adalah tempat untuk semua orang. Kami tidak ingin kafe ini dikaitkan dengan politik atau isu-isu kontroversial lainnya. Fokus kami adalah menyajikan kopi terbaik dan memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi para pelanggan,” pungkas Dharma.
Kesimpulan Sementara
Meski demikian, hingga kini belum ada perkembangan lebih lanjut terkait tuduhan penggalangan KTP di kafe Dharma. Sejumlah pihak meminta agar dilakukan investigasi mendalam untuk memastikan kebenaran dari isu tersebut, meskipun sejauh ini belum ada bukti kuat yang mendukung tuduhan tersebut. Pemerintah dan pihak berwenang diharapkan dapat menindaklanjuti hal ini dengan cermat, agar tidak terjadi fitnah atau kesalahpahaman yang merugikan.